Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Dari Kereta sampai Bang Meggy

Senin, 04 Oktober 2010

5 komentar

Saya baru pulang dari luar kota, dengan harapan ingin cepat sampai dan sayangnya tidak ada  jadwal penerbangan ke tempat tujuan saya pada hari itu, jadilah saya naik kereta. Tawa si kei, pegangan tangannya, suara-suara lucunya kala kegirangan sudah memenuhi hati dan kepala ini. Ya, cuma tinggal beberapa jam lagi saya akan bisa memeluk dia. Melepaskan kerinduan setelah tidak bertemu beberapa hari ini. Fuuh, setelah stasiun ini akan ada satu stasiun lagi lalu stasiun yang saya tuju. Duduk saya makin tak enak. Sudah tak sabar ingin cepat sampai. Senyumpun sedari tadi mengembang lebar. Bahkan sempat-sempatnya saya senyumi Bapak keamanan kereta yang membawa senjata laras panjang. Senyum yang sangat manis, bikin dia jadi bingung. Kei, bunda pulang nak. DARRR!!!!! 


Kenapa ribut sekali suara diluar sana? Kenapa semuanya gelap? mendadak hati ini pedih, seperti rasa kehilangan. 

"Satu orang lagi korban tewas yang telah berhasil dievakuasi dari badan gerbong yang hampir terbelah dua"


Saya  merinding lalu nangis bombay setelah membuat cerita diatas dalam kepala saya. Ngeri. Ketakutan terbesar saya dalam hidup setelah punya anak adalah takut tidak bisa bersamanya saat ia tumbuh. Makanya ketika tadi pagi baca  koran tentang tabrakan kereta di petarukan, otak lebay saya langsung bekerja, "bagaimana jika saya ada di gerbong itu?". Saya keburu mati tanpa sempat mengucapkan apapun pada si kei. Tanpa sempat membuat delapan surat yang akan si kei baca satu persatu setiap tahun sampai ia berumur 8 tahun *film kuch kuch hota hai kale poooop*. Dan asli saya nangis senangis-nangisnya tadi pas siaran. Padahal di headphone saya sedang menyanyi itu lissa siapalah itu dengan keong racunnya. Saya bener-bener takut pisah sama si kei.  DAN KENAPA JUGA INI MEGGY Z NYANYINYA PAKE BUNUH-BUNUHAN?!

setress...

Minggu, 16 Mei 2010

5 komentar




Satu setengah tahun sudah saya tidak bertemu dia. Selama ini komunikasi kami cuma lewat telepon dan facebook adek saya yang suka ia gunakan untuk chatting dengan saya. 3 hari yang lalu, dengan perasaan yang tidak karuan, saya menunggu ia di stasiun. Tak sabar melihat bagaimana ia sekarang. Kuruskah ia? Makin bertambahkah ubannya? Sehatkah ia?

Cuma butuh satu menit sampai pandangan kami bertemu. Dan disanalah ia, inspirasi terbesar dalam hidup saya. Orang yang padanya saya selalu bisa berkeluh kesah dan menangis tentang apa saja. Seorang sahabat, kakak, ayah dan mama yang siap sedia dengan dukungan dan kelembutannya yang selalu membuat saya merasa aman dan tidak merasa dihakimi. Ia disana, kurang dari lima meter untuk saya rengkuh, terlihat sehat, serba matching dan gaya dan ia tidak berubah, dengan Sorot mata yang hangat dan sapaan pertamanya "Uniii!", yang selalu saya rindukan. Ia disana, membuat saya berlinang air mata dengan jantung yang kembang kempis  amat cepat. 

Dan siang itu, akhirnya saya bisa memeluknya kembali. Merasakan kembali kehangatan ia yang memberikan 9 bulan penuh kasih dan cinta tak lekang waktu. Dan hari ini, ketika saya harus melepas ia kembali pulang, rasa sesak itu muncul lagi. sesak yang sangat berbeda dengan sesak ketika menyambutnya datang. Ini sesak yang menyisakan pilu sepanjang perjalanan pulang.


gambar dari sini

Welcoming Utun!

Jumat, 23 April 2010

6 komentar
Setelah beberapa hari ini sibuk belanja ini itu buat si bebe dan hampir gak ada waktu buat leha-leha, akhirnya malem tadi saya punya waktu buat diri sendiri. Jam 12 malem! ahaha! itupun nyetrika! ya salaam. Nyetrikain baju, celana, popok, dll yang ternyata banyak itu. Jam 2 pagi baru kelar dan sudah tersusun rapi semuanya. Bebas bau kanji dan bau pabrik konveksi. Kasian kan si utun kalo pas dia pake ternyata kulitnya iritasi akibat kotor-kotornya baju baru. 


Melihat semuanya tersusun rapi, dekat dengan perlengkapan P3K si bebe dan semua printil printil lainnya, saya jadi tertegun. Setahun yang lalu, manalah saya berencana kalo saya mau jadi ibu. Temen-temen yang kenal baik sama saya juga tau saya bukan tipe perempuan yang merasa bahwa menjadi istri dan ibu adalah panggilan hakiki dalam hidupnya. Eh tapi akhirnya saya kawin juga dan bentar lagi beranak! *bahassaaaa. kontrol poop kontrool* ya teman-teman, menurut prediksi pak dokter ganteng dan sabar banget itu, saya akan melahirkan hari minggu ini (25/4/2010). 

Dari sekarang udah mulai kerasa nyut-nyutan, dan saya udah gak bisa lagi jalan terlalu banyak, padahal sampe beberapa hari lalu saya masih jalan kaki kemana-mana.  Cuma dalam beberapa hari lagi, hidup saya dan suami akan berubah. Kami akan punya tanggung jawab yang lebih besar. Seorang anak manusia *ya eyyalaah pooop, masa anak monyeet*. Akan ada yang bikin kami bangun dinihari untuk ganti popok dan nyusuin. Akan ada maenan baru buat bikin hari-hari kami makin menyenangkan. Akan ada popi kecil yang corat coret tembok *doooh semoga juga gak nyabutin bunga-bunga tetangga seperti ibunya dulu waktu kecil*. Akan ada yang saya ajak jalan-jalan ke toko buku kalo suami lagi males nemenin. 


Tapi diatas semua itu, akan ada seseorang yang menjadi alasan terbesar saya untuk menjadi lebih kuat. Hoi tun! bentar lagi kita ketemuuu! yippiiii!

Seandainya mudah

Sabtu, 17 April 2010

6 komentar
Dalam sebuah obrolan lewat telpon...

Papa  : bla bla bla...Nico sekarang kerja di gresik, pi. Sering telpon-telponan kok sama tante ita dan fanny


Saya : Oh tante ita kenal nico?


Papa : Iya, akrab kok sama fanny juga
 Saya : speechles...

 Pah, masih terdengar aneh buatku mendengar nama itu. Maaf, tapi sesering apapun papa berusaha membiasakanku mendengar nama itu, telinga dan hatiku masih belum mau terbiasa. Waktu kecil, aku suka menyalahkan diriku karena ketiadaanmu. Aku pasti nakal, aku pasti tidak membuatmu bangga, sehingga kau tidak pernah ada dirumah, dan bertahun-tahun kemudian tidak pernah ada di hidupku dan adik. Tapi kata mama aku anak yang baik, anak yang pintar, anak yang selalu membuat orangtua bangga, dan ketiadaan kau di hidup kami bukan karena aku. Tapi aku tetap menyalahkan diriku. Baru setelah aku dewasa, aku tau alasannya, memang bukan karena aku. Maaf pah, aku masih belum bisa seperti keluargamu yang lain yang menerima pilihanmu sebagai sesuatu yang wajar dan menerima buah dari pilihan itu sama wajarnya. Aku belum bisa...

Quick Update

Senin, 01 Maret 2010

12 komentar
- Tambur yang saya bawa makin gede aja! lucu! hihihi kalo diliat siluetnya persis kayak logo susu ibu hamil


- Si cuplis didalem perut lincah beneer. Muterrr mulu. Mungkin karena kebanyakan saya bawa jalan jadi dia pun seneng jalan didalem sana. Oh tendangannya pun kuat! apakah dia akan jadi pemain bola? atau jadi karateka? ah dia pasti jadi artiss hauhauahua *impian ibunya ini mah yang dulu gak kesampean*


- Mood swing saya masih berbahaya. Buat para lelaki yang "takjub" banget sama mood swing pasangannya pas PMS, tunggu sampe kalian jadi calon ayah, kalian pasti akan lebih takjub lagi. Kemaren itu saya janjian makan seafood sama suami. Pas saya ingetin agenda tersebut *tsaah* si suami bilang lagi pusing, jiaaah alamat gak jadi ini mah. Langsung mewek aja dong saya didepan komputer, sambil ngetik "huh! makan seafood di hari ulangtaunku aja gak dikasih! dan bla bla bla". eh sejam kemudian si suami bilang "hayu yang! katanya mau makan seafood". Yihhiiii! mata saya pun langsung berbinar *tak lupa ngelap ingus* hahahahaha


- Lagu-lagu dangdut itu emang....Ya salaaaam! Beberapa hari ini ada lagu baru di siaran saya. Ada Dewinta Bahar dengan demam facebook, Lolita-Sampai Puas, Nita Thalia yang Gak bisa Bobo, dan Putri Dewi dengan Panjang Besar. Kurang ajaib gimana coba judul-judulnya HAUHAUHAUHAUAHU!

- Panasnya jember bikin setengah sinting! *atau emang gini di semua tempat ya?*. Setiap hari berasa sauna deh. Kalo gak nongkrong didepan kipas angin, udah keriting kali ini otak. Bahkan ketika tidur pun kipas angin tetep nyala, dan ajaibnya, gak masuk angin!

- Baru tau kalo ternyata kucing-kucing saya doyan makan pasir. Ighhh kenapa yaaa? ada yang tau?


Before and After

Sabtu, 23 Januari 2010

21 komentar
Saya baru selesai nonton Oprah show dengan bintang tamu Star Jones yang berhasil menurunkan berat badannya ratusan pon karena operasi bypass lambung, pilates dan yoga. Di tengah talkshow, ada cuplikan foto-foto star dalam berat 300 pon, dan ingatan saya seperti dikembalikan ke masa lalu ketika ia bilang "kau masih bisa bahagia ketika beratmu 250 pon, tapi ketika beratmu sudah 300 pon, cara berpikirmu akan berubah". It's just like me.

Sejak kecil, saya tidak pernah benar-benar memikirkan berat badan. Yes, i'm happy with my body. Tapi saya mulai takut ketika jarum timbangan itu sudah menyentuh 90 kilo. Ya ampyuuun, 10 kilo lagi saya akan seperti karung-karung beras di gudang Bulog!

Banyak sekali hal yang berubah ketika berat saya makin bertambah, terutama setelah 90 kilo. Nafas saya gak bisa panjang ketika siaran, di headphone saya bisa mendengar dengan jelas suara nafas saya yang terengah-engah, saya gak bisa lagi jalan jauh apalagi motret-motret ke pegunungan, saya mudah lelah dan gak bisa lagi jalan kaki kemana-mana padahal saya sangat suka jalan kaki, dan beberapa perubahan lainnya yang semuanya berujung pada penurunan kualitas hidup.

Pada hari pernikahan saya, berat badan saya lebih satu kilo dari 90. Saat akad dan pidato pernikahan dari penghulu yang ya ampyuuun lama beneer, pantat dan betis saya yang ketika itu harus tertekuk lama harus disanggah oleh bantal agar saya bisa tetap duduk dengan bener. Tapi setelah disanggah pun saya tetep gak bisa diem karena kedua kaki saya sangat kesakitan. Saat itulah saya bilang pada diri sendiri, saya tidak bisa begini terus. Hidup saya harus berubah.

Sejak dulu saya memang pengen nurunin berat badan, tapi semuanya OMDO, omong doang. Sering banget saya bilang ke temen-temen deket saya kalo saya pengen kurus, tapi kebiasaan makan enak juga gak berhenti. Nah, ketika kondisi saya sudah mulai membuat saya takut, saya ingat sebuah obrolan dengan teman. Diet atau niat menurunkan berat badan itu  harus menjadi way of thinking and way of living. Tadinya ini cuma konsep buat saya. Tapi ketika saya pindah ke kota lain, memulai kehidupan yang baru, jauh dari kota dengan sejuta godaan kuliner, saya memutuskan untuk mewujudkan konsep ini.

Untungnya juga saya punya suami yang gak begitu doyan daging (baik daging merah maupun putih), jadi saya cuma masak sayur-sayuran, tahu, tempe, paling banter ya telor. Saya rasa ini yang disebut way of living. Saya pun jadi terbiasa makan protein nabati, dan akhirnya, tubuh saya pun jadi seperti menolak daging-dagingan. Kalo makan daging langsung mual. Saat saya ke pasar dan melewati kios daging dan ayam, saya pun mual, padahal dulu-dulu mah biasa aja. Setelah terbiasa dengan protein nabati, saya mulai mengurangi porsi makan sampai sepertiga dari porsi biasa. Setiap hari begitu. Susyaaah maaak! Ruangan di perut saya yang banyak kabinnya ini menghendaki isi yang lebih banyaak. I want moooore! but hey, no pain no gain kan. Saya siasati dengan makan lebih sedikit setiap kali makan tapi frekuensinya saya tambah. Kalo biasanya 3 sekarang jadi 4. Dan perut saya lama-lama terbiasa. Lalu saya pikir, ah ini belum cukup. Frekuensi makan pun harus saya kurangin. Lalu saya perbanyak minum dan mengurangi frekuensi makan, satu kali aja. Dan ternyata berhasil. Sekarang, saya makan 3 kali sehari dengan porsi yang sedikit. Apa yang terjadi? pencernaan saya beradaptasi dengan baik. Kalo makan lebih banyak dari porsi yang sekarang, saya mual lalu muntah. Naah kalo gini kan lambung kita udah beradaptasi sendiri, dan gak perlu operasi bypass lambung hahahaha!

Oh, saya pun mulai bersepeda tiap pagi (dan untuk ini, saya bela-belain belajar naek sepeda tengah malem karena malu diliat orang, ih masa udah segede gini baru belajar naik sepeda).

Suatu hari saya ke supermarket dan liat timbangan badan. Karena belum punya timbangan sendiri dan udah 6 bulan gak nimbang badan, saya pun dengan semangat 45 menaiki timbangan itu. Sambil tolah toleh dulu doong takut ketauan pelayannya, tengsin kan boook. Ternyata sodara-sodara! berat badan saya turun 11 KILO! dan saya menangis haru. Sejak lama ingin menurunkan berat badan tapi gak pernah berhasil dan harus kena diare dulu 5 hari untuk bisa turun 2 kilo (lalu naik lagi 5 kilo hehehe), sekarang saya berhasil membuang 11 kilo dalam 6 bulan! Ini prestasi terbesar dalam hidup.

Kemudian saya hamil dan ternyata, berat badan saya susah naik lagi. Saya terbiasa makan sedikit dan gak suka daging, tapi harus makan daging demi gizi si janin. Makanya saya imbangi pake ngemil roti dengan selai coklat atau keju. Tapi teteeep susah naik karena berat badan saya cuma naik 4 kilo dalam 6 bulan. Yaa sebenernya masih wajar sih, tapi begitu saya kasih liat foto saya ke sobat saya, mbok darmi, dia bilang "Popiiih! kamu kurus sekaliiiiiiii!" hihihihihih ok, saya mesti nambah berat badan nih. Sigh...

Dibawah dua foto saya dulu dan sekarang. Bok, udah kayak iklan obat pengurus badan ya ada before and after hahahaha!




Dulu



                                               Sekarang

Mertua-Menantu, ohh...

Rabu, 20 Januari 2010

12 komentar
Being Merried means compromising a lot! dan ini yang banyak saya pikirin ketika akan menikah. Kalo berkompromi pada segala macem tentang suami saya sih yaaa soo soo laaah, tapi selain dia? Naaah tau kaaan kemana arahnya "selain dia" ituuu. Tadi sore saya ngobrol sama ibu mertua. Beliau adalah mertua yang sangat-sangat baik. Selalu suportif, pengertian, tidak banyak menuntut karena pada dasarnya ia adalah perempuan jawa yang falsafah utama hidupnya adalah menerima segalanya dengan lapang dada. Jadi...dengan lapang dada pulalah dia menerima saya yang begini ini sebagai menantunya hahahaahah! 


Tadi beliau dengan semangat menceritakan calon menantu om nya suami a.k adeknya ibu mertua saya. Katanya, setiap nginep dirumah si om, calon mantunya ini rajiiin banget ngerjain segala kerjaan rumah tangga. Ya nyuci baju, nyuci piring, nyetrika, dan laen-laen deh. Pokoknya tipe istri ideal lah kalo menurut persepsi kolot or should i say persepsi patriarkal hehehehe. Dan ibu mertua saya pun terpana dengan kerajinan si calon mantunya om. Lalu melewati  jendela dapur, saya menatap ke halaman belakang, disitulah tergantung buanyaaaak sekali baju saya dan suami yang tadinya mau saya bawa ke laundry tapi belum sempet aja dan begitu tadi pagi saya bangun ternyata ibu mertua sudah mencucikan semua baju itu hahahaha. Okee okeee..sepertinya inilah saatnya semua penonton berteriak "mantu kurang ajiaaar!" hihiiihihih. Yaaa yaaa saya memang bukan tipe istri rumah tangga yang telateen banget ngerjain segala macem kerjaan domestik. I produce radio show, i made an off air concept, i made a commercial, but i don't do laundry. Mending saya kirim ke laundrette sehingga saya menghemat waktu dan tenaga buat nulis dan melakukan hal lain. Dan saya juga malas mencuci piring. Pekerjaan domestik yang saya sukai cuma nyikat kamar mandi karena saya emang betah berlama-lama di kamar mandi makanya itu tempat semedi saya mesti bersih. Dan ketika ibu mertua nyeritain calon mantu nya om yang rajin itu, kok saya jadi ngerasa gak enak ya sama ibu mertua. Mungkin dengan bercerita itu beliau berusaha menyampaikan ekspektasinya pada saya. Yaaa beliau memang tidak pernah komplain dengan saya yang begini, tapi pasti ada sebersit keinginan dalam hatinya bahwa saya bisa menjadi mantu yang sangat cihuy untuk urusan domestik, mengingat beliau pun cihuy bener untuk urusan domestik. Eeee kok saya jadi ngerasa bersalah ya. Jangan-jangan saya memang sudah mengecewakan ekspektasinya.

Bebe...

Sabtu, 19 Desember 2009

32 komentar
Anakku sayang,

Tidak mudah menerimamu ada di tubuh mama. Mama tidak tumbuh dengan konstruksi bahwa perempuan harus menjadi ibu nantinya. Nenek kamu pun tidak menyiapkan mama untuk menjadi ibu. Ia lebih memilih untuk membiarkan mama tumbuh seperti yang mama inginkan. Jadi menerima kehadiranmu dalam hidup mama, bukan sesuatu yang sudah dipersiapkan. Kamu benar-benar merupakan kejutan. Kejutan yang ajaib.

Ketika 6 bulan lalu, di layar itu terlihat sebuah bundaran kecil, mama kaget. Karena ini benar-benar diluar dugaan. Mama mengalami kesulitan untuk memiliki ikatan batin denganmu. Semua mama lewati dengan datar-datar saja. Butuh usaha keras untuk memunculkan ikatan batin itu.

Baru ketika bundaran kecil tadi tumbuh pesat dalam satu bulan, dan secara ajaib, bulan berikutnya, di layar itu sudah terlihat sebuah kepala kecil, lengkap dengan tangan, itulah saat ajaibnya.

Pertama kali melihatmu, mama tak bisa berhenti menangis. Rupanya, beginilah rasanya.
Mengetahui ada seorang manusia tumbuh di rahim mama adalah sebuah kelucuan yang ajaib
Mama tidak bisa berhenti tersenyum sendiri, lalu menangis, lalu tersenyum, lalu menangis lagi, ketika melihat fotomu dengan kepala kecil itu.


Lalu sejak sebulan ini kamu sudah lincah bergerak dan menendang, ikatan itu jadi makin kuat. Pertama kali merasakan tendangan kamu, mama menangis. Kamu bergerak sayangku. Kamu sudah bisa mendengar mama ngobrol sama kamu, dan tiap mama siaran dangdut, tendangan kamu makin sering. Apakah kamu sedang goyang-goyang didalam sana?

Tak terbayang jika tiba-tiba kamu direnggut dari mama
Seperti lagu Barry Manilow yang tiap hari mama nyanyikan buat kamu "You know i can't smile without you. can't smile without you. I can't laugh, and i can't sing. Finding it hard to do anything. You see i duuu duuuu"
Mama gak bisa senyum lagi, gak bisa ceria.

Kamu yang bikin mama merasa harus kuat setiap hari, di tengah situasi sesulit apapun
Maafkan mama ya nak, kamu ikut menanggung semuanya
Kata sahabat mama, Mbok Darmi yang suka tengil itu, kamu akan jadi anak yang kuat suatu hari nanti
Mama yakin juga begitu. Kamu akan bisa bertahan menghadapi semua yang datang dalam hidupmu.
It's in our blood. Buyutmu, Nenek, mama, lalu kamu. 

Arung jeram

Senin, 14 Desember 2009

7 komentar
Udah lama banget saya gak naik kendaraan umum, terutama bis. Namun tadi, akhirnya saya naik bis juga. Lumayan lama, satusetengah jam. Kembali lagi satu tempat dengan segala macam bau. Kalo istilah temen saya, itulah bau realita. Sedangkan aroma segar yang kami cium di kantor, diruang ber-ac yang manusia seisinya berpakaian bersih dan memakai parfum, itu bukan bau realita. Di bis pula biasanya saya bertemu dengan berbagai macam kisah, berbagai macam manusia. Dari yang nyebelin, sampe yang membuat saya merenung. 


Tadi, di sebelah saya duduk seorang bapak berusia 60-an tahun. Ia lalu bercerita banyak. 40 hari lalu istrinya meninggal. Tiba-tiba anfal karena stroke, dirawat satu hari dirumah sakit lalu meninggal. Sejak itu hidup sang bapak berubah. Seperti kehilangan separuh jiwa, begitu bapak itu mengistilahkan kehilangannya. Pandangan bapak itu seperti menerawang ke masa lalu tiap kali bercerita tentang kelebihan istrinya. Dan wajahnya langsung sedih ketika ia bilang "selama bertahun-tahun mendampingi saya, tidak pernah istri saya menyakiti hati saya. Ia punya kesabaran luar biasa. Selalu ingat menolong orang lain, dan ia pribadi yang sangat bijak". Waw, kata-kata itu pastilah berasal dari rasa hormat yang sangat dalam. Bapak itu juga bercerita bagaimana istrinya selalu memberikan pertimbangan-pertimbangan yang sangat rasional, dan ini menjadikan ia partner dan penasehat yang sangat hebat. Then i think, what a perfect relation they've had. Selama bapak itu bercerita tentang istrinya, saya cuma mendengar tentang kekaguman, rasa hormat yang dalam dan penghargaan yang tinggi terhadap istrinya. Cerita bapak itu membuat saya merenung selama perjalanan. 

Dalam dunia yang depresi seperti sekarang, masih bisakah kita punya cukup kepekaan untuk memperlakukan orang lain dengan baik? Gak usah dulu ke orang lain, ke pasangan sendiri aja deh. Di tengah dunia yang serba instant, masih punyakah kita cukup kesabaran untuk selalu melihat sesuatu dari esensinya?. Bapak tadi dan istrinya, adalah generasi dari masa lalu, ketika nilai-nilai moral masih jadi dasar berperilaku. Yaaa walaupun tiap-tiap jaman memiliki kesulitannya sendiri, dan tentulah tidak adil menjadikan "gangguan minimal" yang dimiliki jaman bapak tadi dan istrinya bertumbuh sebagai bentuk pembelaan atas carut marut jaman ini. Ya, kita semua, yang dikatakan generasi sekarang, tumbuh di tengah jaman yang sangat kacau. Jaman yang menganggap nilai moral cuma retorika.  Kemudian saya berpikir lagi, is it too hard for us to be a good person? terlalu sulit atau kita terlalu malas untuk melawan arus?

Email seorang teman

Minggu, 06 Desember 2009

9 komentar
Sebuah imel saya terima dari  seseorang bernama Via, setelah saya memposting tulisan yang ini, isinya begini :



"Dear mbak brokoli, saya gak sengaja mampir ke blog mbak, dan membaca postingan Angelus Ferutus. Easy for you to say. Kamu bukan korban kan? mungkin mudah buat orang yang gak ngalemin kekerasan untuk ngomong "kuat dong! kamu pasti bisa!", tapi kenyataannya, susah! saya korban kekerasan fisik orangtua saya dan ini membuat saya jadi gak percaya diri, dan jadi lebih sering nyalahin diri sendiri. Saya pengen gak begini, tapi semuanya udah terlanjur membentuk saya"

My dear via, seandainya saya bukan korban. Tapi sama denganmu, saya pun punya latar belakang yang menyakitkan berkaitan dengan kekerasan. Untuk temen-temen yang baca ini, let me share my story. Saya tidak ingin dikasihani, dan tolong jangan kasihan, karena, puji tuhan, saya sudah sampai pada tahap "done with the past".

Memiliki keluarga yang bahagia, punya orangtua yang utuh dan penuh kasih, tentunya jadi impian semua orang. Tapi sayangnya, ini tidak terjadi pada saya. Dari kecil sampai sekarang, saya cuma mengenal kasih sayang mama. Ia bukan janda, tapi mengalami nasib seperti para janda, karena ayah saya kurang bertanggung jawab pada keluarga. Ia mengabaikan kami, tidak berperan sama sekali dalam setiap fase pertumbuhan anak-anaknya (setelah dewasa, saya tahu bahwa ia memiliki keluarga lain), sehingga akhirnya, mama saya mengambil semua peran, sampai saat ini. Karena itu ia harus bekerja ekstra keras agar kami dapat makan dan sekolah. Supaya ia dapat bekerja seharian, saya dititipkan pada nenek. Bukan sepenuhnya salah nenek, jika  yang ia lakukan kemudian pada saya adalah bentuk kekerasan terhadap anak dan kekerasan dalam rumah tangga. Ia tumbuh di masa lalu yang penuh kesulitan. Hidup di jaman penjajahan dan harus menghidupi banyak anak sendirian tentunya bukan hal yang sama sekali mudah. Ia pun sudah sangat terbiasa dengan kultur kekerasan, sehingga cuma cara itulah yang ia tahu. Jadi ketika ia menyeret saya puluhan meter dan memukuli saya pakai sapu lidi  cuma karena saya maen keluar pager, saya cuma bisa nangis. Saya tidak benci dia, terutama ketika setelah dewasa, dari mama saya mendengarkan kisah hidup nenek yang sangat pedih. Lalu saya mengerti siklus itu. 


Bukan cuma dari nenek saya mendapatkan perlakuan penuh pukulan, hinaan dan you name it lah. Dari orang lain dirumah nenek pun saya dapat. Semua perlakuan itu menciptakan sebuah trauma. Saya jadi senang ngumpet di kolong-kolong setiap  kali merasa takut, lalu mulai menciptakan  melodi-melodi asal bunyi dan mulai bersenandung dengan harapan dapat melupakan apa yang terjadi barusan. Dan pada akhirnya, saya menarik diri dari pergaulan teman-teman sebaya, karena bermain berarti mengulangi penderitaan. 

Pada saat yang sama, sekolah yang tadinya menjadi tempat pelarian saya, ternyata menjadi tempat yang justru memberikan kengerian berikutnya. Popi kecil yang periang, cerewet, pemberani tiba-tiba berubah karena seorang guru melakukan kekerasan seksual padanya. Ini terjadi beberapa bulan, sampai menjelang saya kelas 3 SD. Setiap saat saya merasa ketakutan, terutama jika ia sudah memanggil satu persatu anak perempuan ke mejanya untuk membacakan isi CBSA keras-keras. It was nightmare dan saya benci cbsa. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil kelas 2 sd? saya baru berani bilang ke mama saya setelah saya kelas 3. Lalu mama lapor ke sekolah, dan diadakan penyelidikan, lalu terurailah kebenaran. Bukan cuma saya korbannya. Si guru dipecat. Kok cuma dipecat? Jangan tanya saya, tanyalah kepala sekolah SD saya hehehehe. Kalo kata imel dari Via, ia jadi tidak percaya diri, well, sama. Saya pun begitu. Gak cuma gak percaya diri, tapi selama bertahun-tahun sampai dewasa, luka itu tetap ada, beserta traumanya. Muka laki-laki itu dan apa yang dia lakukan ke saya sering banget nyelonong jadi mimpi buruk. saya pun jadi benci laki-laki. Sempet juga naksir sama perempuan. Ngerasa bahwa saya perlu melindungi mereka, dan boro-boro saya pengen nikah. Igh! setiap kali inget muka laki-laki itu saya jadi marah, banting-banting segala, dan jadi frustasi sendiri.  Sampai suatu ketika, sebuah dialog dengan seorang teman menyadarkan saya. Saya lalu melakukan "proses penyembuhan" luka batin dan berhasil. Sampai suatu ketika, setelah saya dewasa, saya sebelahan sama laki-laki itu dan saya masih ingat benar detil mukanya, sedangkan dia cuma berdiri disitu, seperti tidak mengenal saya. Dan mungkin memang dia tidak kenal saya, karena saya sudah jauh berubah. Tapi eh kok saya gak marah lagi, padahal bisa aja saat itu saya mengingatkan dia pada apa yang dia lakukan pada saya. Tapi saya tidak lakukan. Saya sudah tidak dendam lagi. I'm done with my self.

Untuk Via, menjadi korban memang  bisa menjatuhkan kita ke titik terendah dalam hidup. Menghancurkan kepercayaan diri kita sampai tak bersisa sama sekali. Tapi seburuk apapun yang kita alami,  kita akan selalu punya pilihan. Then up to us, mau hancur bersama masa lalu, atau mau menjadi lebih kuat untuk masa depan. Dan percayalah, bahwa kita tidak akan pernah sendirian melalui semuanya :)

GARING JUGA!!

Kamis, 24 September 2009

8 komentar
Lebaran pertama jauh dari si mamah. Sedih sangat. Kangen rumah

Malem takbiran di Bondowoso. Berisik! hahaha! banyak anak-anak pengikut Noordin M Top bakar petasan segede dosa! asli mereka sambil tereak "M Top! M Top!!". Ihhh anak-anak sakit jiwa!

Lebaran di Bondowoso ternyata sama aja. Salam-salaman cuma ampe jam 10-an, udah itu sepi gila ini desa! di bandung juga gitu. eh ada bedanya deng! disini gak ada ketupats!! soalnya lebaran ketupatnya seminggu setelah Idul Fitri. Alhasil, gigit jari dah gw

Lupa maap-maapan sama suami hahahaha. Salaman ama orang lain udah, salaman ama laki sendiri baru sore. Dodol

Besoknya pulang ke Jember, buka warnet seperti biasa. Penuh bok! anak-anak mulu yang pake. Lagi banyak angpaw rupanya mereka, dan teteeeep yang dibuka narutoxxx hahahahaha! haduh! prihatin deh tante popi pada anak-anak sekarang


Malem-malem ada bapak paruh baya pake internet. Pake kopiah haji dan baju koko. Kirain buka situs islami-islami itu lah, pas diliat historynya, GAMBAR BOKEP JUGAAA!!! HAHAHAHAHAH

Hari kedua lebaran tetep siaran, jadi stuntwoman penyiar laen yang mudik. Di kantor sendirian, pas ngambil minum ke dapur, kok keluar-keluar, tangan dan baju saya bau banget rokok kretek! eh tapi kok gak ada siapapun disitu! alhasil, selama siaran saya merinding disko


Melakukan percakapan dudul lewat sms dengan seseorang yang saya kira......

Sms diterima : "Sesama saudaraku umat muslim, minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin. Sonny dan keluarga"

Sms dikirim : "Hihihi bahasanya sonny kayak anak buahnya noordin M top dehhh, pake sesama saudaraku umat muslim hihihihi"

sms diterima : "kan emang pernah berguru hehehehe. Lebaran dimana?"

sms dikirim : yaa di jember aja. Gak balik ah gw

Sms diterima : "enak ya lebaran ini kita bisa liburan"

Sms dikirim : "Iya ya, lepas dari kerangkeng ya son" (dari awal sms saya mengira dia adalah Sonny, pacar sobat saya si Mbok Darmi, yang memang sedang menjalani in house training dan gak bisa kemana-mana, tapi mungkin mendapatkan liburan sebentar saat lebaran)

Sms diterima : "IYa nih. bebass hehehe jadi bisa liburan di kampungnya istri di Jawa Tengah"

saya mulai mikir, HA? istri di jawa tengah? ini sonny yang mannaaaaa? dan saya pun berhenti membalas sms beliau hehehehe.

Ah lebaran ini saya benar-benar kangen rumah!!

Penonton kecewaaaa

Rabu, 09 September 2009

11 komentar

Sayangnya, sejak kecil saya dibesarkan oleh cita rasa makanan yang tob banget! jadinya lidah saya udah terlanjur punya standar yang tinggi *tsaaah* untuk makanan. Alhasil, standar ini yang saya pake ketika makan dimanapun. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung dan memang seneng makan terutama makan yang enak-enak, tentulah lidah saya sangat dimanjakan oleh Bandung. Dalam posting sebelumnya soal bakso, saya bilang kalo Bandung itu surganya makanan. Bukan cuma bakso, makanan apapun di Bandung itu sebagian besar enak, salah satunya bubur ayam. Saya masih inget, ketika masih di bandung, saya senang sekali sarapan di bubur Mang Oyo yang di deket sulanjana. Tempatnya adem, ada pohon rindang, jadi seger banget kalo pagi-pagi. Tapi gak cuma makan bubur di bubur yang udah beken banget seantero Bandung ini, saya juga seneng makan di jongko-jongko bubur ayam pinggir jalan. Dan seperti yang saya bilang sebelumnya, makanan Bandung itu sekalipun yang di pinggir jalan, enak! Dengan kerupuk yang biasanya dimangkokin sendiri, and i'm talking about a big portion of  kerupuks! dan boleh nambah pula! dan gratis pula!!! Ah asoy banget kan buat para pecinta kerupuk. Kalo di bubur Mang oyo malah lebih asoy lagi. Bukan cuma kerupuknya yang di piring sendiri dan banyak! tapi juga seledri dan kacang kedelenya. Jadi ada tiga piring tambahan selain piring bubur kita yang porsinya muntuk-muntuk itu!. Seperti dibawah ini gambar Bubur Ayam Mang Oyo. Terlihat mantab kan? ! emang mantab!




 Gambar diambil dari sini

Nah, berangkat dari kesukaan saya pada Nyabu (nyarapan Bubur), saya pun jadi kangen bubur ayam pagi ini. Karena ada siaran pagi, saya baru bisa siang makan bubur. Nanya sana-sini, teman-teman kantor merekomendasikan sebuah brand bubur yang katanya bubur terenak disini. Dengan semangat 45, di tengah terik matahari, saya pun nyari bubur ini. Begitu sampe, mmm okee, tempatnya bersih, homy, semoga enak! *menyilangkan dua jari*. Saya pun pesen yang spesial, karena kata si mba nya, kalo yang spesial itu toppingnya lebih banyak. Kalo di Bandung kan, makanan yang ada kata spesialnya yaa biasanya emang S-P-E-C-I-A-L, gak pake nyesel deh walaupun udah bayar mahal. Worthed! Nah, itu pula yang saya harapkan dari bubur ayam ber-merk Ibu bernama mirip dengan salah satu penyanyi keroncong Nasional ini. Begitu pesanan datang, eng ing eeeng! buburnya encer, porsinya dikit, toppingnya cuma beberapa potong cakue tipis, beberapa iris ayam dan sedikit suiran bawang. That's it?! Iyaa!!! segini ajjjaaa! DAN TANPA KERUPUK!! dan itu semua harus saya tebus dengan harga 10 rebu perak! ih bukan soal 10 rebu nya, tapi kok berasa gak worthed ya? Hampir menangis saya *lebay dikit ah*. Sejenak terbayang bubur ayam di Bandung yang buburnya bisa gak tumpah walaupun mangkoknya dimiringin sehingga nampol banget di perut orang laper, dengan topping ayam dan ati ampela yang nutupin permukaan buburnya, ditambah taburan cakue dengan irisan yang tebal lagi banyak, lalu dihiasi dengan warna hijau dari seledri dan daun bawang segar, masih ditambah prentilan kacang kedele. Dan melihat porsi bubur serta toppingnya, membuat saya berpikir, pedagang Bandung emang bikin makanan pake hati. Makanan dengan harga dibawah 10 ribu dibuat sebanyak dan seenak ini, sudah pasti mengurangi margin keuntungan. Baik kan?! Mana kerupuknya dipisah pula!!! banyak lagi! boleh nambah pula!. Yaa tapi gimanapun, ini so called bubur terenak di Jember harus saya abisin juga, udah bayar bok! ogah rugi guwe! hahahaha. Dalam perjalanan pulang, saya membuat daftar di kepala, jongko-jongko makanan yang harus saya makan kalo saya pulang ke Bandung, dan dijamin, saya akan menggembung seperti ikan buntal sekembalinya ke jember hehehehe.

bulat kenyal

Minggu, 30 Agustus 2009

7 komentar



gambar diambil dari sini


Pasti semuanya udah gak asing lagi dengan sebutan Bandung sebagai Surganya makanan. Julukan ini sama sekali gak berlebihan. Hampir semua makanan di Bandung, yaa yang dijual di cafe atau restoran atau yang kaki lima sekalipun, enak! Gak tau apa sebabnya. Bisa karena orang-orang bandung emang pinter masak, atau seperti kata temen saya, mbok darmi Mangunkarso bahwa orang-orang Bandung itu masaknya masih pake hati. Mungkin benar. Yang jelas, masakan Bandung membuat hati saya gak bisa berpaling, terutama bakso dan teman-temannya.


Sedang kangen banget nih sama Bakso Si Boy di jalan Naripan. Mie nya yang punya kekenyalan pas sehingga bikin gak blenger kalo makan banyak sekalipun, dicampur dengan kecap yang manisnya pas (entah mereka pake kecap apa, yang jelas kecapnya enak banget, persis kayak yang dipake rumah makan masakan china), membuat mie si boy emang layak membuat pembelinya dateng lagi dan lagi. Belum lagi taburan ayamnya, dengan Kombinasi asin-manisnya yang pas dan gak bau amis sama sekali. Baso si Boy yang tampangnya emang mirip sama Bakso Akung ini punya isi komplit. Ada siomay yang ikannya kerasa tapi gak amis, ada pangsit isi ayam gurih, tahu putih yang lembut, bakso kering yang walaupun kering tapi gak bikin seret tenggorokan, bakso urat yang uratnya gak dibikin dari karet ban (tau kan boook bakso urat yang uratnya alot banget sampe membuat kita berpikir jangan-jangan bukan urat daging tapi karet ban). Dan tidak ketinggalan.... pangsit kering yang lebar, gurih, gak berminyak, dan krispi, tapi krispinya asik, bikin pecahan pangsitnya gak lompat kemana-mana kalo digigit (pernah kaaan makan pangsit kering yang kalo digigit bikin remahnya berlompatan ke kanan kiri, iiih malesss). Semua paket komplit ini disajikan dengan kuah bening yang gurihnya pas sehingga gak bikin eneg. Anjiss saya sudah menelan ludah berapa kali ketika menulis posting ini.


Gak cuma bakso modern macam bakso Si Boy itu yang saya kangenin, tapi juga bakso kampung. Perbedaan signifikan terletak pada kedua jenis bakso ini. Bakso modern atau yang juga dikenal sebagai bakso kota a.k bakso China biasanya memiliki kuah yang bening tapi gurih banget (kadang-kadang ditambahkan sedikit minyak babi hehehehe), sedangkan bakso kampung biasanya memiliki kuah yang penuh dengan lemak dan lebih spicy. DAN SAYA MENGGILAI KEDUANYA! hehehehehe. Dalam kurun waktu saya menjadi pecinta bakso, saya sudah mencoba banyak sekali bakso kampung di Bandung, dan eeee kok semuanya enaaak. Yang sering sekali saya datangi itu bakso ojolali di Wyata Guna, Jalan Pajajaran. Cuma dengan 5 ribu perak, saya udah dapetin bakso gede berisi daging cincang dan telor (yang kalo dibelah itu kuah lemaknya langsung meleleh ke kuah bakso diikuti dengan brudulan daging cincang), plus dua bakso urat ukuran sedang. Ditambah dengan bihun yamin dan sayuran. Kadang saya nambah lagi satu bakso besar (yaa yaa saya tauuu, kemampuan makan saya emang menakutkan), but i can't help it hahaha!

Ah saya benar-benar kangen pada bakso Bandung. Semuanya! Ya akung, ya bakso malang karapitan, ya Ojolali, ya Si Boy, Ya Mang Endin, Ya mamang siapa lagi laaah. Sayangnya, di kota yang saya tinggali sekarang tidak ada satupun bakso yang enaknya kayak Bakso di Bandung. Dan perut saya pun bersedih.


Tetep asik

Kamis, 16 Juli 2009

10 komentar






Kepada teman-teman yang kenal saya lalu membaca posting saya sebelum ini, i just wanna tell you guys, bahwa aku masiiiih seperti yang duluuuu (dengan gaya Dian Pisesha) ahauahuhauha. Ketika saya memutuskan menikah pun, banyak teman yang keheranan, karena buat mereka saya bukanlah tipe perempuan yang tujuan hidupnya adalah menikah. Dan memang benerrr, karena yang jadi tujuan hidup saya adalah menjadi kaya raya dan masuk surga hihiihihiih. Dalam pikiran single saya dulu, menjadi istri itu sama sekali tidak menyenangkan. Ujung-ujungnya perempuan pasti kehilangan eksistensinya dan menjadi sangat terbatas serta kehilangan kemampuan berpikir mandiri. Untungnya itu tidak terjadi pada saya. Jika saya sekarang melakukan berbagai aktivitas "keistrian" heheheheh, itu bukan karena saya telah berubah menjadi bentuk stereotipik istri a.k ibu-ibu pisan lah (seperti kata neneng enno), bukan sama sekali. Mencoba berbagai aktivitas baru ini cuma bagian dari kompromi saya pada kehidupan sosial. Secara ya mak, emang dari dulu ijk gak pernah bersosialisasi sama tetangga, itu karena tetangga saya sebelum disini kerjaannya cuma ngegosipin artis, ngomongin sinetron, dan menggunjingkan tetangga, males kan bok! Tapi di lingkungan yang sekarang, ketika tetangga-tetangga saya adalah orang-orang well educated dan memang gak pada doyan ngegosip (berdasarkan keterangan orang-orang sekitar), maka saya memutuskan untuk..mm..kayaknya gak papa juga kalo gw gaul dikit ama tetangga. Yaaa cuma menambahkan sedikit bagian baru dalam hidup saya. The rest of me are still the same. Dalam sebuah percakapan beberapa waktu lalu, seorang teman bilang "ih lu ibu-ibu banget sih sekarang, gak asik lagi lu ah". Hehehehehe bisa dimaklumi siiih kenapa dia berkomentar kayak gitu, saya pun pernah berkomentar gitu pada seorang teman yang setelah menikah memang langsung berubah kayak Ibu-ibu PKK. But in my case, no. Karena saya masih asik hahahahahaha. Tenang sob, saya ikut arisan, pengajian dan senam itu sama sekali gak merubah kepribadian saya, at all.



Mau ngobrol jorok seperti biasanya? Hayu! Malahan sekarang saya lebih jago laah, soalnya bukan Cuma tau teori hauhauhauah



Mau ngobrol idealisme kiri? Hayu! Saya masih out of the box kok! Hihihihhi



Mau ngomongin filsafat? Hayu!



Mau ngobrol soal segala macem? Siapa takut





Wahai kawan-kawanku sekalian yang sering ngerumpi ngalor ngidul sama saya, tenaaang, kita masih bisa ngobrol asik kok, karena saya masih asik! huahauhauhauahauhauh

Tanpa judul

Minggu, 12 Juli 2009

13 komentar

Duluuu sekali, saya membayangkan diri saya samenleven dengan seorang fotografer alam dan olahraga ekstrim. Tidak perlu ikatan hukum negara dan agama. Ikatannya cuma komitmen kami berdua. Pergi kemana suka, lakukan apapun suka, tak perlu mikir harus punya rumah, tak usah ribet dengan urusan meneruskan generasi, tak perlu melaksanakan kewajiban sebagai warga negara, sepertinya seru. Siapa sangka, beberapa tahun setelah khayalan tengah hari itu, terdamparlah saya di sebuah kota yang ya salaaam panasnya! Saya berada didalam sebuah rumah, bersama seorang suami, dan memasak! Hahahahaha. Hidup saya pun sekarang jauh lebih teratur dan sehat. Sejak kadar lemak di tubuh saya terus naik dan mulai mengganggu kesehatan reproduksi saya, saya berkomitmen untuk hidup sehat. Yaaa setidaknya saya mulai berolahraga. Kalo urusan diet makanan mah nanti aja dulu hehehe. Susah mak! Dan untungnya upaya saya untuk menurunkan kadar lemak ini didukung oleh lingkungan sekitar. Suatu hari, tetangga belakang rumah ngajakin saya senam. Bukan aerobik atau senam kegel, tapi senam LANSIA (jangan ketawa lo!). Yaaa karena memang tetangga saya itu tergolong lansia. Usianya lebih dari 70 tahun tapi masih segar bugar. Saya aja kalah stamina sama beliau kalo melewati tanjakan. Ih malu ati! Pertama kali senam, rasanya gimanaaa gituu. Ya iyalah, wong semuanya seumuran mbah saya. Mulai pertama datang, kami langsung salam-salaman kayak lebaran, dan ternyata ini ritual wajib ketika bertemu. Lalu saya mulai ditanya kerja dimana, asal darimana dan bla bla bla. Eh kok lama-lama saya malah nyaman berada ditengah eyang-eyang ini, walaupun perilaku saya mesti saya jaga benar. Yaaa bicara pun dengan intonasi sehalus mungkin dan menggunakan idiom-idiom jawa halus. Berada di tengah mereka, seperti sedang berada di kamar almarhumah mbah saya. Kadang wangi kayu putih, kadang wangi melati, lalu semu-semu wangi batik tua yang dikamper. Wangi masa lalu...


Selain ikut senam Tera (senam lansia) dua kali seminggu, saya pun rajin bersepeda. Tentunya belajar dulu doong. Karena buat saya tidak berlaku itu logika kebanyakan yang katanya orang yang bisa naek motor pasti bisa naik sepeda. Well, saya tidak. Motor dulu baru sepeda heheheh, dan eeeh ternyata ban sepeda yang diameternya kecil itu kuat juga mengangkut saya hahahahaha, dan mulailah saya ngegoes satu-satu. Awalnya masih campur, campur kaki! Hahaha, lama-lama lancar mak! Yihhiii kedua kaki saya ada di pedal euy dan bersepedalah saya ke alun-alun kota yang jaraknya gak begitu jauh. Ternyata menyenangkan juga naik sepeda. Gak bikin dada sakit. Beda sama kalo saya lari. Rasanya kok seperti seluruh dunia menghimpit saya. Lebay ah pop!


Oh selain teratur berolahraga, saya pun mulai ikut kegiatan bermasyarakat. PENGAJIAN DAN ARISAN! HAUHAUAHUAHA! Suatu kali, saya bilang mau berangkat pengajian, dan suami saya speechles. Ya iyalah, si hubby taunya saya manusia sekuler banget dan anti deh ngumpul sama segala macem kegiatan ibu-ibu itu. Tapi eng ing eng...sekarang saya bergabung dalam dua kegiatan yang dulu saya hindari banget. Dan ternyata saya menikmatinya. Dulu, dalam kepala saya, dua kegiatan itu cuma sarana bergosip para ibu rumah tangga kurang kerjaan. Kalo mau ngaji mah mending ngaji sendiri aja, mau dapet duit ya nabung aja. Eh ternyata, arisan dan pengajian ibu-ibu di RW saya ini asli arisan dan pengajian. Pas pengajian, aktivitasnya ya cuma ngaji, makan dan arisan PKK yang isinya emang tok ngumpulin duit. GAK ADA GOSIP! Pun ketika arisan. Pesertanya cuma 20 orang ibu-ibu di sekitar rumah saya. Aktivitasnya, ngumpulin duit, ngundi, dan makan! Ahahahaha. Ah saya senang!. Asli loo gak ada acara ngegosip. Lagian, acara ngumpul-ngumpul gini kan bisa jadi sarana promosi usaha si suami heheheheh. Jadilah saya dengan gak punya malunya jadi PR & Promotion buat dia. Haduuuh beneran deh bok, saya sendiri sampe takjub dengan kesediaan saya untuk lebih memasyarakat, karena biasanya saya cuma bersosialisai dengan orang-orang yang ada urusan kerja sama saya. Tapi siapa sangka bahwa saya akan nyaman berada ditengah para ibu ini. Siapa sangka bahwa saya merasa sangat tenang ketika mengaji dan mendengar orang mengaji. Oh mama, kau pasti takjub sekali sekarang ini pada anakmu yang dulu pernah bikin kau nangis dengan bilang "emang kenapa kalo atheis?". Ya mama, sekarang aku jadi muallaf hahauahuahauhahuah. Mari semuanyaa bilang ALHAMDULILLAH!

Yellow seed..

Kamis, 25 Juni 2009

6 komentar

Hai Yellow seed

Tahukah kamu bahwa aku telah mati berulang kali?

Tahukah kamu bahwa kebaikan tuhan memberiku hidup lagi dan lagi adalah siksaan?

Karena ketika pagi ini ia memberiku satu kesempatan lagi, maka pada saat yang sama ia telah membunuhku

Yellow seed, tahukah kamu bahwa aku sedang menjalani nerakaku?

Cukup seramkah itu bagimu?

Orang bilang, tuntutlah ilmu ke negeri china. Well, aku akan pergi ke negeri China jika disana aku temukan tips "how to" menikmati nerakaku

Yellow seed, ini sisa-sisa diriku yang kau lihat

Remah-remah asa yang berhasil kukumpulkan dari puing kehancuranku yang berjalan amat lambat tapi pasti ini

Aku mohon doa, semoga aku cepat mati dan pindah ke alam yang katanya alam transisi sebelum masuk neraka, neraka keduaku. Setidaknya ada suasana baru, walaupun ujung-ujungnya tetap neraka juga

Tapi hey, kata mereka orang Indonesia penuh rasa bersyukur. Jadi mungkin aku akan coba juga bersyukur, setidaknya aku punya lingkungan baru, yang belum tentu lebih baik, bisa saja lebih parah, tapi setidaknya baru. Neraka keduaku

Yellow seed, bolehkah aku meneguk racun ini sekarang?


Cinta SMA

Selasa, 19 Mei 2009

13 komentar
Beberapa hari lalu, saya baca liputan Java Jazz 2009 di sebuah majalah musik. Lalu melihat sebuah wajah yang amat sangat saya kenal. Saya mendadak deg-degan, seperti saya deg-degan beberapa tahun lalu setiap kali berdekatan dengannya, dan ingatan pun kembali ke masa-masa paling indah, kisah-kasih di sekolaah, sungguh aneeeh tapi nyataaa (semuanyaaaa!! sungguh aneeh tapi nyataaa, tak kan terulaang!! kiiisah kasih di sekolah, dengan si diaaa..duuuu duuu..duuu). Jamannya cinta monyet bikin geli kalo dikenang lagi, tapi dimasanya, yaa itulah yang paling indah. Seindah hari-hari saya sama si java jazz itu. Makhluk tuhan paling seksi, buat saya waktu sma hahahaha. Dia bukan anak sma macam anggota ekskul basket yang keren, atau anak laki dengan mobil bagus dan bawa nokia pisang (bok! jaman gw sma hp masih menakjubkan, secara dulu adanya pager). Si java jazz ini seksi karena jago maen alat musik, suaranya pun enak didenger. Saking jagonya maen gitar, dia dijuluki dewa gitar hehehehe. Masih ingat banget deh aktivitas yang sering kami lakukan, diem lama-lama di ruang audio visual, dan dia mengiringi saya nyanyi dengan piano. Sedaaap. Dia makin seksi kalo udah serius banget ngulik lagu atau bikin aransemen. Anyiiis. Ingin sekali aku menghentikan waktu (aiiih dian pisesha sekalee bahasa guwee). Saya naksir dia dua tahun dari mulai kelas 2 sampe lulus, bahkan saya butuh waktu lama setelah kami lulus untuk ikhlas nerima dia udah punya pacar ahahaha. Dasar abege jaman dulu. Masih ada tuh istilah malu-malu kucing kalo saya ketauan curi curi pandang hauhuahau padahal dia gak tau siih saya naksir dia. Wong saya tomboi banget dan dia mikirnya saya sama sekali gak kepikiran untuk naksir laki hahaha. Tapi saya beberapa kali cerita ke dia kalo saya sedang naksir sama seseorang, anak ekskul musik jugaa hihihih. Akhirnya, setelah memendam rasa selama dua taun, saya bilang juga ke dia. Bukan dengan harapan jadi pacarnya, tapi yaa pengen bilang aja, takut jadi bisul kalo disimpen terus. Ditengah tempat parkir motor, saat kami bersuka cita karena lulus, saya nembak dia (tsaah nembaaak)

Saya : sak, lu mau nerusin kemana? (basa basi pisan tah urang teh)
Dia : kayaknya ke UPI euy, jurusan musik. Lu nerusin kemana co? (dia manggil saya ico, kagak tau dah artinya apa)
Saya : gw kayaknya ke fikom deh (padahal langsung kepikiran untuk daftar ke upi musik juga hahaha)
Dia : iyalah, pas banget jurusan itu sama lo
Saya : (mata agak menerawang) mmm sak...
Dia : apa co? gak usah grogi gitu dong co
Saya : anjiss, maneh nyaho wae mun urang grogi. Gini sak, gw kan pernah bilang sama lu kalo gw naksir anak musik?
Dia : hooh, gw tau da orangnya siapa
Saya : (mulai deg-degan) siapa sak?
Dia : David kan? (si david ini sekarang jadi additionalnya peterpan atau the titans itu lah)
Saya : hauhauahauh. Kagak dodoool. David mah cakeep, yang gw taksir mah jelek (kayaknya dia mulai gak enak hati deh haha)
Dia : siapa co orangnya?
Saya : elu
Dia : (dia langsung menirukan gaya orang mau pingsan) kok gw co?
Saya : (sial, tampang dia kok kayak yang kengerian gitu ya) yaaa gak tau sak. Gw suka aja sama lu. Gw jatuh cinta sama lu dan musikalitas lo. Tau gak? gw deg-degan siah tiap kali ngobrol sama lu. Susah tau nyembunyiin perasaan itu sementara gw harus biasa-biasa sama lu
Dia : tapi gw gak naksir sama lu co. Gw nganggep lu sobat laki gw
Saya : anjiss hahaahah. Yaa gak papa sih sak. Gw cuma mau suka sama lu, lu gak perlu suka juga sama gw. Ok! akhirnya gw bilang juga. Gw legaa. Udah dua taun gw naksir sama lo
Dia : makasih ya co. Lu jangan nangis ya co.
Saya : hahaha! ya kagak laaah. eh gw pergi dulu yaa, mau nonton hehehehe. Dah yusaaak. See yuuuuu (air mata udah di ujung tanduk)
Dia : ati-ati ya co. Gw sayang sama lu
Saya : (aduh aduh..pengen meweeek)


saya berjalan beberapa meter

Dia : Co! co!
Saya : (jangan nengoook jangan nengoook, nanti ketauan meweek) Daah yusaaak (ngasih dadah pake tangan kiri dengan wajah tidak menoleh)
Dia : co! co! kok gak noleh siiih
Saya : (menghentikan langkah lalu jalan kembali dan buru-buru nyebrang karena diseberang sana sudah ada kawan sejati menanti dan saya langsung meluk dia sambil mewek hahahaha)


Sak, kamu gak berubah. Keteduhan di wajah itu masih ada. Dan ketika melihat foto kamu yang menjadi salah satu gitaris terbaik di java jazz kemarin sehingga mendapatkan gitar bertanda tangan Jason Mraz, aku bangga. Kamu makin dekat pada mimpimu. Mimpi yang pernah dibagi padaku dibawah pohon karet tempat kita suka nongkrong.

Nyunda

Rabu, 15 April 2009

9 komentar
Ada satu hal yang sangat saya rindukan saat ini, ngobrol pake bahasa sunda!! Sono pisan euy!! Ketika kemarin saya chat dengan seorang teman dari Bandung yang kini berada di Singapura, saya pun langsung mengutarakan maksud,“Mei, urang sono ngobrol make bahasa sunda euy” (mei, saya kangen ngobrol pake bahasa sunda nih). Gayung bersambut, mei bilang “nya sok atuh, hayu” (ya, silahkan. Ayo). Jadilah kami menggunakan bahasa sunda selama ngobrol. Belum terpuaskan benar, tapi lumayanlaaah. Saya kangen berat ngobrol pake bahasa sunda yang kacrut-kacrut. Anu garoblog lah! Hauhauahauh. Nah, bahasa pasar mulai keluar. Soalnya bahasa sunda kasar itu lucu, dan benar-benar mencairkan suasana karena banyak idiom yang terdengar menggelikan dan meminimalisir jarak psikologis. Urang nyaanan sono pisan ngomong make maneh-maneh-urang-urang, tong poho make siah ogee. Eta mah sarat! Hhahaha! Didieu ueweuh hiji-hiji acan anu bisa diajak ngobrol make sunda, unggal menit urang ngadenge maduraaaa wae! Aya sih urang sunda, tapi tukang kiridit, lamun diajak ngobrol pasti nyambungna kana kiriditan.

Roro Jongrang mencari jodoh

Minggu, 12 April 2009

6 komentar
"Gw gak nyangka lu bakal nikah, gw kira lu bakal kayak....(menyebut nama seorang teman kami yang feminis)"


Hehehe, geli juga membaca kalimat diatas ketika saya chat dengan mantan teman kantor yang dulu sangat dekat dengan saya, dan tau benar bahwa meskipun cara pandang saya banyak mengacu pada feminisme humanis, tapi gak seradikal itu sampe saya gak mau menikah. Bukan cuma dia yang agak kaget dengan keputusan saya menikah, beberapa teman pun begitu. Ada yang bilang "masa feminis nikah?" hahahahahaah! siapa yang bilang feminis itu gak boleh nikah? Sepertinya menikah itu dianggap sebagai pengkhianatan pada ideologi feminisme hehehe. Lagipula saya bukan feminis aaah, terlalu gimannaaa gitu kalo saya melabeli diri sendiri dengan itu. Iya memang dalam perkembangannya, ada yang disebut feminis radikal, yang root pemikirannya adalah bahwa sumber dari segala kekerasan terhadap perempuan adalah laki-laki. Maka jika tidak ingin kekerasan ada di muka bumi, enyahkan saja laki-laki. Ekstrimnya begituuu. Padahal kekerasan itu bukan hanya dilakukan oleh laki-laki :). Lalu kemudian teman-teman feminis radikal inilah yang dilihat sebagai corak umum dan aliran utama feminisme. Banyak dari teman-teman ini yang kemudian memilih menjadi lesbian by any cause of course, atau tidak menikah saja. Saya, tidak memilih itu. Dari yang saya pahami melalui studi feminisme, bahwa harmonisasilah yang dikehendaki oleh feminisme. saya dibesarkan di lingkungan yang tidak memperlihatkan keindahan relasi perempuan dan laki-laki, bahkan saya punya banyak sekali alasan yang bisa membuat saya benci laki-laki, atau menjadi lesbian saja.


Tapi kemudian saya bertumbuh, dan mencari, serta berpikir, bahwa saya tidak ingin menjadi blue print sebuah sistem yang membesarkan orang-orang di sekitar saya menjadi orang yang timpang bersikap. Tuhan tidak gegabah. Dia juga baik hati dan penuh perhitungan. Ia tidak menciptakan apapun untuk jadi sia-sia atau disia-siakan. Pun dalam berbagai teologi agama tidak pernah dikatakan bahwa harus ada ketimpangan, agar menjaga dunia relasi manusia tetap harmonis. Hanya ada keselarasan. Itu saja. Maka ketika saya menemukan partner yang saya anggap dapat selaras dengan saya, pencarian saya berakhir. Cieee pencariaan, kayak sayembara jodoh aja pop ah. Iya, saya pernah berpacaran dengan beberapa tipe orang dan pada akhirnya saya meninggalkan mereka karena mereka tidak melihat saya sebagai manusia berdaya, yang punya kehendak, punya pikiran, punya kemampuan untuk mewujudkan apa yang saya ingin, dan saya tidak ingin bergantung. Sementara mereka berpikir bahwa perempuan memang semestinya bergantung pada mereka, menunggu mereka putuskan apa yang baik untuk saya, lalu mendikte apapun yang harus saya lakukan untuk membuat diri saya tetap menjadi "milik" mereka. Dari sini saya berpikir bahwa keselarasan itu tidak mungkin kami rintis. Lalu ketika saya sedang menikmati kesendirian, saya bertemu sama suami saya dan kemungkinan relasi yang selaras itu tergambar jelas. Tipe orang seperti itu yang saya cari. Yang akan melengkapi hidup saya dan saya akan melengkapi hidupnya. Hanya tuhan, saya dan suami yang tau bagaimana sulitnya bisa sampai sini. Darah dan air mata kami tumpahkan *halaaah lebay lo ah!*. Saya rasa memang ada saatnya seseorang menghentikan pencariannya, ketika ia sudah menemukan. Ya eyalah pooop! jadi untuk yang ingin selalu mencari, semangat!!! kalo keabisan ongkos, jadi tukang cuci piring aja, atau jadi waitress! hihih, ngomong apa sih guwe.

jendela...

Sabtu, 11 April 2009

6 komentar

Di jendela itu saya biasa duduk menikmati kopi atau teh di sore hari, sambil menatap yang hijau-hijau. Sesekali si suami masuk dan mencium saya hihihih. Jendela itu pula yang saya buka di pagi hari sehabis bangun tidur, lalu melaluinya masuklah cahaya matahari, dan terdengarlah dengan jelas suara burung, kemudian saya hirup itu udara dingin pagi hari. Di jendela itu pula saya biasa nongkrong sambil membaca. Tidak pernah saya lakukan itu ketika di Bandung. Tentu saja karena saya tidak punya kesempatan. Saya terlalu sibuk untuk menikmati itu segelas kopi yang ternyata wanginya membuat saya bergaya seperti bintang iklan kopi yang menghirup aroma segelas kopi. Ketika masih mendedikasikan 80 % waktu saya untuk pekerjaan dan jarang sekali membiarkan diri saya diam, saya pun tak pernah punya waktu banyak untuk baca buku, sehingga baca 100 halaman pun bisa lebih dari sebulan hehe. Keterlaluan ya? memang. Ternyata bekerja terlalu lama dan terlalu keras itu buruk buat hidup. Saya kira saya telah cukup bersenang-senang, ternyata saya salah. Menikmati waktu berdua dengan diri sendiri, kala senggang yang tenang, dan tidak membuat diri saya melakukan multitasking, adalah kenikmatan yang menyenangkan. Dan ternyata pula, menghabiskan satu demi satu buku itu pencapaian yang sama menyenangkannya seperti ketika saya membuat beberapa feature dan iklan. Saya tidak lagi malas membaca, malah sebaliknya, sehari aja gak baca, berasa hampa hidup saya *tsah!.
Ya, tuhan tidak pernah mengambil, ia hanya mengganti.

Copyright © 2010 ParadoxParade | Free Blogger Templates by Splashy Templates | Layout by Atomic Website Templates