Tampilkan postingan dengan label ouwwh... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ouwwh... Tampilkan semua postingan

Tabrak lari

Minggu, 24 Mei 2009

9 komentar


Sore ini beda. Saya tidak mengambil rute biasa untuk jalan pulang. Sedang bosan lewat jalur kota, jadi saya dan suami ambil jalan melewati pedesaan, dimana pom bensin terdekat masih puluhan kilometer lagi didepan sana. Kata si suami, rute ini dulu dihindari orang karena tidak aman, banyak garong karena sama sekali tidak ada penerangan. Sekarang, garong masih ada tapi jauh berkurang, penerangan jalan pun sudah ada beberapa. Lumayanlaaah. Satu hal yang sangat membuat saya takjub adalah bahwa ada banyak lapangan bola di jalur yang saya lewati ini. Setiap 20 meter saya melihat lapangan bola luas, yang semuanya terisi oleh kesebelasan desa yang sedang bertanding. Ada anak-anak, remaja bahkan bapak-bapak. Ada lebih dari 10 lapangan bola. Pantesan dari tadi saya tidak melihat ada orang gemuk, rupanya orang sini tidak jadi gumpalan lemak karena banyak sarana untuk olahraga.



Lagipula, udara disini masih bagus. Sawah dimana-mana, pemukiman sedikit dan kendaraan pun sedikit. Mana jauh dari kota pula. Bahkan ketika saya menghirup udara sore pun segarnya masih terasa. Saya buka helm untuk membiarkan angin menerpa saya banyak-banyak. Ini salah satu yang saya syukuri ketika harus pindah ke sebuah kota kecil yang banyak bagiannya masih bermodel desa. Mulai dari kultur sosial, lingkungan, segala nuansa yang bisa kita temui dalam sebuah tempat, sama sekali berbeda dengan perkotaan, dan ini memberikan banyak inspirasi.



Termasuk ketika matahari sudah rehat bersinar. Jika saat maghrib, saya masih berkendara, saya akan direpotkan dengan serbuan serangga kecil sampai besar yang mengarah ke mata. Sebetulnya yang mereka kejar adalah cahaya lampu sorot tapi entah kenapa mereka malah menyasar mata. Jika saya tutup kaca helm, akan terdengar suara tubuh-tubuh serangga menghantam kaca. Pretak! Pretak! Pretak! Dengan tempo sangat cepat saking banyaknya serangga yang jadi korban tabrak lari, atau lebih tepatnya bunuh diri. Mati semut karena manisan, ini peribahasa yang tepat buat para serangga itu. Kiranya bukan cuma semut, manusia pun seringkali "mati karena manisan".

Derita pipi pantat

Rabu, 08 April 2009

6 komentar
Saya selalu menyukai perjalanan malam. Ada banyak hal menarik yang tidak mungkin kita temui
saat siang. Seperti yang saya temui di malam-malam saya pulang pergi ke kantor, di kota lain. Tsaah! sedaaap! emang bener kota lain lo. Saya tinggal di Bondowoso dan kerja di Jember, yang ditempuh dengan satu jam perjalanan, 2 jam jika PP. Kalo di bandung atau kota besar lainnya, satu jam tentunya waktu yang singkat untuk mengitari kota. Tapi rute yang saya tempuh tiap hari, woooh yuu maree, adalah rute yang bener-bener gak sedep.
Saya siaran jam 9 malem, berangkat dari rumah setelah magrib atau setelah isya. Kalo berangkat jam segitu sih jalanan masih rame, tapi kalo pulang (saya pulang jam 11 malem), kegelapan menjadi kawan akrab. Begitu keluar kantor, saya langsung menempuh jalanan yang luruuuus terus. Awalnya masih di kota, banyak rumah dan lampu jalan. Keluar dari kota, masuk pinggiran, masih agak banyak rumah, walaupun sudah banyak area yang gelap. Lalu luruuuus terus, melewati kawasan hutan kota (deket rel kereta api pula), dan itu alamak gelapnya, sepi pula!. Lalu mulailah saya memasuki kecamatan pertama di kabupaten jember. Rumah-rumah mulai jarang, kebanyakan pepohonan, untungnya ada lampu jalan yang masing-masingnya berjarak lumayan rapat. Jember adalah kota yang PAD nya cukup tinggi, didapat dari industri tembakau. Beberapa perusahaan rokok terbesar di Indonesia mengambil tembakau dari kota ini, makanya pemda nya punya anggaran cukup untuk penerangan jalan yang memadai. Syukurlah.
Setelah melewati kecamatan pertama, saatnya saya melalui jalan kelok sembilan *tsaah! sedap bener istilah guwe. Memang tidak ada nama resmi untuk jalanan rute jember-bondowoso, tapi karena banyak tikungan dan jalan yang meliuk-liuk, saya namai saja kelok sembilan, walaupun kelokannya lebih dari sembilan. Yaaa bayangkan saja jalanan menuju cirebon (pas di cadas pangeran), atau jalan lintas sumatera yang didominasi oleh pepohonan, ya gitu deh rute jalan yang saya lewati. Si Mio saya pacu dengan kecepatan super!! 40 km/jam! hihihihiih. Kenapa cuma segitu? bok! orang-orang sana itu demen banget sembalap dan berkendara gak pake aturan, nah kalo saya ngebut ntar disalip atau ada yang motong jalur dari arah berlawanan, apa gak bahaya tuh! Ok, mulai masuk ke wilayah kegelapan nih. Melewati hutan pinus, dengan kontur jalan naik turun, kalo naik ya naik banget sampe ketika kita ada puncaknya, kita gak bisa liat jalan didepan, kalo turun ya beneran kayak naek mini coaster. Selesai hutan pinus, lewatlah saya di pabrik tembakau. Bau tembakau tercium jelas. Gelap gulita deh jalan didepan pabrik itu. Lepas dari bau tembakau, saya melewati kecamatan lainnya, dengan beberapa palang "HATI-HATI!!! KAWASAN RAWAN KECELAKAAN", mampus gak tuh! deg-deg serrr kan jantung saya (aiih pooop, kok pake serr siiih, dangdut banget deh kamyuu), dan itu jalanan gelap gulita sodara-sodara! mana tanjakan tajam pula! lalu ketemu deh saya sama tikungan entah keberapa. Oh bau duren mulai tercium. Asiiik! ini bagian jalan yang paling seneng saya lewatin, karena di pinggirnya banyak tenda-tenda penjual duren yang terang benderang, dan wangiii!.
Setelah kawasan ini, lewatlah saya kembali di sebuah hutan kayu, entah kayu apa. Biar gak mikirin yang nggak-nggak, biasanya saya dan suami bermain Berpacu dalam Melodiii! (dibaca dengan intonasi Koes Hendratmo), tentunya lagu-lagu jadul yang jadi pertanyaannya. Atau kami main tebak acara TVRI, najes kan gamenya! hahaha! Kalo bosen maen, biasanya saya nyanyi keras-keras, biasanya lagu-lagu legendaris macam lagunya almarhum Gombloh dan Bruri Pesolima eh Marantika eh Pesolima eh apapun itu lah (bapak yang satu itu emang suka gonta ganti nama, sesering dia berganti agama). Selesai hutan kayu, giliran sebuah desa (saya lupa namanya), saya lewatin. Dengan rumah yang tidak begitu banyak dan penerangan beberapa lampu jalan, masih so so laah, gak nakutin amat. Terus kecamatan berikutnya yang lagi-lagi sepi dan gelap gulita. Tadi malem itu saya sempet kaget banget karena ada orang tinggiii banget, kurus pula, berkerubun sarung, jalan hampir ke tengah jalan (dari arah yang berlawanan) dengan ujung telapak kaki saling bertemu, nah susah kan bayanginnya. respon spontan saya langsung "Yang! liat gak yang barusan?! itu orang atau hantu sih?!!!. Setelah melewati tanjakan tajam yang entah keberapa, saya melewati hutan jati, dan ini asli gelap segelapnya! mana luas pula hutannya, dan seekor musang pun nyebrang jalan. Dasar monyet! eh musang! bikin motor saya agak ngageol (red : bergoyang). Deg-degan lagi deh saya. Gimana kalo ketabrak, dan gimana pula kalo musang jadi-jadian, kemudian saya dan suami jadi diikutin kemana-mana terus jadi kena kutukan musang jadi-jadian. Hiiii!!.

Naah, hutan jati udah lewat, gilirannya sebuah kota kecamatan dengan plang "HATI- HATI, DAERAH RAWAN KECELAKAAN!!" menyambut kami. Kata si suami, daerah itu emang jadi langganan kecelakaan, bahkan dua sodaranya pernah kecelakaan disitu, katanya sih karena orang situ nyetirnya koyo wong edyan! (red : kayak orang gila). Jalanan yang gelap tiada akhir masih belum selesai. Kembali kami melewati hutan jati, dan melintaslah seekor kucing. KUtilll!!! sekali lagi motor saya agak oleng karena menghindari nabrak kucing. Eeeh beberapa jauh dari situ, masih didaerah yang gelap, ada seekor anjing bosen idup berdiri di tengah jalan. Di klaksonin dia kagak pergi, disorotin lampu dia malah diem di tengah jalan, akhirnya terpaksa doong melambat. Gimana kalo pas melambat ada garong?!!! tu anjing, anjing ngepet kali ya hauahuahauh! siapa tau bukan cuma babi aja yang ngepet. Deg-degan masih berlanjut. Di tanjakan tajam berikutnya, biasanya ada truk pengangkut kayu, truk gandengan pula! dengan muatan segede-gede alaihim yang bikin deg-degan karena gak kuat nanjak, takut ngeglundung aja gitu itu kayu glondongan terus nimpa saya dan suami. Saya Nyalip lagee! saya memang bener-bener belajar salip menyalip di rute ini, padahal saya paling gak suka nyalip. Lepas dari perbatasan jember, mulai deh masuk kota bondowoso yang penerangan jalannya gak sebanyak di jember. Konon, karena PAD bondowoso itu sangat rendah, jadi pemdanya gak ada dana buat penerangan jalan. Penerangan minim, daerah pedesaan dengan amat sedikit rumah, membuat perjalanan ini jadi lengkap, lengkap menderitanya! hehehehehe. Di kanan kiri jalan, ada orang-orang yang sedang ngadem, dengan tiduran di pinggir jalan. Setengah badan tiduran di jalan, setengahnya lagi di pinggirnya. Jelema gelo!! (red : orang gila). Gimana kalo ada motor dengan kecepatan tinggi lewat situ? apa gak kelindes tuh?!. Setelah itu, kembali saya melewati hutan jati. Ya salaam, kapankah semua ini berakhiiir?! deg-degan berakhir ketika saya memasuki batas kota. Lega hati, lega pantat. Karena akhirnya ketemu sama jalanan terang dimana saya bisa menepi sejenak meluruskan badan dan menstabilkan pantat. Sedikit megal megol, biar pipi pantat kanan dan kiri tetap seimbang ketebalannya hihihihihih.

"Tokkeee! tokkeee!!"

Minggu, 05 April 2009

7 komentar
Bayangkan anda berada di tepian sebuah tempat yang kanan-kirinya persawahan dengan gradasi hijau muda-kuning-hijau tua-coklat. Tinggal duduk saja di pinggir jalan dan nikmati warna-warnanya, jangan lupa hirup udaranya sesekali, hiruplah dengan tidak buru-buru, biarkan itu mengisi paru-paru, mendesak semua polutan yang selama ini kita hirup di udara kota, dan mari berharap polutan itu akan memampat kemudian menjadi angin dan keluar sebagai kentut. Tengadahkan kepala perlahan, lalu lihat Langit jernih yang hanya ada di tempat yang minim polusi, dengan batas-batas gulungan awan yang tegas biru-putihnya, lalu tengoklah agak kebawah dan lihat permukaan gunung yang tidak gundul. Empat pegunungan yang tidak gundul, karena para kapitalis tidak doyan kota ini, karena kota ini kota pensiunan, katanya. Untunglah.

Kesederhanaan, kemurnian, dan ketenangan ada di kota ini. Kota kecil bernama Bondowoso yang mayoritas penghasilan penduduknya dari bertani. Dan saya tinggal di salah satu desanya, desa Sekarputih. Jangan bayangkan desa tertinggal seperti yang jadi tujuan gerakan ABRI Masuk Desa. Tidak ada lingkungan kumuh disini, jalanan mulus diaspal,
listrik pun sudah lama masuk, makanya pengusaha warnet buka bisnis di desa. Semua warga punya tanah luas, bahkan kebanyakan punya rumah yang sangat layak huni. Permanen, dengan garasi dan mobil didalamnya. Semua didapat dari hasil panen. Alam memberikan segalanya bukan? Selama itu dijaga, alam akan terus berbaik hati.

Jika sore saya mengelilingi desa ini, terdapat para sapi yang sedang leye-leye di halaman. Santai, damai, sesekali menguap, mungkin kekenyangan sehingga mengantuk. Sapi-sapi besar seharga 15 juta, yang menjadi penanda status sosial sekaligus alat investasi. Makin banyak sapi seseorang, makin kaya lah dia. Hitung saja, jika saya punya 3 sapi maka saya punya duit 45 juta sedang nangkring di kandang. Blackberry? gak laku!. Hanya sapi, sodara-sodara. Disini tidak ada makhluk-makluk social climber yang memaksakan kemampuan agar diakui oleh sebuah kelompok. Terdengar menyedihkan dan putus asa. Jika punya uang ya beli sapi dan sawah, jika tidak ya sudah, jadi penggarap sawah orang saja, atau bertani sayuran. Sederhana kan? Tak perlu takut tidak bisa makan, toh semua alam sudah sediakan. Untuk memasak pun tinggal ambil kayu bakar di halaman belakang untuk bahan bakar, dan petik sayuran dari kebun sendiri. Mau beras? jika tidak punya sawah, ya beli saja berasnya dari tetangga yang punya sawah, dan jika tidak punya uang, ya barter lah dengan sayuran. Mau makan ayam? tinggal tangkap ayam sendiri dan sembelih, jika tega. Merasa kurang protein? bangun saja pagi buta, lepaskan ayam-ayam yang dipunya ke halaman belakang, tunggu sebentar dan ayam akan bertelur, lalu punguti telur-telur kampung itu dari permukaan tanah, Fresh from the ass. Tidak repot, tanpa pretensi, apa adanya, tidak licik, tidak politis, dan tidak merugikan. Tidak diperbudak uang. Kemudian ketika malam tiba, keluarlah dan duduk-duduk di halaman depan lalu lihat langit sambil hirup udara malam pedesaan yang segar. Mau hitung bintang pun bisa, dijamin bakal cape menghitung karena langit disini pantang menyembunyikan bintang. Sesekali pejamkan mata dan nikmati bunyi jangkrik, kodok, riak air di saluran irigasi, ayam insomnia yang berkokok di tengah malam, diselingi si tokek yang tidak pernah mengeluarkan bunyi lain selain "Tokkeee! tokkeee!!". Amboy...




iwiwhwiwiwiwiwi

Sabtu, 28 Maret 2009

6 komentar
Puluhan semut merah bagai bergerombol didadanya, meninggalkan rasa gatal, gemas dan serupa kesal, mengiringi ia yang melangkah ke pegadaian bersama anak sulungnya. Menggotong sebuah barang mahal dari Turki, yang dioleh-olehi suaminya manakala sang suami pulang merantau. Ia akan menggadaikan barang itu, dengan harapan mendapat harga pantas sehingga teratasilah sedikit masalah keuangan keluarga.
"Ini bukan barang berharga bu, jadi kami cuma bisa menghargai barang ini 50 ribu"

Sambil mengucapkan terimakasih pada petugas pegadaian kemudian berlalu pergi, ia bersungut-sungut "keterlaluan, masa cuma dihargai 50 ribu ni!", dengan agak terbelalak, berkata pada anak sulungnya. Dalam perjalanan pulang, masih dengan menggotong barang yang cuma dihargai 50 ribu itu, mereka berdua berjalan dengan langkah yang entah kenapa malah menjadi ringan, dipikir-pikir, konyol juga ya berharap pada pegadaian, dan adalah sebuah kebodohan jika ia mau setuju pada harga si petugas pegadaian. "Cih! apanya yang menyelesaikan masalah tanpa masalah?!", eee...rupanya ia masih kesal pada pegadaian. Mereka berdua merayapi waktu perjalanan pulang dengan menertawakan diri sendiri, menertawakan hidup dan bagaimana setiap manusia terombang-ambing dalam misterinya. Tuhan punya selera humor yang bagus.


Suara muadzin terdengar jelas, dari mesjid yang hanya berjarak 10 rumah. Mukena basah oleh air mata. Dengan amat hati-hati, ia berusaha mengontrol akibat dari isak tangisnya. Marilah bersuara sehalus mungkin, dan bergerak sesedikit mungkin, biar hanya tuhan yang tau tangisnya. Si sulung mengintip dari pintu. Sulung dapat membaca punggung itu. Pundak si pemilik punggung tidak bergerak naik turun, sangat tenang, tapi ia tau benar sang pemilik pundak sedang terisak, dalam doanya. Sulung tau sang pemilik pundak sedang galau, tentu saja tau, karena mereka satu rumah. Rumah yang sedang malang, sehingga para penghuninya terpaksa harus menjual barang berharga satu persatu, dipimpin oleh sang ibu, ibunya si sulung. Terusik oleh perasaan diamati, sang pemilik pundak bangun dari ibadahnya. Tidak lupa cuci muka, dan menenangkan diri sejenak menghilangkan bukti-bukti tangisan. Ia selama ini tidak pernah menangis didepan anak-anaknya. Tidak dulu, tidak sekarang dan tidak nanti. Ia yang selama ini mengajarkan kemandirian dan ketegaran pada si sulung dan tidak si bungsu karena ia punya cara sendiri untuk mendidik anak itu, tidak boleh terlihat begitu terbawa persoalan. Anggap saja persoalan yang mereka hadapi sekarang cuma kerikil kecil. Dan ia telah mendidik si sulung, anak perempuan satu-satunya untuk jadi tegar, karena hidup bersikap lebih keras pada perempuan. Siapa tau nanti ia pun mendapatkan suami yang kurang bertanggung jawab seperti suaminya alias bapak anak-anaknya, sehingga si sulung akan amat siap nanti. Sekarang...tinggal berserah diri pada tuhan. Ia yakin, tuhan akan mengabulkan doanya tadi, seperti tuhan mengabulkan doa-doa sebelumnya, yang membuat ia kemudian menjadi pendoa yang amat teguh.


N.B : Saya sedang rindu berat pada mama saya di Bandung. Dengannya saya ngobrol di telepon beberapa hari lalu, minta dikirimi kopi aroma, kami tertawa-tawa tapi ia tidak tahu betapa sulitnya saya mengendalikan diri ketika itu. Harus terdengar tertawa padahal saya sedang menangis gemas. Tangan saya meremas pinggiran tempat tidur yang saya duduki. Saya ingin memeluknya. Seperti ketika kami masih satu rumah, dan dirundung masalah, kami suka berpelukan, masing-masing membutuhkan rasa tenang. Ia yang selalu menjadi inspirasi kekuatan yang juga telah membentuk saya menjadi orang yang kuat, jadi kompas, jadi weker, jadi apapun yang saya butuhkan, berada jauh disana. Butuh sebuah hidup baru, untuk membuat saya merindu seperti ini

God bless me

Jumat, 27 Februari 2009

24 komentar
Rupanya saya memang orang yang sangat diberkati.
Selama seminggu ini, bandung terus menerus diguyur hujan, dari siang sampai malam, bahkan sampai keesokan paginya. Membuat saya ketar ketir, bagaimana jika tanggal 26 nanti turun hujan terus menerus? Ah, berdoalah saja pada pemilik hujan, semoga dia berbaik hati. Dan dia memang maha baik hati. Tanggal 25 ternyata hujan tidak turun, lalu selesailah satu acara, dan legalah saya. Tanggal yang dinanti tiba. 26 pagi, gerimis menyentuh muka saya, kala saya tertegun didepan rumah. Langit amat mendung. Kiranya akan hujankah hari ini? Pukul 9 lewat sudah. Semua sudah sah, tanpa derai hujan. Jam 11, satu demi satu kawan tercinta datang. Ya, cuma merekalah yang saya kehendaki. Bukan orang-orang yang bahkan saya tidak ingat, kapan saya kenal dia. Tengah hari tiba, dan hari malah makin cerah. Makin banyak orang berkumpul. Makin riuh tawa yang saya dengar. Semua orang memenuhi seluruh ruangan yang memang segitu-gitunya. Sudah lama saya rindu pada suasana ini. Ketika semua kawan yang dulu berada pada sebuah tempat yang saya sebut rumah kedua, lalu tercerai berai, kemudian berkumpul lagi untuk hari paling khusus dalam hidup saya, saya bahagia. Ketika satu demi satu teman dari berbagai awal perkenalan berdatangan memberikan saya pelukan hangat selamat bahagia, dan senyuman yang menenangkan hati, saya sadar saya amat sangat diberkahi. Tidak ada satupun muka asing. Semuanya orang-orang yang mengisi hidup saya. Inilah yang saya inginkan. Cuma sebuah moment yang dibuat dengan amat sangat sederhana, namun menjadi sangat berarti karena semua yang hadir adalah orang-orang yang telah menyentuhkan arti dalam perjalanan saya berkehidupan. Dan hari itu pun, ayah yang tadinya tidak dapat hadir, ternyata hadir. Tak bisa tidak saya menangis ketika memeluknya, dan itu adalah pelukan pertama dalam hidup kami, sejak saya mengenalnya sebagai ayah. Tadinya saya berlagak tidak peduli, dan sok sudah siap dengan kemungkinan bahwa dia benar-benar akan tidak hadir dalam saat terpenting dihidup saya, tapi ternyata, jika kebahagiaan atas kehadiran dia sudah membuat jantung saya berdegup keras seperti ini, saya yakin ketidakhadiran dia akan benar-benar membuat saya bersedih. Dan hari itu, dia ada, dan itu cukup. Lalu saya melihat seseorang yang bersamanya saya telah melalui banyak hal. Dia disana, menatap saya dengan mata teduh dan senyum yang sangat memaklumi, ketika saya pecicilan haha-hihi dengan teman-teman. Terimakasih sayang. Ketika saya melihat mama yang juga terlihat senang, saya pun senang. Lalu saya berdiam diri sejenak, melihat sekeliling, Ya, saya memang diberkati :)

don't we all love drama?!

Jumat, 20 Februari 2009

13 komentar
Beberapa hari lalu, saat sedang duduk-duduk bersama para wartawan, seorang kameramen sebuah tv lokal duduk didekat saya sambil ngobrol dengan temannya

kameramen : "Tadi saya ngeliput ke ...., ada anak nangis di tempat kejadian, saya sorot terus tuh kameranya ke dia, suruh dia nangis lebih keras. Hahaha makin keras makin bagus keliatan di kamera!!! (intonasi melecehkan dengan amat sangat semangat)

Teman dia : Wah hahahaha, dapet gambar yang bagus kan?

SAYA MUAK! saya yang polos ini sangat sangat benci melihat muka mereka berdua. Don't we all love drama?!! cih! yang satu jurnalis, satu lagi kameramen dan mereka bekerja di dunia jurnalistik. Saya muak dan sedih. Saya mungkin tidak lebih baik dari mereka terutama si kameramen, tapi saya cukup tau bahwa tangisan anak itu sama sekali bukan bagian dari sebuah pertunjukan, dan tak perlu juga saya menyuruh si anak menangis lebih keras untuk memuaskan keinginan saya yang ingin mendapatkan secuil drama.

Lu ganggu deeh!!

Selasa, 17 Februari 2009

7 komentar
tadi siang di deket unisba, saya dikagetkan oleh salipan sebuah vespa dengan suara knalpot yang keras dan sember, amat sangat mengganggu. Sang pengemudi memacu vespanya dengan kencang sambil salip sana sini. Iih situ show off yaaa? terlihat jelas bagaimana ugal-ugalannya orang itu. Tidak berapa lama dari dia menyalip saya, saya mendengar suara bruk brak cukup keras. Perasaan saya mengatakan si pengemudi vespa tadi nabrak orang. Oh ternyata, tepat didepan unisba tamansari, makhluk ugal-ugalan yang inginnya saya jitak dia pake helm itu terjungkal dari motornya. Dia tidak menabrak kendaraan lain karena jalan ketika itu sedang sepi, tapi dia terjungkal dengan aduhai. Dengan terpincang-pincang dia membangunkan vespanya, dan membetulkan kap mesin yang terlepas. Ketika lewat disebelah dia, ih pengennya saya bilang "SUKURIN LU!", tapi saya hanya tersenyum, dan dalam hati bilang "rasain lu, suruh siapa nyetir kayak tadi". Yaa yaa, saya jahat yaa? biarin ah. Saya tidak akan bisa punya simpati apalagi empati pada orang dengan perilaku yang membahayakan orang lain

Bodrek a.k amplop

Jumat, 30 Januari 2009

11 komentar
Beberapa waktu lalu saya liputan ke sebuah acara besar yang dibuka oleh gubernur jabar. Beberapa pejabat tinggi pun hadir disitu. Karena aula itu sangat penuh dan saya gak kebagian kursi, jadilah saya gelesotan di lantai. Lalu seorang perempuan menghampiri saya.

Saya : Mba dari media mana?
Dia : Dari media bla bla bla
Saya : Wah saya belum pernah denger tuh mba
Dia : (langsung buka tas ngambil korannya) ini mba
Saya : (dalam hati) ini yang nulisnya ngerti cara nulis berita gak ya? kok begini cara penulisannya? mmm fotonya juga dibuat sangat seadanya. Niat gak sih?
Dia : Saya baru aja ditugasin ke bandung mba
Saya : Ooo gitu (perasaan saya udah gak nyaman ketika itu)


Lalu saya pun mencari kerumunan wartawan, karena para wartawan itu biasanya ngumpul di satu tempat. Oh itu mereka! saya pun ikut nimbrung. Oh ada humas gubernur juga diantara para wartawan! kang Alif namanya. Saya pun ngobrol dengan Kang alif. Eh tapi kok si mba ini terlihat tidak nyaman, dan terlihat tidak ingin memulai obrolan dengan siapapun yang ada di kerumunan wartawan, sampai saya mengenalkan dia ke Kang Alif. Lalu rombongan gubernur keluar dari aula, langsung diburu oleh para wartawan. Lalu saya mencari ketua Dewan Mesjid Indonesia. Dapatlah saya ngobrol dengan beliau sekalian reportase. Si mba itu ada disebelah saya, tapi eh kok dia gak ngewawancara yaa. Dia cuma ngerekam wawancara saya sama bapak itu yang lumayan singkat dan menurut saya faktanya belum cukup untuk menulis sebuah berita di media cetak. Niat gak sih? selesai acara saya berpisah dengan dia. Lalu beberapa hari kemudian, dia telepon saya


Dia : Mba, aku mau cerita sesuatu boleh yaa
Saya : boleh. cerita apa?
Dia : Mba masih inget bapak yang kemarin kan. Setelah mba pergi itu kan saya ke dia lagi, terus yaaa ngobrol-ngobrol gitu, yaaa saya minta pengertian dia laah untuk transport dan sekedarnya. Terus tiba-tiba dia minta ijin untuk sholat dulu, ya udah saya tungguin dia, eee masa dia gak muncul-muncul mba, terus sepatunya juga udah gak ada, berarti dia kan ngejinjing sepatunya ya mba terus lewat belakang
SAya : (nahan ketawa)
Dia : Saya kesel banget deh mba! gini ya mba, kalo mba kan wartawan dari media besar jadi kan pasti udah ada koordinatornya untuk yang kayak gitu?
Saya : (udah mulai kesel) yang kayak gitu gimana? amplop maksudnya?
Dia : Yaaa pengganti transport dan seadanya laaah
Saya : Saya dan teman-teman seangkatan saya dari media yang anda bilang besar ini gak pernah terima amplop! apa pula itu koordinator-koordinator amplop. Ngeliput berita ya ngeliput aja
Dia : Yaa bukan gitu mba. Kalo mba kan gajinya tetap, jelas, sedangkan kami yang mingguan ini kan gak sebesar yang harian pastinya. Jadi wajarlaaah kalo kami minta uang transport atau yaaa apalah itu, kan biasanya orang-orang yang diberitakan di media kami itu suka ngasih uang
Saya : (oooo rupanya situ wartawan amplop) Mba, saya rasa mba salah tempat deh. Mba liput aja caleg-caleg, biasanya kan mereka ngasih uang.

Ah sejak saya tau dia begitu, saya jadi males ngangkat telepon dari dia. Lalu beberapa hari kemudian, saya liputan di sebuah acara di gedung sate.

Teman : Teh teh, yang kayak gitu itu wartawan bodrek
Saya : ha? ooo yang sedang ngasih liat majalah itu ke kadisdik?
Teman : Iya teh! mereka kan kayak gitu. Mereka ngasih liat majalah itu pasti karena media mereka gak terkenal. Liat aja orang itu teh? teteh gak pernah kan liat dia di kumpulan wartawan?
Saya : Iya sih
Teman : Soalnya para wartawan bodrek ini tempat ngumpulnya beda teh sama para wartawan dari media yang jelas
Saya : Oooo gituuuu

Pantesan, ketika para wartawan ngerubutin gubernur dan kadisdik lalu bertanya mengenai persoalan yang sedang aktual, si wartawan yang kata temen saya wartawan bodrek ini bilang dia wartawan dari garut dan tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang udah basi banget. Masa sih garut segitu telatnya. Saya rasa gak. Atau jangan-jangan memang si wartawan ini nanya untuk merebut perhatian aja. Sejak dulu saya tau istilah wartawan amplop dan bagaimana sepak terjang mereka (tsaaah), tapi saya belum pernah ketemu dengan mereka langsung, sebelum saya ditugaskan jadi reporter yang nge-pos di gedung sate. Ooo rupanya begitu toooh wartawan amplop a.k bodrek itu. Yaaa yaaa

Pepaya..mangga..pisang..jambu....

Kamis, 22 Januari 2009

8 komentar
gambar dari sini

supermarket
Bawang merah 1 kg 18000
Pepaya 2 kg 12000
Manggis 1 kg 9000
Rambutan 3 kg 18000
Baso mawar 1 pak gak tau

pasar
Bawang merah 1 kg 8000
Pepaya 2 kg 6000
Manggis 1 kg 5000
Rambutan 3 kg 5000
Baso mawar 1 pak 11000

Tadi malam saya pergi ke pasar (btw, kok kalimat awalnya kayak karya tulis pasca liburan pas SD ya heuehueh). Niweei, saya si pemakan buah ini selalu pergi ke pasar tiap kali persediaan abis. I love traditional market!! kenapa? Coba liat perbandingan harga diatas. Harga-harga di pasar bisa sepertiganya dari supermarket. Bisa dibayangkan betapa kita senangnya diperbudak sama kapitalisme? dan sudah berapa banyak uang kita yang mengalir pada kantong kapitalis? dan jumlahnya uuugh! bikin kesel gak sih kalo dikalkulasi. Yaa yaa emang siih kita juga butuh segala macem produk kapitalis, tapi sejak saya mulai sadar (dulu-dulunya gila hehehe), saya pelan-pelan mulai mengurangi pemakaian produk K. Setelah dipikir-pikir, apa sih yang membuat harga-harga di supermarket itu mahal? mmmm karena :

- Pajak? seberapa besar sih pajak sampe harga di supermarket bisa tiga kali lipatnya harga di pasar

- Jalur distribusi yang panjang? Itu yang umum terjadi di negara ini dimana orang-orang senang sekali bikin jalur panjang dan berliku, mungkin dilatar belakangi oleh permainan anak ular naga panjangnya bukan kepalang. Di jalur distribusi yang panjang ini tentu ada yang namanya pungutan ini itu, dan ini semua yang dibebankan pada konsumen

- Merk? Makan tu merek! hauhauhauahuah. Yaa yaaa, kita kadangkala begitu setia pada merk. "Guys, gw mau ke supermarket dulu yaa", ngomong kata supermarketnya aja udah terdengar gaya. Coba ganti dengan kata pasar. Yang denger mungkin akan bilang "Aih maaak, kayak pembokat aja ke pasar!". Belum lagi dengan gandrungnya diskon ini itu di supermarket, padahal berapapun diskonnya, harga-harga di supermarket tentulah masih sepertiga lebih mahal dari harga di pasar tradisional

- Beban biaya ini itu. Yaa yaa, ini sepertinya yang cukup besar. Sewa gedung, karyawan, franchise, segala macem infrastruktur dan sekali lagi, ini semua dibebankan pada konsumen
- Rasa nyaman, eksklusifitas, gengsi, dll

- Mungkin masih ada yang mau nambahin kenapa harga-harga barang supermarket itu mahal?


Belanja di supermarket emang menyenangkan (kadang-kadang), tapi entah kenapa saya lebih senang belanja di pasar tradisional. Selain dari pertimbangan harga, ada banyak aktivitas menyenangkan di pasar. Tawar menawar salah satunya. Ada interaksi antar manusia dan ada pembelajaran mengenai berbagai pola dan gaya komunikasi, kita juga bisa mengenali berbagai ekspresi dan siapa bilang semua pedagang di pasar itu orang-orang menderita dengan muka-muka muram menyedihkan? oh tidak teman, berbelanjalah ke pasar untuk tahu. Saya bisa berhaha hihi dengan para pedagang dan ketawa mereka tulus tuh, wajah mereka pun terlihat tidak nelangsa.


Pasar juga memperlihatkan berbagai tampilan manusia. Ada pedagang yang saat diam mukanya garang, pas ngomong eee ternyata senyumnya bagus dan giginya bagus hauhauahua. Ada ibu-ibu penjual tempe yang demen duduk ngengkes dan hembusan asap rokok dari mulutnya itu looo (reman banget loo ibu tempe ini dan sekilas mengingatkan saya pada mamih mucikari di film-film). Ada penjual buah-buahan yang pepayanya jaminan mutu (dan dia jujur loo, kalo emang masih mentah ya bilang mentah) dan mukanya ramaaah banget.


Di pasar juga tempat berkumpulnya orang-orang yang punya toleransi pada sesuatu yang sama, yaitu keminiman. Hanya dipasar kita bisa beli cengek/rawit campur bawang merah-bawang putih cuma dengan harga 1000 rupiah sajah! dan itu udah bisa dipake buat racikan bumbu 4-5 kali masak. Edun kan?! Selain itu, pasar tradisional juga sangat indonesia. The smell of my country gitu loo! hauhauhauha. Bau nya yang khas emang gak bisa didapet dimanapun. Apalagi kalo udah desek-desekan bareng delman dan truk pengangkut ayam huahauahuahauh! Bau yang pastinya akan kita rindukan kalo kita sedang ada di eropa (mm kenapa eropa ya?). Pemandangan pasar juga bagus loo kalo dipotret (sayang foto yang saya ambil di pasar ciroyom hilang karena saya lupa nyimpen hehe). Kombinasi temaram lampu tiap jongko, serta warna warni sayuran dan buah-buahan itu sangat enak dilihat. Ah betapa indonesia ini kaya!

Minggu, 14 Desember 2008

7 komentar
Belakangan ini, seorang teman sering mengirimi saya puisi. Dia yang tak mau diketahui nama aslinya, ingin dipanggil cenayang. Puisi-puisinya bagus, dan diksinya itu looo, saya aja bingung kok bisa sih dapet kata-kata itu? darimannaaaa? ini yang saya salut dari orang-orang yang bisa bikin puisi. Dapet aja deh situuu hahahahah. Dibawah ini beberapa puisi dari cenayang


261008, 20:46
Bernyanyilah hujan...
Bernyanyilah tentang syair yang menyambar nyambar
Dirimbun dedaun membasah nyala berpijar
Yang gelap tampak ujud, yang takut sembunyi muka
Tetes-tetes tiada terhitung kapan berhenti meluka
Tampak kelambu hangat halau inginmu bersahabat
Nyatanya diluar sana dinginmu tetap sendiri ibarat riak yang tersesat
Meronta-ronta mencari dermaga
Namun hujan itu tetap menyatu meski pangkal dan ujungnya tiada yang tau nyata


281008, 00:08
Inginnya aku berbagi alur buah pena yang tertoreh dari tinta imajinasi diantara kita
Tapi nyatanya engkau tetap diam
Maafkan aku yang telah menerobos dan
mengotori tiraimu


311008, 00:52
Sepasang senyum jatuh dan saling berpagut di peraduan
Tapi bukan ritual itu yang aku pikirkan
Kurasa malam jumat ini satu senyum jatuh menjerat pekat
Lalu pikiranku disetubuhi dengan sangat
Hingga bibir basahku mengulum kata : aku, malah jumat dan pekat adalah kesatuan yang tenggelam dalam cahaya renungan ALLOHUMMA
Sebab seluruh penghambaan bermuara
Aku, malam jumat dan pekat mengerucut menembus persetubuhan dengan renungan
Hingga airmata melaut ingin dekat denganMU


101108, 07:42
Adakah kabut masih menyelimuti pagimu? atau mungkin engkau masih mengeloni alur pelangi yang mengelindan dalam batas mimpi
Indahmu melena, embunku melantang terjang batasmu
Met pagi...


231108, 22:14
Wahai malam yang berganti siang
Kutitipkan satu bidadari
hangatkan ia waktu dingin
Sejukkan ia andai gersang menerpa diri
Jauhkan ia dari tabiat dosa
Untuk waktumu ajarkan ia tentang sorga


Puisi diatas itu favorit saya heueheuheu

251108, 17:35
Tampakan seraut wajah untukku
Sebelum renta memaksaku terlentang di padang ilalang
Turunkan satu hati untukku
Sebelum mataku memaksa mengatup tinggalkan mimpi yang kian menyingsing


091208, 00:32
Dimanakah sesungguhnya puspita itu meranting?
Jawablah wahai bulan hitam
Jangan kau lempar murungmu karena aku sedang gulana
Menggantang asap untuk sekuntum puspita yang meranum di padang safana
Aku tiada lelah mencari untuk sebaris arti
Engkau bulan hitam kian menyembunyi
Dari puspitaku, dari tangkainya dari semerbaknya hingga malam usang kau tiada geming
Mencongkak sembunyi rupa dibalik hitammu
Aku berkata padamu bulan hitam
Puspita bersama telapakku menjelajah dipersembunyianmu



Ihihihihih...ada nama saya


091208, 23:23
Senyum itu adalah guratan elok lukisan keanggunan
Lahir dari dasar telaga jiwa yang mengelindan
Senyum itu adalah ciptaan raja diraja
Tiada sanggup tangan-tangan leta menyerupa karya bersahaja
Senyum itu adalah ibarat air sorga yang menetes di sela pahit getir nafas yang mendahaga
Senyum itu kutunggu dalam genggam doa malam yang menyayup ditelan mimpi


131208, 18:48
Berlarilah jelita dengan betis putihmu
Jangan hiraukan tapaku, tak guna ditunggu
Cepat berlari tunjukkan sepasang mata biru
Yang kau punya untuk berkaca
Pada matahari kau akan menjelma


131208, 18:54
Bila yang membuat indahku engkau, tapi mengapa mesti ada awan diwajahmu
Ingin kusibak awan untuk untuk wajahmu namun kutetap termangu
Sendiri menghias pelangi
Engkau menepi menghindar diri



Walaupun banyak dari puisi diatas yang saya gak paham artinya hehehehe, tapi saya kagum sama pilihan kata-katanya

Selaput...

Senin, 24 November 2008

17 komentar
Anak itu melangkah keluar rumah dengan senyum sumringah. Ia tau, ia akan bergembira di sekolah nanti, yang ia tidak tahu adalah bahwa kali ini, nasib berkata lain. Kelas itu, meja yang bagian depannya bertutup, yang ketika dibelakangnya terjadi sesuatu dan tidak akan terlihat, menjadi awal mimpi buruk si anak. Kali itu pelajaran mendikte. Satu persatu anak perempuan dipanggil ke meja itu. Dengan berada dibalik meja, membelakangi tubuh sang guru, membacalah satu persatu anak perempuan. Giliran si anak sumringah membaca Buku CBSA. Siapa sangka, sang guru mengangkat rok anak itu, sedikit meregangkan kedua pahanya, dan memasukan penisnya diantara itu, meninggalkan rasa hangat lalu selesai ketika selangkangan si anak telah basah. Kejadian ini terjadi beberapa kali. Di balik meja yang bagian depannya tertutup, sehingga tidak akan siapapun melihat apa yang terjadi dibalik itu.


Hari itu, si anak sumringah mendadak berubah. Dirinya, jiwanya, hidupnya, sudah berubah. Dia hanya seorang anak kecil, tapi bagi siapapun, mendapat perlakuan seperti itu pasti akan meninggalkan luka yang amat dalam. Apalagi untuk anak sepintar si anak sumringah, yang saat kelas dua sd sudah melahap banyak pengetahuan. Hari itu, hatinya pedih. Hidup tidak akan pernah sama lagi untuknya. Berlalu waktu, si anak tumbuh dewasa, tapi hatinya masih pedih. Kepercayaan dirinya hilang hari itu. Binar matanya hilang hari itu. Karena terkurung masa lalu yang pedih, ia jadi tidak bahagia. Namun hidup berproses. Dengan melepas ketakutan dari masa lalu dan berterimakasih pada hidup atas apapun yang terjadi, kepedihan itu semakin berkurang, tapi tidak akan pernah sepenuhnya hilang. Dan ketika beberapa hari lalu, si anak sumringah yang kini sudah dewasa itu menonton berita dan melihat liputan kasus mengenai guru yang mencabuli muridnya, hatinya marah. Si guru itu telah merusak masa depan muridnya dan tidak ada satupun hukuman dan terapi yang bisa memperbaiki yang telah terjadi. Masa depan dua anak telah rusak.


Dalam sebuah pembicaraan, si anak sumringah yang kini telah dewasa bertanya pada seorang teman yang menjawab tidak suka pada para perempuan penulis karena mereka selalu membicarakan persoalan kelamin. Ketahuilah kawan, hidup kami itu rumit. Bukan hanya hidup kami yang rumit, tapi juga tubuh dan persoalan mengenai tubuh kami pun rumit. Budaya patriarki yang membuat hidup dan persoalan tubuh kami menjadi rumit. Dan sialnya, budaya ini telah membuat tubuh kami jadi urusan publik. Membuat banyak dari kami kehilangan kendali atas tubuh sendiri. Dan coba tanya kenapa bisa begitu, maka kau akan menemukan jutaan literatur mengenai itu, yang harus kamu baca dengan tanpa penghakiman dan tolong...cerna dengan hati. Oh bukan, cerna dengan hati itu sama sekali tidak berhubungan dengan stereotip perempuan lebih banyak pakai hati, bukan kawan. Tapi persoalan tubuh yang sering diangkat oleh para perempuan penulis itu memang berada pada ranah yang dengan sengaja, jarang disentuh hati. Maka itu persoalan tubuh yang berujung pada seksualitas perempuan itu menjadi persoalan besar dan amat penting dalam hidup perempuan, karena cara yang paling ampuh melemahkan perempuan adalah lemahkan tubuhnya dan persepsinya pada tubuh. Tapi dalam saat yang sama, seksualitas perempuan pun menjadi kekuatan besar bagi perempuan, asal mereka balik persepsinya, beri kekuatan pada persepsi itu dan jangan biarkan siapapun merusaknya. Ini penting kawan, dan mungkin tulisan-tulisan yang kau tidak suka itu, ingin mempersepsikan seksualitas sebagai kekuatan, sebagai sesuatu yang sesungguhnya tidak sepenting kebanyakan perempuan memaknai keperawanan sebagai bagian dari eksistensinya. Itu cuma selembar selaput yang bisa hilang karena banyak sebab, dan tidak selayaknya "harga" perempuan ditumpukan pada itu. Kami lebih berharga dari sekedar selaput

Sorrowfull Angels

Rabu, 19 November 2008

4 komentar
Diantara semua jenis musik yang saya kenal, yang paling paling saya suka adalah country. Lagu-lagu country lah yang bisa saya nyanyiin dengan penjiwaan penuh, yaaa karena country itu folkie kali ya. Dan ketika malam ini saya sedang sedih, tiba-tiba teringat sebuah lagu yang pernah saya nyanyikan dengan amat sangat niat kemudian saya rekam di ruangan take vokal tempat kerja saya, yang memang akustik ruangan dan mic nya asoy beneer, jadi aja suara saya terdengar rada indah hahahaha!, apalagi ketika dulu saya menjadi produser acara country dan senang menyimak dengan seksama penjelasan narasumbernya, jiwa saya dan jiwa lagu ini jadi menyatu. Ya, disinilah kekuatan lagu-lagu folk. Ia jembatan yang baik untuk menyatukan dua jiwa. Dibawah ini lirik lagu yang saya nyanyikan dengan amat sangat niat itu. Liriknya sangat sederhana dan saaaaaangat indah, dan saya tidak tahu apakah cinta seperti ini benar-benar ada

Sorrowfull Angels by Patty Loveless

She loved him most when his eyes were gray
The palest shade of a winter day
They filled her with a raging fire
And a bittersweet desire

She shined for him like candlelight
That softly beckons in the night
But he said no right to her face
Then simply turned and walked away

All Heaven watched from way on high
True love given and denied
And while her heart was broke and bleed?
Sorrowful angels wept into their wings

She wore him like a lock and chain
Only in dreams she spoke his name
By day it slipped upon her tongue
The taste of unrequited love

Now her hair is long and gray
The palest shade of a winter day
She never took a ring of gold
She swears she never loved a soul

All Heaven watched from way on high
True love given and denied
And while her heart was broke and bleed?
Sorrowful angels wept into their wings
Sorrowful angels wept into their wings

She loved him most when his eyes were gray

Kenalkan, kami adalah manusia gerobak

Kamis, 13 November 2008

13 komentar

Setiap pagi saya melewati jalan pasirkaliki (orang bandung pasti tau jalan ini). Setiap kali pula saya melihat ayah ibu dan dua anaknya, memarkir gerobaknya, kemudian berkehidupan disitu ,di sebuah bagian trotoar. "gw harus bisa ngobrol sama mereka", itu yang ada dikepala saya setiap pagi, tapi herannya, kok belum bisa aja saya wujudkan. Ngobrol dengan mereka tentunya jauh lebih mudah dibandingkan ngejar pejabat untuk minta keterangan mereka tentang kasus yang sedang marak, tapi Entah kenapa, sulit sekalli menghentikan motor saya dan ngobrol dengan mereka, padahal mereka sumber kepenasaranan saya setiap pagi. Di sebuah pagi yang mendung, saya datang ke kantor lebih awal. Melihat langit, panasnya bagus nih buat motret. Gak akan over exposure. Saya tak tentukan tujuan. Meluncurlah saya membiarkan hati membawa kemana. Eee kesanalah saya menuju. Ke sebuah bagian trotoar yang menjadi sumber kepenasaranan saya. Sebuah trotoar yang berada didepan mall yang disebut Hypermall, yang ketika malam bertabur cahaya lampu, dan berseliweran mobil-mobil bagus membawa orang-orang berduit yang kelaparan karena mall ini memang unggul dengan foodcourtnya.


Entah karena dorongan macam apa, tiba-tiba saya gelemporan aja diantara keluarga ini. Salah satu manusia gerobak diantara sekian banyak manusia gerobak di bandung. Bagian trotoar tempat saya ngedeprok memang teduh, karena ada pohon rindang menaungi. Itu pula yang jadi alasan keluarga ini memilih parkir disitu. Sang ibu bernama Sukaesih, sang ayah bernama Asep, anak sulung bernama Ridho, anak tengah Rizky dan eeee ada bayi mungil di gendongan ibu itu. Dia anggota terbaru dalam keluarga, baru beberapa bulan saja usianya, namanya Rayya. Pasangan Sukaesih dan Asep pergi dari Subang menuju Bandung, empat tahun lalu. Berbekal uang seadanya, dengan hanya satu niat, memiliki penghidupan yang lebih baik. Klise bukan? ya, tapi memang itulah kenyataannya. Ketika tanah kampung sudah tidak subur lagi, pilihan yang paling menjanjikan hanyalah pergi ke kota.


Ketika itu mereka masih punya satu anak. Hidup di kota rupanya tidak seperti yang mereka harapkan. Dengan menggunakan apapun yang disekitar mereka, pak asep pun membuat gerobak. Paku sana paku sini, tambal sana tambal sini, asal bisa menampung anak-anak dan menggelinding, itu sudah cukup. Jadilah sejak itu mereka hidup nomaden. Tidak berapa lama kemudian, ibu esih mengandung anak kedua. Si lucu berbaju biru itu. Ketawanya bagus yaa, saya suka dia. Rizky ini senang sekali dipotret, dan saya senang memotret dia. Dia gak mati gaya looo, beda banget sama saya kalo difoto. Si sulung Ridho pun begitu. Seneng banget difoto. Berbeda dengan ridho yang lahir di subang, rizky lahir di bandung, di atas gerobak. Ibu esih yang kuat itu melahirkan cuma dibantu oleh suaminya. Dan lihatlah ridho dan rizky, terlihat gembira ya. Saya rasa begitulah dunia anak-anak. Mau ditengah banjir kek, mau ditengah penampungan kek, mau dalam kondisi apapun kek, selalu mereka bisa tertawa dengan tulus. Setulus senyum dua anak lucu dalam foto saya itu.


Adem hati saya ngeliat mereka, dan jadi bertanya-tanya, jangan-jangan kita yang terlalu sombong dengan mengira mereka menderita, perlu dibantu, dikasihani, padahal berada dalam dunia yang seperti apapun, mereka masih punya cara untuk jadi bahagia. Termasuk ketika harus hidup nomaden. Pagi hari berada di pasirkaliki, siang hari di cibadak, dan malam tiba mereka pergi ke emperan toko pasar baru, kemudian harus ke stasiun dan bayar beberapa ribu untuk mandi mereka berempat di toilet stasiun. Inilah kenyataan sodara-sodara. Ketika mobilisasi bagi kita berarti pindah menggunakan kendaraan, bagi mereka mobilisasi adalah pindah rumah, dan kendaraan adalah rumahnya. Dengan penghasilan paling banyak 30 ribu sehari, pak asep menghidupi keluarganya. Boro-boro mau beli susu, makan cukup pun belum tentu. Tapi kemudian saya kembali bertanya-tanya, kok punya anak lagi sih? gak KB gitu? sadarkah mereka, bagi orang dalam posisi mereka, punya anak berarti nambah beban hidup? bagaimana anak itu kemudian tumbuh? dan pertanyaan bodoh saya "dimana yaa mereka bikin anak?"kalo di gerobak, berarti sangat mungkin terdengar dan terlihat oleh ridho dan rizky dong. Oemjiii (aiiih istilah gw, so last year banget ya! hahaha bae weeee).


Anak ketiga Ibu Esih dan Pak Asep adalah si kecil rayya yang baru berusia beberapa bulan saja. Dia lahir di dalam gerobak, dengan bantuan ayahnya. Rupanya tuhan melindungi ibu ini dengan membuat persalinan yang lancar. Ah tuhan, aku padamu. Ibu esih cerita kalo beberapa hari lalu, ridho sakit tipes dan dia dirawat diatas gerobak. Ada seorang dokter sekitar situ yang memeriksa ridho dengan gratis, tapi teteeep, obat kan harus bayar. Karena tidak mampu memasukan ridho ke rumah sakit, maka mereka rawat saja ridho diatas gerobak. Miris? ah itu kan hanya perasaan Dek Anda saja. Dalam dunia mereka, itulah kenyataan yang tidak bisa ditawar. Buat saya, orang yang sangat beruntung ini, tak terbayang harus hidup diatas gerobak, berpindah tempat sehari tiga kali bahkan lebih, menahan lapar (ini yang lebih gak kebayang lagi), dan menahan banyak hal lainnya. Tapi ini soal ketiadaan pilihan. Saya rasa ketika kita tidak dihadapkan pada pilihan, maka mau tak mau mending jalani saja apa yang ada. Lewati sakitnya dan kita akan terbiasa. Karena saya percaya, keadaan akan memampukan kita.


kepada yang ngerasa...
jika kamu pikir potret kemiskinan itu harus selalu ditulis dengan gaya menguras air mata dan drama menyedihkan, yang biasanya dieksploitasi dalam reality show njiji'i, Maaf, tidak selalu harus begitu. Karena saya sudah muak pada drama, dan karena hidup adalah kenyataan yang tidak perlu membuat cengeng.



p.s : Ming, makasih yaa udah mau merangkai foto-foto gw dengan skill lo yang asoy ituu



Saluuut

Minggu, 09 November 2008

6 komentar

Eh eh saya dapet award! hahaha. itu tuuh gambarnya yang diatas ituu. Sebetulnya sebelumnya juga pernah beberapa award diberikan pada saya, terimakasih yaaa teman-teman. Tapi kali ini menjadi lebih tidak disangka-sangka, karena award ini diberikan oleh seseorang yang baru sekali meninggalkan jejak di blog saya dan dia bilang artikel blog saya seru-seru. Ihihih aduuuh aku tersanjung 6. Makasih ya chordofmusic. Nah, sekarang saya juga mau memberikan award yang sama pada 7 orang yang blognya saya sukai sangat, tapi TOLONG JANGAN MENERUSKAN AWARD INI PADA ORANG LAINNYA YAAA. Yaa..yaaa, saya hanya ingin memberikan penghargaan pada anda. Tidak perlu diteruskan pada yang lain yaa yaa


1. Indolawas. Saya salut sekali atas ketelatenannya mengumpulkan kaset-kaset lawas yang saya tau tidak mungkin mengumpulkan semua itu tanpa kecintaan yang sangat pada musik. Saya kagum pada anda, pemilik blog tersebut

2. Jenny Jusuf, atas kejujuran melalui tulisannya

3. Jeng Retno (wahahaha! manyun deh luu gw panggil ini). Sebagai turis gembel yang benar-benar membuat saya iri atas hobi jalan-jalannya. Nyoong! kite ke bukittinggi yaaa!

4. Enno, yang sebenernya sangat-sangat saya sebelin karena dia selalu romantis hauhauahuahauha. Tapi tulisan lu asoy nooo. Yaa ingat satu hal ya darling, kenyataan tidak selalu manis :p. Wahahahah! ditimpuk laptop deh guweeee

5. Fa. Saya salut pada kejujurannya dan bagaimana ia membuat sesuatu yang tidak biasa menjadi sangat natural

6. Ngupingjakarta. Siapapun yang punya blog ini, AKU PADAMU!! hahahahaha. Blog ini yang selalu saya buka untuk mengawali hari dan akhirnya berhasil membuat saya terkekeh sampai ngakak. Orang saraaap!

7. Bang Pidi. Jika gokil itu berskala, maka dia ada pada skala tertinggi. Sintinggg!! tapi cerdasss. Kedua bukunya saya baca habis


Kepada ketujuh orang yang saya beri award, dengan segenap ketulusan saya mau bilang SALUUUUUT.


Tampoooll

Rabu, 29 Oktober 2008

10 komentar
AIIIIIIH SEDANG PENGEN NAMPOL ORANG ITUUU!!!


PROJECT DUNIA AKHIRAT BATTTAAAALLL!!!


tarik napas pooop, jangan lupa keluarin lagi yaa. Ok mulai!!


KAMPREEET!!! CIK ATUH EUY LAMUN DEK TEU PUGUH MAH GAK USAH DEEH MINTA GW NGERJAIN INIII!!


subtitle off. tarik napas lagi. Heuup...mulai!!

YA ALOOH HAMPURA ABDIII TOS AAMBEKAN KIEU, ATUH DA MENI KEUHEUUUUL!!


subtitle off

---THE END---

Ia Saminem....

Selasa, 21 Oktober 2008

15 komentar
Suatu hari di tahun 1965...


Ia Saminem. Perempuan jawa, tak bisa baca, rentan jadi janda, punya anak beberapa.


Telah puluhan tahun ia hidup di tiga masa sulit negeri ini. Jaman belanda, jaman jepang dan masa pemberontakan PKI (belum ditambah dengan masa sulit setelah tahun 65). Dulu, saminem pemudi impian pemuda. Tubuhnya yang tinggi sintal, kulit kuning langsat, payudara penuh, pinggul besar, indah pakai kebaya, pastilah membuat ia menjadi incaran para jejaka dan duda, karena saminem punya semua kriteria perempuan cantik pada masanya. Sebutlah berbagai istilah pujangga lama serupa alis bak semut beriring, dagu bak lebah bergayut, dan berbagai idiom lain, semua ada di saminem.


Dari jawa, saminem hijrah ke Bandung, namun tak juga menemukan kehidupan yang lebih baik. Terpisah dari suami, dan harus membesarkan 6 anak, ia tak punya waktu untuk menjadi lemah. Apalagi ketika itu jaman perang. Pernah suatu kali Saminem harus menyeberang sungai membawa semua anaknya, dan berendam disitu sampai keadaan aman. Ketika keluar dari air, beberapa lintah sudah menempel dengan aduhai, semula kurus menjadi gemuk oleh darah.


Ooo ini yang menjadi alasan mengapa di sekujur betis saminem ada beberapa bekas luka yang mengerut. Bayangkan saja suasana ketika itu. Ketika kau bisa mati kapan saja ditebas golok, atau ketika kau kira aman kemudian kau keluar dari persembunyian, namun kau roboh beberapa detik kemudian dengan lobang peluru di kepala dan meninggalkan anak-anakmu yang dalam sekejap jadi yatim. Iya, itulah jaman perang, sodara-sodara. tak sedikitpun bisa terbayang betapa mengerikannya saat itu. Dan saminem menjadi bagiannya. Menjadi satu diantara jutaan perempuan dan anak-anak korban perang.


Suatu hari, saminem habis dapat uang dari temannya, dan ia punya kebiasaan menraktir anak-anaknya makan di warung nasi, ketika ia punya uang lebih. Makanlah mereka di warung nasi pinggir pasar. Saminem dan dua anaknya yang masih kecil, diantaranya si anak rambut merah. Ketika makan, ada segerombolan orang menuju pasar sambil teriak-teriak mengacungkan golok, clurit dan arit. Mimik mereka seperti sedang mencari, orang mana yang akan mereka bantai hari itu. Dengan sigap, saminem menarik kedua anaknya dan menaikkan mereka kedalam beca. Mamang beca yang juga ikut ketakutan mengayuh becak dengan emosional, ingin cepat pergi dari situ, karena hanya ada dua kemungkinan yang terjadi jika ia masih disitu. Mati jadi korban atau menyaksikan pembantaian. Mamang becak, saminem dan kedua anaknya selamat.


Kepedihan akibat perang terus berlanjut. Saminem kembali menjalani harinya. Tidak ada waktu untuk menangis, untuk menjadi lemah. Demi dapat uang untuk hidup, ia berjualan lotek. Pagi buta ia sudah kepasar, membawa puluhan kilo sayuran karena lotek buatannya laku luar biasa. Para serdadu suka loteknya. Para tukang beca ketagihan lotek saminem. Rasa enak, harga murah, ay beli.


Dengan lotek itu pula saminem menghidupi keenam anaknya. Saminem dan enam anaknya selalu berbagi. Hidup pun harus sangat irit, karena memang tak punya apapun untuk dihamburkan. Makan malam dengan segelas beras yang kemudian dibuat bubur amat encer sehingga cukup untuk 7 orang adalah hal biasa. Jika bubur encer jadi makanan utama, jangan tanya soal lauknya. Hanya setahun sekali, anak-anak saminem bisa makan daging.


Diantara 6 anak saminem, ada seorang anak perempuan yang kuatnya sudah terlihat dari kecil. Mungkin karena sudah terbiasa lari menyelamatkan diri dan sembunyi di tempat-tempat yang sulit ditemukan. Anak itu berambut merah tanda kurang gizi, kurus, jarang mandi, baju dekil dan itu-itu saja karena ia hanya punya dua stel, tapi ia super pede dan amat lincah. Suatu hari, tibalah saatnya anak rambut merah bisa sekolah. Itupun bukan dibiayai oleh saminem, melainkan oleh sodara jauh yang ningrat kaya.


Si anak rambut merah ini hanya punya dua seragam yang dicuci dua bulan sekali. Ibunya terlalu sibuk jualan sampai ia tak sempat mencuci. Hari ini pakai seragam A, kemudian pulang sekolah seragam dilempar ke kolong kasur. Besoknya, pakai seragam b. Besoknya lagi, lempar seragam b ke kolong kasur dan ambil seragam A untuk dipakai. Begitu seterusnya. Tidak aneh jika si rambut merah dibilang jorok. Sudah jorok, kelaparan pula. Para tetangga yang keadaannya lebih baik dari saminem dan keluarga, kerap kali mengejek si rambut merah dengan sebuah kalimat yang dinyanyikan "Roti kabakaraaan, si tuti kalaparaaan"*. Nah, anda jadi tau kan siapa nama si rambut merah.


Kini saminem sudah meninggal. Ia meninggal membawa kekuatannya. Ia yang tak pernah sakit parah, tidak punya penyakit jantung, diabetes, ginjal atau kolesterol, menutup mata di usia 93 tahun. Dimakamkan satu liang dengan suaminya yang meninggal puluhan tahun lalu sehingga saminem jadi janda sejak muda. Saminem adalah mbah saya tercinta namun rasis itu, dan si anak rambut merah itu adalah ibu saya :)


Roti kabakaran, si tuti kalaparan"* = Roti kebakaran, si tuti kelaparan

Bisakah?

Rabu, 08 Oktober 2008

15 komentar
Jika ditanya, siapa orang yang mentalnya paling kuat? sudah pasti jawabannya orang miskin atau orang yang pernah miskin. Kemiskinan dengan segala spektrumnya memberikan banyak sekali pelajaran hidup. Ada sebuah joke sarkas yang pernah saya dengar di lingkungan para aktivis "ah kalo para aktivisnya sendiri belum pernah ngerasain miskin, jangan harap bisa membela kaum miskin dengan sepenuh hati. Paling cuma retorika aja. Atau mereka dibayar mahal oleh NGO".

Bicara soal kemiskinan memang susah-susah gampang. Untuk mengertinya, kita memang harus merasakan sendiri. Jadi bullshit lah itu yang dibilang Jusuf Kalla bahwa dia mengerti penderitaan rakyat, wong dia born rich. Saya jadi ingat pengalaman masa kecil saya. Dulu saya memang miskin (sekarang pun masih, tapi sudah jauh berkurang hahaha). Ibu, saya dan adik tinggal di sebuah rumah tua dengan satu kamar. Hanya kuasa tuhan saja yang membuat rumah itu belum ambruk. kira-kira sepertiga atap rumah saya waktu itu menganga dengan manisnya.

Bisa dibayangkan, ketika hujan, semua air hujan masuk rumah, alhasil kami bertiga sibuk gila mencari wadah apapun yang bisa menampung air hujan agar rumah kami tidak banjir. Tidak cuma itu, ketika malam menjelang, selain udara malam yang menerpa kami yang ada didalamnya, para binatang malam seperti kelelawar, burung, dan kecoa pun dengan bebasnya masuk rumah. Tapi dasar anak-anak, semua konsekuensi kemiskinan ini jadi hiburan bagi saya dan adik. Saya masih ingat, setiap selasa malam dan kamis malam, itu musim kawinnya kecoa. Ada beberapa kecoa yang terbang dan loncat indah disemua bagian rumah kami. Kecoa satu glebeeerrrr! dilanjutkan kecoa dua glebeeerrr! kecoa tiga pun tak mau kalah. Itu mereka disana kecoa-kecoa hitam panjang dengan libido yang udah nyampe ubun-ubun terbang-terbang memikat sang betina. Sungguh aktivitas yang bikin kami bertiga ketakutan. Kurang ajar! padahal badan kami lebih besar, kok takut ya? Dan kenapa juga rumah kami yang dipilih untuk arena kawin?! tapi...dibalik ketakutan itu, kami punya aktivitas yang menyenangkan. Menghindari templokan kecoa! yippiiii!! Kami lari kesana kemari, berbekal apapun saja yang bisa menepak para kecoa, dan ditengah-tengah pelarian itu, kami tertawa-tawa, karena memang aktivitas itu menyenangkan. Itu membuat kami lebih dekat.

Belum lagi, konsekuensi kemiskinan lainnya, ketika semua hal harus kami bagi. Terutama makanan. Sudah tidak aneh, satu roti dibagi tiga, atau dibagi dua dengan adik saya, dan saya dapat bagian yang lebih sedikit. Kata mama karena saya kakak, jadi harus mengalah. Menjadi miskin bagi saya tidak terlalu buruk. Yaa mungkin karena saya pun berada pada level kemiskinan yang tidak terlalu parah. Walaupun keterbatasan menjadi kawan akrab. Sejak kecil, saya sudah belajar menahan keinginan. Waktu SD, saya harus pulang jalan kaki karena tak punya cukup uang untuk ongkos, atau kalo saya lagi gak enak badan, saya naik angkot tapi saya jadi kriminil juga (maaf pada semua pak sopir korban saya). Saya nyetop angkot yang agak penuh, pas turun saya bilang "Pak! ongkosnya dibelakang!" lalu ngacir sambil nyengir. Keterbatasan itu tidak menyiksa kok asal kita anggap itu menyenangkan. Setiap kali hujan, saya buka sepatu, saya ikatkan kedua sepatu saya lalu saya kalungi. Saya hujan-hujanan dengan telanjang kaki. Berkecipak-kecipak di genangan air, kadangkala sambil berendam hehehehehe. Tidak takut kotor, tidak takut sakit. Hey! saya kan anak miskin, manalah anak miskin punya takut. Mati pun tak takut, karena kami tak punya apa-apa. Hujan-hujanan dan bermain dengan genangan air itu menyenangkan! Membiarkan semua rintik hujan menyentuh wajah dan mendengarkan bunyi rintik jatuh ke tanah itu rasa yang luar biasa. nah, anda semua yang waktu kecilnya kemana-mana naik becak atau naik mobil pasti gak pernah kan ngerasain itu?

Menjadi miskin juga membuat kita "kaya". Menyadari kami tidak punya uang untuk mengursuskan saya bahasa inggris, mama pun menjadi pengajar saya. Beruntung, saat sekolah dulu ia termasuk anak yang suka menyimak pelajaran bahasa inggris. Semua benda-benda yang ada didalam rumah ia ajarkan saya bahasa inggrisnya, pun dengan segala sesuatu diluar rumah saya. Dan di umur 4 tahun, saya sudah menguasai ratusan kosakata bahasa inggris (itu luar biasa untuk anak-anak di jaman saya).

Semua benda adalah objek menarik untuk belajar. Mama saya membuat itu menarik. Mama juga mengajari saya matematika praktis. Dan ini membuat saya lebih pintar dari anak-anak seumur saya. Mama pun melihat saya sudah layak masuk sekolah. Dan ternyata, dengan bantuan mantan guru mama saya waktu sd, mulailah saya masuk sd di usia kurang dari 5 taun dan saya jadi anak termuda di kelas. Semua alat belajar saya, mama buat dari benda-benda sekitar. Jika waktu itu, teman-teman saya pake cipoah, saya pake lidi. Sapu lidi mbah saya abis terus tuh saya pake buat alat hitung hehehe. Cuma saya satu-satunya yang membawa sebundel lidi sebagai gantinya cipoah. Tapi ini justru membuat logika saya terasah.

Menjadi miskin juga membuat kita sangat bertoleransi. Bertoleransi dengan rasa lapar, sekaligus bertoleransi dengan keinginan. Sudah biasa bagi saya makan sup daun kelor yang diambil dari belakang rumah. Atau tumis daun katuk yang dipetik dari kebun sendiri. Saya masih ingat, pagi-pagi saya grasak grusuk diantara pohon waluh yang merambat. Apalagi kalau bukan untuk memetik waluh. Tidak takut ulat, tidak takut ular pohon yang warnanya sama dengan dahan waluh, tidak takut apapun. Saya cuma ingin dapat waluh besar-besar untuk kami makan. Dan aktivitas cari lauk untuk makan ini saya anggap bermain. Yaaa, apalagi yang bisa dilakukan oleh anak miskin selain menganggap hidup ini lahan bermain. Tapi kemudian uang masuk dalam hidup kami. Ketika mama saya mulai mapan, punya pekerjaan dan naik jabatan terus, hidup jadi tidak terlalu menyenangkan. Bukan kami tidak bersyukur karena punya uang dan bukan pula kami ingin kembali miskin, tapi..lama-lama uang jadi hal yang amat penting. Bisa gak ya kita bilang cukup pada uang?

Aduh adik-adikku..

Rabu, 01 Oktober 2008

8 komentar
Ok..saya mungkin akan terbaca sangat sok tua dalam postingan kali ini. Yaa mau gimana lagi hehehe, karena saya memang jauh lebih tua dari golongan yang akan saya omongin kali ini. Kita mulai yuu..

Barusan saya baru pulang dari rumah sahabat saya, nganter hidangan lebaran. Dia anak rantau dan gak pernah mudik, dan dia pengen ketupat. Sambil dia menyantap ketupat bawaan saya, ngobrolah saya dengan dia. Intinya kami berdua ngeri sendiri dengan generasi sekarang. Sangat betul adanya yang dibilang para pengamat sosial dan para da'i, katanya ada krisis nilai saat ini. Saya sendiri sangat khawatir pada adik-adik disekitar saya. Ketika adik-adik dan anak-anak tumbuh dikelilingi berbagai teknologi yang memudahkan segalanya, maka menghilanglah berbagai proses belajar. Ini artinya, menghilang pula proses tempaan (besi kaleee). Mau tak mau, saya mesti membandingkan proses tumbuh kembang anak-anak sekarang dengan saya dulu. Jaman dulu, anak-anak tidak dihadapkan pada banyak pilihan, misalnya tv. Cuma ada tvri pada jaman saya kecil. Yaa untuk yang masa kecilnya ditemani tvri, anda tahu benar betapa baiknya tayangan tvri. Usia emas pertumbuhan saya sangat dipengaruhi oleh tvri. Yaaa secara ya boo, dampak televisi kan kuat banget tuh. Dan saya bersyukur saya besar di era TVRI. Kita masih melihat transfer nilai-nilai positif. Saya ingat, didepan tv setia menonton ACI (Aku Cinta Indonesia), atau jendela rumah kita, atau losmen yang walaupun masuk dalam kategori sinetron tapi saya dan mama saya masih bisa melihat ada bentuk tanggung jawab moral si pembuatnya. Kini? rupanya kapitalisme sudah benar-benar merasuk pada hampir semua program televisi terutama program bagi anak-anak dan remaja. Anda bisa lihat sendiri, apa yang nampak dari tayangan tv saat ini


Saya dan teman saya juga melihat ada perbedaan yang sangat jauh pada kualitas mental anak-anak sekarang. Anak sekarang lemah dan manja. Ini saya rasakan benar karena sejak beberapa tahun lalu, saya terlibat banyak dengan kaum muda. Saya pernah menjadi pembicara untuk sekelompok anak-anak pilihan dari semua sekolah di Bandung. Mereka semua peraih beasiswa dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Sebagian besar berasal dari keluarga miskin. Diruangan itu saya bisa bernapas lega, karena masih ada anak-anak yang pada mereka saya bisa berharap. Tapi berapa banyak yang seperti mereka? saya yakin, jika ada sebuah riset yang mengelompokan kecendrungan pada anak muda, yang terbanyak pasti pengikutnya cinta laura dan siapapun itulah aktris-aktor remaja masa kini bentukan dinasti dari India yang memulai pengrusakan mental bangsa dengan semua produk mereka. Rupanya mengikuti trend, menghabiskan uang orangtua, dan berhura-hura lebih menarik bagi kebanyakan kaum muda sekarang. Belajar dari kerasnya hidup sudah tidak menarik lagi.


Saya masih ingat dulu sejak saya kecil sampai remaja, orangtua saya tidak pernah dengan mudah memberikan apapun. Keinginan saya harus saya usahakan sendiri jika ingin dapat. Saya ingat ketika smp, saya harus memutar otak mencari cara untuk dapet uang halal demi bisa fotocopy bahan sekolah lebih banyak. Diumur segitu pun saya udah punya malu karena ngerepotin orangtua terus. Ketika sma, saya harus latihan vokal lebih tekun pada guru seni saya di sekolah karena saya pengen masuk jadi tim inti paduan suara dan vokal grup karena dengan begitu saya dibayar setiap ada job nyanyi dan berhasilah saya. Ini terbawa sampe kuliah, karena pas kuliah saya dapet uang lumayan dari nyanyi sehingga gak full minta uang orangtua. Dan sekarang, saya merasakan benar manfaat tempaan itu. Tempaan ketika kita tidak mendapatkan segalanya dengan mudah, tempaan cara didik orangtua saya yang ketika itu membuat saya manyun-manyun jijik. Karena mereka, saya jadi lebih menghargai uang, menghargai orangtua dan upayanya, dan terlebih lagi, saya jadi lebih menghargai hidup. Saya jadi kuat mental, tidak mudah menyerah, memiliki empati, dan yang pasti, saya lebih sehat karena banyak bergerak hehehe. Kondisi ini jelas sangat berbeda dengan anak-anak sekarang yang mau dapet sesuatu tinggal merengek minta orangtua. Dan sayangnya, pola didik para orangtua sekarang pun sudah berubah. Alih-alih mendidik anak untuk mengusahakan apa yang diinginkannya, orangtua malah dengan mudah memberikan apa yang anak mau. Dimana proses belajarnya? Bagaimana anak mau belajar menahan keinginannya jika ia tahu dengan merengek ia akan mendapatkan apa yang ia mau? Tidak sadarkah orangtua, bahwa pola didik macam itu akan berimplikasi pada perkembangan mental anak.


Saya melihat di sekitar saya, orangtua sekarang lemah. Mereka yang disetir sama anak. Makna "sayang" sudah berubah sekarang. Dalam benak orangtua saya, makna sayang berarti membuat anak jadi mandiri, cerdas, punya daya tahan menghadapi kenyataan. Tapi kini..sayang itu berarti memberikan semua yang diinginkan anak. Termasuk hp berfasilitas canggih padahal isinya cuma dimanfaatkan untuk motret muka sendiri. Ngasih ipod dengan tidak memberitahukan konsekuensi pake ipod saat di kendaraan. Memasang internet dirumah dengan tidak membekali anak dengan mindfilter, daaan lain-lain. Yaa yaa, saya melihat tekanan peergroup itu berat, tapi jika seseorang punya mental yang kuat, sebagaimanapun peergroupnya, ia punya kuasa untuk menolak jika dampak peergroup itu tidak baik.


Beberapa hari lalu, saya melihat beberapa pasang remaja usia smp sedang bercengkerama di daerah gelap depan kantor saya (kantor saya diruko yang kalo malem remang-remang pas buat berasyik masyuk gituu). Saya pun sempat-sempatnya mengintip. Mulai dari ciuman sampai melakukan gerakan lain yang lebih agresif. Waduh! pas saya seumur mereka,
paling cuma tuker-tukeran surat cinta. Itupun bahasanya gak aduhai amat. Yaa seaduhai-aduhainya paling "4x4 = 16, sempat gak sempat mohon dibalas". Ketika itu, manalah berani saya ciciuman, petting, boro-boro intercourse. Selain takut sama Aloh, saya juga takut sama orangtua. Nah, ketika sekarang saya cukup dewasa untuk memilih, yaa saya lakukan apapun dengan sadar dan bertanggungjawab. Pake kondom! hahahaha! eee kok jadi kesitu. Aduh posting ini kalo diterusin bakal jadi esai 50 halaman, pokoknya intinya, saya dan sahabat saya sangat ngeri dengan perkembangan anak-anak sekarang, karena mereka besar didunia yang sudah tidak baik lagi. Kemudian saya dan sahabat saya sampai pada satu kesimpulan. Terkutuklah Raam Punjabi!!!!

Aku dan mereka...

Jumat, 19 September 2008

11 komentar
Itu saya waktu kecil bersama dua dari empat anjing saya, mama, tante dan tetangga saya

Haduh bandung panaaaas! ih dari tadi malem gerah banget. Kipas-kipas cari angin terus gitu kerjaannya. Dan pagi ini saya harus berangkat ke kantor dengan termalas-malas karena berarti saya harus bertemu kembali dengan teriknya matahari. Tapi akhirnya sampai juga saya. Langsung deh ngadem dibawah ac yang letaknya diatas komputer sa
ya banget dan buka blog! hahaha itulah aktivitas pertama saya begitu nyalain kompie. Eee ada postingan baru dari Jeng Gendhis yang membuat saya berkaca-kaca. Ah senangnya saya bertemu dengan animal lover juga. Jadi aja saya keidean untuk bikin posting serupa. Mari mulaaai....

Saya cinta binatang! kecuali serangga hehehehe. Waktu kecil, rumah saya kayak kebun binatang. Ada beberapa burung, 20 kucing dan empat anjing besar. Belum lagi om saya yang disebelah rumah, memelihara elang. Bayangkan saja betapa ramenya rumah saya. Semua binatang saya itu sahabat saya, karena saya gak boleh maen keluar rumah oleh mbah saya yang rasis yang tidak mengijinkan saya bermain dengan anak-anak china disekitar rumah padahal saya tinggal di lingkungan orang-orang china! Siyal! Yaaa gak aneh kali ya kalo saya merasa punya keterikatan batin sama binatang.


Saya merasa mereka mengerti saya dan saya pun mengerti mereka. Ketika saya kesepian atau sedang sedih karena habis digalakin sama mbah, saya masukin tuh semua anjing saya kekamar dan saya kunci kamar saya, kemudian diamlah saya didalam kamar bersama mereka sampai sore. Merekalah pelarian saya. Saya sangat terikat secara emosional dengan semua peliharaan saya. Pernah suatu hari saat saya masih umur 5 tahun, salah satu anji
ng saya gigit orang (lagian orang itu juga ganggu anjing saya sih! uh kalo saya udah gede, saya lempar pake sepatu deh orang itu!). Karena gigit orang, dia pun dibawa ke polisi dan ditembak. Matilah anjing saya dan menangislah saya terus menerus selama tiga hari. Asli! saya sampe demam tinggi dan ngigau nama anjing saya "Bellllyy bellyyyy bellyyyy!. Butuh waktu beberapa minggu buat saya untuk gak sedih lagi. Ibu bilang saya berlebihan sayangnya sama binatang. Eh terus kenapa? dalam banyak hal mereka jauh lebih baik dari manusia kok. Dan kayaknya emang udah diturunkan secara genetik kali ya kecintaan saya pada binatang. Karena mulai dari nenek saya sampe ibu saya, mereka cinta binatang. Semua om, tante, paman dan sodara saya juga pecinta binatang. Makanya kenangan masa kecil saya gak jauh-jauh dari para peliharaan saya.


Didekat rumah saya ada orang-orang yang menjual binatang.
Kadang-kadang, binatang jualan mereka lepas. Ya kucing lah, anjing, bahkan ular. Dan herannya, semua binatang itu kok kaburnya kerumah saya (termasuk ular-ular juga loo. Salah satu ular itu pernah lewat didepan saya ekekekeke). Pernah suatu kali saya sedang duduk di teras, eee sekonyong-konyong seekor anak anjing menghampiri saya dan nempel-nempel di kaki. He? darimana kamyuuu? kok lucu siih? saya pangku dia dan ah saya terbius melihat matanya. You know those puppy eyes can't resist! Tapi saya melihat ketakutan dimatanya. Dan tidak berapa lama kemudian, si orang yang suka ngejualin binatang itu dateng. Ok, naluri superhero-pembela-hakbinatang saya pun bergelora. *halaah. Saya gendong anak anjing itu, dan dengan tampang jutek (dan asli loo tampang saya kalo jutek itu ya sejutek-juteknya hahahaha, orang-orang aja takut). Saya interogasi dulu tu orang (padahal itu kan anjing dia ya heheheh). Tapi sayangnya, anak anjing itu gak boleh saya pelihara. "Nanti rumah kita bau piii!" itu kata ibu. Uh padahal dari saya kecil juga rumah saya mah emang udah bau binatang. Dengan berat hati, saya harus merelakan dia. Bye darling.

Mama saya waktu saya masih kecil. Lihat kan beberapa peliharaan saya yang akur itu? God, i miss them so much!

Cerita lainnya nih, saya dulu punya kucing, dia melahirkan. Salah satu anaknya itu hidrocephalus. Eh ternyata bukan cuma manusia aja lo yang kena penyakit itu. Tapi dengan begitu, si anak kucing ini jadi kesayangan saya. Saya bahkan cenderung overprotektif sama dia. Gak bisa aja gitu ngeliat dia menderita. Namanya Jenong karena keningnya yang nong-nong. Si jenong ini kayak gak diinginkan deh sama ibunya. Ketika anak lainnya disusui, si jenong ini dibiarin aja. Sehingga si jenong jadi lebih kurus dari anak kucing lain. Ya sudah, saya yang menggantikan tugas ibunya. Bukan dengan menyusuinya doong hahahaha. Tapi dengan memberinya susu dengan pipet. Eee ternyata si jenong tumbuh sehat loo. Dan jadi lucu karena kepalanya lebih besar dari badannya. Dia pun jadi anak kesayangan saya. Tiada hari tanpa si jenong. Setiap saya pulang sekolah (waktu itu saya masih SMA), yang pertama saya cari pasti dia. Suatu hari, ketika waktunya pindah rumah (kucing setelah melahirkan dia akan pindah tempat beberapa kali), si Jenong dan anak kucing lainnya dibawa ke atas genteng. Nah karena fisiknya si jenong ini agak lemah, dia gak seperti anak kucing lain yang bisa mendarat dengan semua kakinya ketika mereka melompat dari tempat tinggi. Si jenong tidak. Suatu hari saya mendapati dia jatuh dari genteng. Dia sampe terduduk, kakinya tertekuk dan matanya berair. Saya pun Heri (Heboh sendiri). Sejak itu saya gak ngasih dia dibawa lagi ke atas genteng. Toh dia pun tidak diurus kok sama ibunya. Saya urus aja dia dibawah. Suatu hari si jenong sakit. Terkapar tak berdaya. Dia masih kecil dan terlihat makin kecil ketika sakit. Dia tak mau makan. Disuapi susu pun tak mau. Saya tahu sudah saatnya dia pergi. Kucing ketika tak mau makan, maka tinggal tunggu waktu saja sebelum dia meninggal. Mata jenong meredup, tapi dia masih sempat menatap saya (aduh-aduh saya nangis nih nulis ini). Tidak berapa lama Jenong meninggal di pangkuan saya. Sampai sekarang dia masih berada di hati saya. Bye jenong.

Oh saya punya cerita lain menyangkut binatang (masih mau baca? mau ya mau ya heuehuehe). Saya gampang kasihan hehehe. Ketika melihat kucing dengan kondisi kurus dan dekil, apalagi kalo itu kucing kecil, saya gak tahan untuk bawa dia pulang. Giliran mama saya yang ngomel-ngomel karena saya lagi-lagi bawa kucing hehehehe. Tak terhitung berapa banyak kucing yang sudah saya bawa kerumah dan saya rawat dengan sangat baik, sampai saya sayang banget sama mereka karena merekalah teman saya setiap saat. Tapi kemudian setelah gemuk dan sehat, mereka pun pergi. Sekali dua kali saya kesel sama mereka. Ih gak tau balas budi. Tapi kemudian "Aduh poop, mereka itu binatang, kucing pula, what do you expect! They don't hug you back. If you want to be hug, pelihara aja anjing". Jadilah sejak saat itu saya mulai terbiasa mengikhlaskan kucing-kucing angkat saya pergi. Ya.. mengajarkan saya untuk ikhlas. Tadinya mereka binatang bebas, dan saya pun harus ikhlas ketika mereka kembali ingin bebas. Sekian dulu cerita saya ah. Udah nangis niiih, pengen cuci muka dulu. Jadi inget belly.....


NB : eh eh tau gak? kemarin saat lagi makan siang di kedai nasi padang, ada kucing disitu. Kucing itu mendekati kaki seorang laki-laki yang lagi makan. Eee disiram sama dia si kucingnya, pake aer satu kobokan. BIASA AJA DEH!!!! Iih pengen nampol tu orang deh liat mukanya yang menyebalkan itu! saya yang paling gak tahan liat binatang diperlakukan buruk, langsung ngomong "Mas! biasa aja deh. Dia kan gak ganggu situ! cuma mendekati doang! kan situ bisa cuma menghentakan kaki dan ngusir dia. Gak mesti disiram". Laki-laki itu menjawab "Emang kucing itu punya mba?". Saya jawab lagi "Bukan. Emang kenapa?! apa saya harus jadi pemiliknya dulu untuk negur situ?". Dan dia tidak menjawab lagi. Ih tu orang pasti kesel banget deh sama saya hehehehe. Biarin aaah duu duuu duuu *bersiul puas

Tentang mendengar

Sabtu, 13 September 2008

18 komentar
gambar dari sini


Sejak kecil sudah menjadi anak yang extrovert, bawel, seneng ngobrol sama orang, kemudian kuliah pun di fakultas komunikasi, pas kerja ya di bidang komunikasi juga. Hidup saya gak jauh-jauh dari bidang komunikasi, dan bukan cuma saya tapi semua orang. Setiap saat kita berkomunikasi. Dalam ilmu komunikasi dikenal sebuah jargon "We can't not communicate". Selama kuliah di fikom, saya diajarkan untuk berkomunikasi, bagaimana menghadapi lawan bicara, bagaimana menjadi komunikator yang baik, dan bla..bla..bla, tapi berapa banyak saya diajarkan mendengar? mmmm..sangat sedikit. Bukan mendengar hanya menyodorkan telinga dan meluangkan waktu, tapi mendengar dengan telinga, dengan pikiran, dan dengan hati. Ketika kemarin saya ngobrol dengan abah iwan, beliau mencetuskan soal ini. Berapa banyak dari kita yang "mendengarkan" dengan baik. Dengan holistik, kalo istilah kerennya sih. Ini saya beri ilustrasi soal mendengar

saya : Say, kondisi di kantor sedang gak kondusif. Kayak kalo gw berada di tengah-tengah kantor dan gw bisa ngerasain energi negatif. Ada awan gelap sedang berada diatas kepala temen-temen gw

(lawan bicara menatap saya sebentar, kemudian...)

Dia : yaaa yaa. Eh tunggu, lu ternyata kumisan ya?

(saya berkata dalam hati)

Si Monyoooong!


Ya, itulah yang terjadi jika seseorang tidak mendengarkan secara holistik. Mendengar itu berarti memberi perhatian. Ini saya rasakan benar aplikasinya ketika mewawancarai narasumber. Suatu kali saya pernah mewawancarai seorang penulis dari Inggris, dan saya tidak mendengarkan dengan baik. Apa yang terjadi? selama setengah jam wawancara itu tidak hidup, dan saya rasakan sendiri itu. Yang saya lakukan cuma bertanya berdasarkan rundown yang diberikan produser. Ketika itu, jawaban narasumber seperti tidak penting bagi saya. Saya cuma harus melontarkan pertanyaan yang ada di rundown dan tidak perlu membuat pertanyaan dari jawaban narasumber. Kenapa talkshow itu jadi seperti ini? karena saya tidak memerhatikan. Pikiran saya, jiwa saya, sedang tidak disitu. Saya sedang tidak menyatu dengan narasumber, pendengar dan segala yang ada di studio ketika itu dan dengan begitu, artinya saya tidak menghormati narasumber dan pendengar. Lain halnya ketika saya mewawancarai abah iwan, kemudian direktur radio saya sms "bagus popi! talkshownya hidup. Tadi ada beberapa orang sms saya, dan mereka juga senang dengan acaranya. Selamat ya". Saya percaya bahwa energi penyiar itu bisa sampai pada pendengar. Jadi ketika saya tidak mendengar dengan segenap perhatian, pendengar pasti akan bisa merasakan bahwa saya sedang tidak menyatu dengan acaranya. Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi seperti saya tadi pasti sering anda alami. Baik ketika anda menjadi orang yang sedang berbagi maupun yang sedang dibagi. Tidak enak sekali rasanya ketika kita sedang ingin didengar tapi lawan bicara kita tidak mendengar dengan baik dan begitupun perasaan lawan bicara jika kita tidak mendengar mereka dengan baik, . Sosoknya memang ada, dan mendengar, tapi tidak menyimak. Apa yang lewat di telinga cuma lewat, tidak nyangkut di pikiran dan hati.

Saya menyadari saya banyak sekali alpa mendengarkan orang lain, maka itu untuk mengembalikan saya ke titiksadarharusmendengardenganbaik, biasanya saya pergi ke kuburan atau sengaja terjaga di tengah malam dimana saya bisa mendengarkan suara-suara yang tidak saya dengar ketika masih banyak keramaian, ketika orang-orang masih sibuk dengan dirinya sendiri. Saya istilahkan ini meditasi. Saya hanya berbaring atau duduk dengan pose yang senyaman mungkin, karena saya tidak mau tiba-tiba semutan kemudian meditasi saya jadi terganggu, lalu memejamkan mata. Dalam meditasi itulah saya belajar menahan diri, belajar untuk tidak ngedumel dalam hati, belajar untuk tidak bertanya sejenak saja, belajar untuk tenang, belajar untuk tidak berpikir, hanya mendengar. Cukup mendengar saja. Saat itulah saya merasa menyatu dengan sekitar saya. Saya mendengar suara serangga, suara pohon, suara pompa air, dan segala macam suara yang tidak saya dengar kala sebagian besar manusia masih terjaga. Saya menjadi sadar kembali saat menyatu dengan sekitar saya. Konsentrasi saya kembali,perhatian saya kembali. Yang menjadi masalah berikutnya adalah bagaimana membiasakan kondisi itu saat suasana sedang tidak hening. Jangan pikir ini mudah. Mendengarkan dengan konsentrasi penuh pada apa yang sedang kita dengarkan, tidak mudah. Apalagi untuk makhluk multitasking seperti saya. Dan mungkin juga anda. Ketika kemarin ngobrol dengan abah iwan, di malam yang hening, didepan teras rumah abah yang berada di tengah hutan pinus, seperti menoyor kepala saya, untuk lebih banyak sadar. Sadar untuk tidak selalu bicara, sadar untuk tidak selalu bergerak cepat, sadar untuk hening sejenak, sadar untuk selalu sadar, dengan begitu, saya akan sadar untuk menjadi pendengar yang baik.

Copyright © 2010 ParadoxParade | Free Blogger Templates by Splashy Templates | Layout by Atomic Website Templates