Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

That Evil Circle

Selasa, 05 Oktober 2010

5 komentar
Kali ini saya mau cerita tentang dua orang perempuan yang besar di tengah latar belakang yang sangat berbeda. Yang satu bernama Sumarni, satu lagi bernama Widi.


Biar saya cerita dulu kehidupan Sumarni.

Sejak kecil dia diasuh oleh neneknya yang cukup mapan untuk membiayai dia sekolah. Tapi sang nenek rupanya sangat kuno sehingga ia berpikir bahwa Sumarni tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena toh ia akan jadi ibu rumah tangga yang lingkup kerjanya hanya di sumur, dapur dan kasur. Yaa bisa baca dan tulis saja cukup laaah. Yang penting Sumarni terampil dalam urusan domestik. Alah bisa karena biasa. Sumarni terampil sekali dalam urusan "keputrian". Dapur adalah singgasananya dan rumah adalah kerajaannya.

Seperti juga perempuan Jawa lainnya, Sumarni dibesarkan dengan doktrin Manut. Jadilah Sumarni perempuan yang sangat manut. Terhadap apapun. Neneknya dan pola didiknya yang membelenggu, terhadap suami, terhadap lingkungan dan terutama terhadap nasib. Rasa nrimo Sumarni menjadi sangat tinggi. Ia seperti sudah menyerahkan diri pada hidup karena cuma cara itu yang ia tahu. Karena dibesarkan dengan penuh pembatasan, jadilah Sumarni perempuan dengan pola pikir serba terbatas. Punya banyak sekali ketakutan, kekhawatiran dan ini berimbas buruk pada anaknya. Ia mengulang  siklusnya. Sang anak yang sangat berprestasi dalam olahraga dilarang untuk mengikuti berbagai lomba diluar daerah mereka tinggal. Ini itu dilarang padahal anaknya punya potensi besar untuk jadi aset daerah. Ini membuat sang anak sempat terkena Inferiority Syndrome.



Ok, sudah cukup soal Sumarni, sekarang saya mau cerita tentang perempuan kedua. Namanya Widi.

Ia dititipkan pada saudara yang ningrat kaya karena ibunya terlalu miskin untuk membesarkan tujuh anak sepeninggal suaminya. Karena tinggal menumpang orang, widi harus tahu diri. Cita-citanya menjadi penyanyi harus ia kubur dalam-dalam karena induk semangnya cuma ingin ia belajar, bukan bernyanyi.

Seperti juga Sumarni, Widi pun mengalami banyak pembatasan. Ya jatah makan, ya jatah keluar rumah untuk bermain, dan lain-lain.  Tapi dasar Widi anak yang tak mau dibatasi. Diam-diam ia ikut lomba bintang radio dan menang! sejak itu ia jadi populer di sekolah. Widi sang primadona. Tapi ia tahu, cita-citanya cuma bisa sampai disitu. Tak ada gunanya menyulut kemarahan sang induk semang yang selama ini sudah banyak berjasa menyelamatkan ia dari kemiskinan dan membuat ia bisa sekolah. Widi pun tak lagi bernyanyi didepan orang banyak. Cuma dikamar mandi saja ia masih bisa sedikit bersenandung. Senandung lirih....
 
Dalam senandungnya widi bertekad, apapun yang terjadi pada masa depannya, jika pun nanti ia punya anak, anaknya tidak akan merasakan apa yang ia rasakan. Dibatasi itu tidak enak. Dipaksa mengubur potensi diri itu menyakitkan.Cukup sampai dirinya dan cukup sekali ini saja ia menyerah. Tidak akan lagi.


Sumarni adalah ibu mertua saya dan Widi adalah mama saya. Merasa familiar dengan potret hidup mereka berdua?  

Lewat tulisan ini saya cuma mau bilang , Lingkaran itu ada, siklus itu sudah terlanjur bergulir. Tapi pilihannya ada pada kita. Mau putuskan lingkarannya atau teruskan siklusnya?

Selaput...

Senin, 24 November 2008

17 komentar
Anak itu melangkah keluar rumah dengan senyum sumringah. Ia tau, ia akan bergembira di sekolah nanti, yang ia tidak tahu adalah bahwa kali ini, nasib berkata lain. Kelas itu, meja yang bagian depannya bertutup, yang ketika dibelakangnya terjadi sesuatu dan tidak akan terlihat, menjadi awal mimpi buruk si anak. Kali itu pelajaran mendikte. Satu persatu anak perempuan dipanggil ke meja itu. Dengan berada dibalik meja, membelakangi tubuh sang guru, membacalah satu persatu anak perempuan. Giliran si anak sumringah membaca Buku CBSA. Siapa sangka, sang guru mengangkat rok anak itu, sedikit meregangkan kedua pahanya, dan memasukan penisnya diantara itu, meninggalkan rasa hangat lalu selesai ketika selangkangan si anak telah basah. Kejadian ini terjadi beberapa kali. Di balik meja yang bagian depannya tertutup, sehingga tidak akan siapapun melihat apa yang terjadi dibalik itu.


Hari itu, si anak sumringah mendadak berubah. Dirinya, jiwanya, hidupnya, sudah berubah. Dia hanya seorang anak kecil, tapi bagi siapapun, mendapat perlakuan seperti itu pasti akan meninggalkan luka yang amat dalam. Apalagi untuk anak sepintar si anak sumringah, yang saat kelas dua sd sudah melahap banyak pengetahuan. Hari itu, hatinya pedih. Hidup tidak akan pernah sama lagi untuknya. Berlalu waktu, si anak tumbuh dewasa, tapi hatinya masih pedih. Kepercayaan dirinya hilang hari itu. Binar matanya hilang hari itu. Karena terkurung masa lalu yang pedih, ia jadi tidak bahagia. Namun hidup berproses. Dengan melepas ketakutan dari masa lalu dan berterimakasih pada hidup atas apapun yang terjadi, kepedihan itu semakin berkurang, tapi tidak akan pernah sepenuhnya hilang. Dan ketika beberapa hari lalu, si anak sumringah yang kini sudah dewasa itu menonton berita dan melihat liputan kasus mengenai guru yang mencabuli muridnya, hatinya marah. Si guru itu telah merusak masa depan muridnya dan tidak ada satupun hukuman dan terapi yang bisa memperbaiki yang telah terjadi. Masa depan dua anak telah rusak.


Dalam sebuah pembicaraan, si anak sumringah yang kini telah dewasa bertanya pada seorang teman yang menjawab tidak suka pada para perempuan penulis karena mereka selalu membicarakan persoalan kelamin. Ketahuilah kawan, hidup kami itu rumit. Bukan hanya hidup kami yang rumit, tapi juga tubuh dan persoalan mengenai tubuh kami pun rumit. Budaya patriarki yang membuat hidup dan persoalan tubuh kami menjadi rumit. Dan sialnya, budaya ini telah membuat tubuh kami jadi urusan publik. Membuat banyak dari kami kehilangan kendali atas tubuh sendiri. Dan coba tanya kenapa bisa begitu, maka kau akan menemukan jutaan literatur mengenai itu, yang harus kamu baca dengan tanpa penghakiman dan tolong...cerna dengan hati. Oh bukan, cerna dengan hati itu sama sekali tidak berhubungan dengan stereotip perempuan lebih banyak pakai hati, bukan kawan. Tapi persoalan tubuh yang sering diangkat oleh para perempuan penulis itu memang berada pada ranah yang dengan sengaja, jarang disentuh hati. Maka itu persoalan tubuh yang berujung pada seksualitas perempuan itu menjadi persoalan besar dan amat penting dalam hidup perempuan, karena cara yang paling ampuh melemahkan perempuan adalah lemahkan tubuhnya dan persepsinya pada tubuh. Tapi dalam saat yang sama, seksualitas perempuan pun menjadi kekuatan besar bagi perempuan, asal mereka balik persepsinya, beri kekuatan pada persepsi itu dan jangan biarkan siapapun merusaknya. Ini penting kawan, dan mungkin tulisan-tulisan yang kau tidak suka itu, ingin mempersepsikan seksualitas sebagai kekuatan, sebagai sesuatu yang sesungguhnya tidak sepenting kebanyakan perempuan memaknai keperawanan sebagai bagian dari eksistensinya. Itu cuma selembar selaput yang bisa hilang karena banyak sebab, dan tidak selayaknya "harga" perempuan ditumpukan pada itu. Kami lebih berharga dari sekedar selaput

Sorrowfull Angels

Rabu, 19 November 2008

4 komentar
Diantara semua jenis musik yang saya kenal, yang paling paling saya suka adalah country. Lagu-lagu country lah yang bisa saya nyanyiin dengan penjiwaan penuh, yaaa karena country itu folkie kali ya. Dan ketika malam ini saya sedang sedih, tiba-tiba teringat sebuah lagu yang pernah saya nyanyikan dengan amat sangat niat kemudian saya rekam di ruangan take vokal tempat kerja saya, yang memang akustik ruangan dan mic nya asoy beneer, jadi aja suara saya terdengar rada indah hahahaha!, apalagi ketika dulu saya menjadi produser acara country dan senang menyimak dengan seksama penjelasan narasumbernya, jiwa saya dan jiwa lagu ini jadi menyatu. Ya, disinilah kekuatan lagu-lagu folk. Ia jembatan yang baik untuk menyatukan dua jiwa. Dibawah ini lirik lagu yang saya nyanyikan dengan amat sangat niat itu. Liriknya sangat sederhana dan saaaaaangat indah, dan saya tidak tahu apakah cinta seperti ini benar-benar ada

Sorrowfull Angels by Patty Loveless

She loved him most when his eyes were gray
The palest shade of a winter day
They filled her with a raging fire
And a bittersweet desire

She shined for him like candlelight
That softly beckons in the night
But he said no right to her face
Then simply turned and walked away

All Heaven watched from way on high
True love given and denied
And while her heart was broke and bleed?
Sorrowful angels wept into their wings

She wore him like a lock and chain
Only in dreams she spoke his name
By day it slipped upon her tongue
The taste of unrequited love

Now her hair is long and gray
The palest shade of a winter day
She never took a ring of gold
She swears she never loved a soul

All Heaven watched from way on high
True love given and denied
And while her heart was broke and bleed?
Sorrowful angels wept into their wings
Sorrowful angels wept into their wings

She loved him most when his eyes were gray

Ode to My Fat

Minggu, 02 November 2008

24 komentar
Saya lelah...



Sejak terlahir dengan kelebihan energi yang membuat saya sempat berpikir saya adalah titisan anak samson, saya tidak pernah berhenti diam. Ketika seluruh tubuh kita masih berfungsi, maka maksimalkanlah. Tapi sejak dua tahun lalu, saya tidak bergerak sebanyak biasanya. Ketika jarum timbangan mulai naik sekilo demi sekilo. Ketika dengan tanpa sadar, saya menyeret diri sendiri kedalam bencana. Ketika saya akhirnya punya cukup uang untuk beli makanan apapun yang saya mau. Seperti membalas kemiskinan dahulu, saya habiskan banyak uang untuk membeli segala makanan yang saya mau. Makanan yang hanya bisa saya lihat ketika tetangga saya yang orang kaya makan itu didepan rumah dengan muka nyinyir tengil yang sampai sekarang masih saya ingat. Sekarang saya bisa beli makanan yang dia makan, sebanyak apapun yang saya mau. Ya, saya kecanduan makan enak. Saya bisa dengan tanpa sadar membeli makanan yang membuat saya akhirnya mengernyitkan dahi "ngapain guwe keluarin duit sebanyak ini cuma buat beli steak?". Tapi kemudian saya lakukan itu lagi dan lagi. I've drag my self into the shit hole. Saya mulai menggembung. Seperti ikan buntal tanpa duri. But i'm still beautiful anyway hahahah

Sekarang berat badan saya melonjak luar biasa. Hanya beberapa belas kilo sebelum satu kwintal dan ini mulai menjadi mimpi buruk. No darling, it's not about my self confidence. Oh i don't have anyproblem with that, because i have my own concept. Setiap kali saya bertemu teman lama, mereka pasti bilang "Gila! lu tambah subur aja sih book!. Kata saya "Iya doong. gaji guwe 20 juta sebulan". Buat sebagian orang, pertanyaan soal tubuh, pasti mengganggu. Buat saya tidak. Saya memang gemuk, terus kenapa? apa salahnya dengan itu. Saya gak akan jadi gak pede hanya karena saya gemuk dan tidak mewakili imej cantik kapitalis. Secara psikis, saya sangat nyaman dengan tubuh saya. Toh saya pengamin kata-kata mutiara "BIG IS BEAUTIFUL". Cuma satu yang mengganggu saya. Bahwa tubuh saya sudah memberikan isyarat. Teriakan minta tolong tepatnya. SAYA TIDAK SEHAT


Dan cuma tubuh ini yang tidak bisa dibohongi. Kalo pikiran saya malah bisa dibohongi. Setiap kali saya mulai merasa keberatan, saya mensugesti otak saya untuk jangan menyerah, untuk masa bodo dengan obesitas. Tapi tubuh saya tak bisa dibohongi. Sugesti tak mempan buat dia. Dulu saya bisa jogging beberapa kilometer dan tidak merasa lelah. Dulu saya biasa jalan kaki pulang dari kantor dan tidak sesak napas. Dulu saya berenang beberapa putaran dengan tidak mudah terengah-engah. Dulu saya hiking di jayagiri dan tidak kesulitan membawa pantat. Kini...semua vitalitas itu tinggal sejarah. Setiap bangun tidur, telapak kaki dan lutut saya sakit ketika menjejak lantai. Selain karena peredaran darah tidak lancar, tentulah itu karena tubuh saya sudah terlalu berat. Ketika saya naik turun tangga, nafas saya seperti tinggal satu dan cuma tunggu waktu sebelum itu benar-benar berhenti. Saya pun sudah tidak kuat lagi hiking. Agak tinggi dikit aja, paru-paru sudah sesak dan kepala mulai pusing. Jantung saya pun sering clekat clekit, apakah saya akan mati karena jantung koroner?


Pernah tahun lalu, ketika tubuh saya udah cukup gemuk, saya hiking ke tangkuban parahu. Jarak gerbang hutan suaka menuju ke tangkuban parahu itu beberapa belas kilo, dan nanjak pula. Mantep banget kaan untuk orang segede saya. Waktu itu saya hiking sama sahabat saya yang ukuran badannya juga gak jauh dari saya. Bayangin aja, dua orang segede dosa, berjalan satu-satu menapaki jalan menanjak. Ketika baru mulai berjalan, kami masih semangat. Masih ketawa-ketawa dan banyak ngomong. Kemudian setelah dua kilometer, kami mulai sedikit ngomong. Pandangan mulai nanar, napas mulai terengah-engah, bibir mulai gak bisa mingkem. Kami mulai berpikir untuk naik angkot, padahal niat kami ingin menaklukan jalan itu dan sampe ke kawah tangkuban parahu dengan jalan kaki. Tapi untungnya kami tidak jadi naik angkot. Bukit demi bukit kami taklukan. Saat sudah hampir mau mati (hiperbola mode on* heheheh), ada seekor lebah besar yang muter-muter diatas kepala saya. Dia tau aja ada saya yang manis ini hahaha!. eh eh kok si lebahnya makin deket, dan dia ngejar tas saya. Saya lari dooong sambil tereak "Paiiit! paiiit!".


Saya yang udah hampir mati, malah jadi lari sekenceng-kencengnya di sebuah bukit yang jalannya nanjaaak banget. Temen saya dari jauh tereak "di tas lu ada coklaaat". Oh iya saya baru inget, tadi saya makan coklat baru separo dan saya taro di tas, ternyata coklat itu meleleh kena panas. Saya ambil coklat itu dan saya lempar. Pergilah si lebah yang dengan ajaibnya membuat saya jauh meninggalkan teman saya hahaha! Dengan perjuangan keras, akhirnya kami sampai ke tangkuban parahu, DENGAN JALAN KAKI!! Yippiiii!! langsung nyium tanah deh kami. Gak sangka, kami sanggup juga nyampe atas. Tapi setelah itu, kami berdua gak mau lagi nyoba, takut mati diatas dan gak ada yang nolong ahahaha! itulah balada orang obesitas kayak saya. Makanya ketika kemarin saya melihat jarum timbangan yang dengan lucunya bergeser lebih satu angka lagi, saya mau tak mau HARUS MENURUNKAN BERAT BADAN.

Saya ingin lebih produktif, saya ingin lebih mengenal dunia, saya tidak ingin mati mendadak dan ternyata jantung saya tak bisa disumbangin karena terbungkus lemak, saya gak mau kena kanker karena lingkar pinggang saya melebihi batas normal, saya gak mau mati diamputasi dikit-dikit karena diabetes, saya gak mau cepet capek saat saya lagi lincah-lincahnya, saya pengen berenang bolak-balik tanpa kepayahan, saya pengen siaran dengan nyaman tanpa harus banyak menarik napas padahal napas saya dulu panjang banget, Saya ingin menyaksikan adik saya menjadi dewasa, saya pengen shockbreaker motor saya lebih awet, saya pengen ngurus calon anak-anak saya (kalo punya ihihih) dan maen bola sama mereka, keceprak kecepruk di sawah dan kolam tanpa mudah lelah. Saya ingin ada dalam kehidupan mereka, dengan segenap energi saya. Saya ingin sehat terus agar saya tidak kehilangan waktu berharga. Saya ingin menjadi lengkap.


Sweetness in The belly

Senin, 27 Oktober 2008

2 komentar
Pada 23 Oktober 2008, saya mewawancarai penulis dari Canada, Camilla Gibb. Buku ketiganya yang berjudul Sweetness in The Belly diterjemahkan oleh penerbit mizan dengan judul LILLY. Naaah, karena beberapa hari lalu ia menghadiri Ubud Writers Festival, jadi mizan membawa ia ke beberapa daerah di Indonesia untuk temu penulis. Dan di bandung, radio mustika lah yang kebagian talkshow dengan dia. Yippiyeee!! orangnya asiiik banget, dan bukunya sangat menarik. Menurut saya lo yaaa. Secara, saya suka banget sama antropologi dan buku camilla ini sangat dipengaruhi oleh pemahaman Camilla pada antropologi. Camilla ini narasumber yang sangat menyenangkan. Ada satu hal yang bikin saya takjub pada camilla. Saat kami berfoto bareng, dia merendahkan kakinya demi tidak terlihat terlalu jomplang dengan kami yang untuk orang setinggi dia, seperti The Hobbit. Jadi bisa dilihat di fotonya, perbedaan tinggi kami gak terlalu jomplang kan, padahal aslinya dia tinggi banget. Ah akyu jadi simpatik padanya



Lilly berkisah tentang seorang perempuan bernama Lilly. Lilly yang perempuan eropa harus hijrah ke Harar, Etiophia, sebuah kota suci bertembok tempat bermukim para wali. Disanalah ia memelajari islam dan menjadi guru mengaji. LIlly pun kemudian menjadi muslimah yang kaffah. Buku ini menarik karena camilla membuat muatan non fiksi menjadi seperti fiksi. Soal latar belakang tempat dan kondisinya, itu nyata. Peristiwa sejarahnya pun nyata. Kisah cintanya yang fiksi. Camilla yang doktor antropologi itu menulis ulang desertasinya menjadi sebuah fiksi yang menawan.


Yang saya suka dari buku ini adalah bahwa camilla tidak terjebak di drama-drama yang sok dibikin tragis. Etiophia yang dalam gambaran umum adalah tempat yang menyedihkan, bergelimangan orang-orang kelaparan, dalam Lilly dilukiskan sangat indah, eksotik, till we imagine that there are a beauty in Etiophia dan kita tau itu nyata. Konflik percintaannya juga tidak cengeng, termehek-mehek jijay gitu. Gak sama sekali. Lilly adalah perempuan kuat, terbiasa menjadi imigran, terbiasa hidup susah, bahkan ketika ia sampai di etiophia, ia harus hidup amat minimal, tinggal di sebuah rumah yang tidak layak huni, makan apa saja, ketemu air bersih pun sulit, dan ia jalani ini semua dengan tidak cengeng. Bahkan ketika ia harus berpisah dengan cintanya, Dokter Azis, seorang dokter idealis yang menjadi kawan sejati untuk berbagi. Saya suka banget ketidakcengengan camilla dalam buku ini. Dia seperti mewakili sesuatu yang ingin saya tulis. Karena saya pun tidak suka menulis sesuatu yang cengeng. Buat saya, tidak ada satupun kisah menyedihkan yang tidak bisa ditulis dengan "terang". Saya muak pada drama termehek-mehek. Bahkan sebuah kematian pun bisa ditulis dengan gaya tidak cengeng. Sudah cukuplah kecengengan didunia ini. Pun ketika camilla menggambarkan islam dalam buku ini, sama sekali tidak cengeng dan norak. Ia tidak selalu berpihak pada islam, tapi ia juga menulis kritik yang tidak membuat kita benci, tapi membuat kita merenungkan kembali. Dalam satu bagian ceritanya, melalui Lilly, camilla mengritik beberapa kebiasaan yang sebetulnya bukan bagian dari syariah, melainkan adat. Salahsatunya mengenai sunat pada perempuan. Ia gambarkan sunat ini dengan begitu brutal, karena memang begitu adanya. Ritual adat ini lebih dari sekedar mengambil sebagian daging dari vagina, tapi juga mengambil sebuah bagian dari hidup perempuan. Lebih lengkap tentang sunat perempuan, bisa dibaca disini


Camilla gibb juga menampilkan islam dengan sangat indah. Dalam wawancara kami, ia bilang, salah satu tujuan ia menulis buku ini adalah sebagai counter attack pada serangan terhadap islam, sejak tragedi 9/11. Camilla lahir di Canada yang sangat memfasilitasi keberagaman. Ia sejak kecil adalah pemeluk kristen, tapi ia juga membaca kitab lain, salah satunya Al-Quran. dan ia pernah ke mesir dan etiophia untuk memelajari islam. Ia bilang, Islam adalah agama yang sangat indah, ada kedamaian disitu. Dan merupakan sebuah ketidakadilan jika islam tidak ditulis dengan berimbang. Camilla juga bilang, sebuah kunci dari fiksi yang kuat adalah "just show, not tell". And she has shown a strong writing trough Sweetness in The Belly.

Dari hijau ke putih, (Mas Aga mizan, Opik produser saya, Camilla Gibb, Attaferin mizan dan si saya yang paling bulet dan paling gelap heuheueheuhe)


Ia Saminem....

Selasa, 21 Oktober 2008

15 komentar
Suatu hari di tahun 1965...


Ia Saminem. Perempuan jawa, tak bisa baca, rentan jadi janda, punya anak beberapa.


Telah puluhan tahun ia hidup di tiga masa sulit negeri ini. Jaman belanda, jaman jepang dan masa pemberontakan PKI (belum ditambah dengan masa sulit setelah tahun 65). Dulu, saminem pemudi impian pemuda. Tubuhnya yang tinggi sintal, kulit kuning langsat, payudara penuh, pinggul besar, indah pakai kebaya, pastilah membuat ia menjadi incaran para jejaka dan duda, karena saminem punya semua kriteria perempuan cantik pada masanya. Sebutlah berbagai istilah pujangga lama serupa alis bak semut beriring, dagu bak lebah bergayut, dan berbagai idiom lain, semua ada di saminem.


Dari jawa, saminem hijrah ke Bandung, namun tak juga menemukan kehidupan yang lebih baik. Terpisah dari suami, dan harus membesarkan 6 anak, ia tak punya waktu untuk menjadi lemah. Apalagi ketika itu jaman perang. Pernah suatu kali Saminem harus menyeberang sungai membawa semua anaknya, dan berendam disitu sampai keadaan aman. Ketika keluar dari air, beberapa lintah sudah menempel dengan aduhai, semula kurus menjadi gemuk oleh darah.


Ooo ini yang menjadi alasan mengapa di sekujur betis saminem ada beberapa bekas luka yang mengerut. Bayangkan saja suasana ketika itu. Ketika kau bisa mati kapan saja ditebas golok, atau ketika kau kira aman kemudian kau keluar dari persembunyian, namun kau roboh beberapa detik kemudian dengan lobang peluru di kepala dan meninggalkan anak-anakmu yang dalam sekejap jadi yatim. Iya, itulah jaman perang, sodara-sodara. tak sedikitpun bisa terbayang betapa mengerikannya saat itu. Dan saminem menjadi bagiannya. Menjadi satu diantara jutaan perempuan dan anak-anak korban perang.


Suatu hari, saminem habis dapat uang dari temannya, dan ia punya kebiasaan menraktir anak-anaknya makan di warung nasi, ketika ia punya uang lebih. Makanlah mereka di warung nasi pinggir pasar. Saminem dan dua anaknya yang masih kecil, diantaranya si anak rambut merah. Ketika makan, ada segerombolan orang menuju pasar sambil teriak-teriak mengacungkan golok, clurit dan arit. Mimik mereka seperti sedang mencari, orang mana yang akan mereka bantai hari itu. Dengan sigap, saminem menarik kedua anaknya dan menaikkan mereka kedalam beca. Mamang beca yang juga ikut ketakutan mengayuh becak dengan emosional, ingin cepat pergi dari situ, karena hanya ada dua kemungkinan yang terjadi jika ia masih disitu. Mati jadi korban atau menyaksikan pembantaian. Mamang becak, saminem dan kedua anaknya selamat.


Kepedihan akibat perang terus berlanjut. Saminem kembali menjalani harinya. Tidak ada waktu untuk menangis, untuk menjadi lemah. Demi dapat uang untuk hidup, ia berjualan lotek. Pagi buta ia sudah kepasar, membawa puluhan kilo sayuran karena lotek buatannya laku luar biasa. Para serdadu suka loteknya. Para tukang beca ketagihan lotek saminem. Rasa enak, harga murah, ay beli.


Dengan lotek itu pula saminem menghidupi keenam anaknya. Saminem dan enam anaknya selalu berbagi. Hidup pun harus sangat irit, karena memang tak punya apapun untuk dihamburkan. Makan malam dengan segelas beras yang kemudian dibuat bubur amat encer sehingga cukup untuk 7 orang adalah hal biasa. Jika bubur encer jadi makanan utama, jangan tanya soal lauknya. Hanya setahun sekali, anak-anak saminem bisa makan daging.


Diantara 6 anak saminem, ada seorang anak perempuan yang kuatnya sudah terlihat dari kecil. Mungkin karena sudah terbiasa lari menyelamatkan diri dan sembunyi di tempat-tempat yang sulit ditemukan. Anak itu berambut merah tanda kurang gizi, kurus, jarang mandi, baju dekil dan itu-itu saja karena ia hanya punya dua stel, tapi ia super pede dan amat lincah. Suatu hari, tibalah saatnya anak rambut merah bisa sekolah. Itupun bukan dibiayai oleh saminem, melainkan oleh sodara jauh yang ningrat kaya.


Si anak rambut merah ini hanya punya dua seragam yang dicuci dua bulan sekali. Ibunya terlalu sibuk jualan sampai ia tak sempat mencuci. Hari ini pakai seragam A, kemudian pulang sekolah seragam dilempar ke kolong kasur. Besoknya, pakai seragam b. Besoknya lagi, lempar seragam b ke kolong kasur dan ambil seragam A untuk dipakai. Begitu seterusnya. Tidak aneh jika si rambut merah dibilang jorok. Sudah jorok, kelaparan pula. Para tetangga yang keadaannya lebih baik dari saminem dan keluarga, kerap kali mengejek si rambut merah dengan sebuah kalimat yang dinyanyikan "Roti kabakaraaan, si tuti kalaparaaan"*. Nah, anda jadi tau kan siapa nama si rambut merah.


Kini saminem sudah meninggal. Ia meninggal membawa kekuatannya. Ia yang tak pernah sakit parah, tidak punya penyakit jantung, diabetes, ginjal atau kolesterol, menutup mata di usia 93 tahun. Dimakamkan satu liang dengan suaminya yang meninggal puluhan tahun lalu sehingga saminem jadi janda sejak muda. Saminem adalah mbah saya tercinta namun rasis itu, dan si anak rambut merah itu adalah ibu saya :)


Roti kabakaran, si tuti kalaparan"* = Roti kebakaran, si tuti kelaparan

Happy & Cheerfull

Selasa, 14 Oktober 2008

16 komentar
Peringatan : kutipan percakapan dibawah disebut vulgar oleh sebagian kalangan. Jadi untuk anda yang suka emosi dengan pembicaraan soal kelamin, mending jangan lanjutin baca deh, nanti situ jadi marah-marah dan mulai bicara soal sensor, etika, moral, dsb. Kalo mau marah-marah, baca blog lain aja ya darleng.

Ini salah satu percakapan dodol saya dengan sahabat saya ami, kemaren sore saat kami sedang sama-sama jenuh dengan pekerjaan. Enjoy...


popi: Nyet, knp sih penis dinamain mr happy? apakah itu berarti mister yg bs bikin happy?
Amingwati: no, karena when your guy is happy, baru dia bisa bangun, haha
popi: eee gak begitu jg nyet. lu kira knp kl laki strees dia mlh pgn ml
Amingwati: bukan happy yg itu
Amingwati: "happy" as in "horny" hauhauuhahua
popi: lalu knp vagina dsbt miss cheerfull?
Amingwati: because intercourse makes you cheerful. "cheerful" as in "horny" hahaha
popi: ooo gituuuu
Amingwati: ketauan deh suka baca cosmopolitan bagian sex and lust.. hihi
popi: ihihihi. gw mah bacanya mangle
Amingwati: hihihi. yang kantornya di deket buah batu
popi: nyet, lu bisa bayangin gak perasaan orang yang lagi having sex trs digerebk?
Amingwati: -krik krik krik
Amingwati: hmmphjhh
popi: krok krok krok
Amingwati: huaaaa. parno nyet. mr happy langsung loyo deh
Amingwati: jamin
popi: mending kalo gitu, kalo gancet gimana nyet?
Amingwati: UHAUHAUHAUHUHAUHAHUAUHHUAUAUAUHUHAUHAUHAHUAUH
Amingwati: popi iiiihhhh
Amingwati: kepikiran, uahuahuauaa
popi: guwe gitu looo, soal mikir yang out of the box mah paling bakat dah. boo, orang gancet itu bisa sampe mati lo
popi: vagina itu emang hebat ya nyet
popi: bisa bikin happy sekaligus bikin mati
popi: anjis itu keren banget kata2 gw
Amingwati: anjis
Amingwati: pol
popi: tuh gw jadiin status ym hahahaha
Amingwati: huahuha
popi: kalo ada yang nanya, gw jawab "vagina"
Amingwati: anjis, uhahuauhauha
popi: hahahahaha, no further answer

U S G

Selasa, 01 Juli 2008

18 komentar

Ini hasil USG pertama saya. Ihihihihihih

Ibu Penjual Yoghurt Y

Rabu, 25 Juni 2008

9 komentar

Saya sudah lupa, kapan terakhir saya benar-benar merasa terharu. Dan siang tadi, saya diingatkan kembali pada perasaan itu. Uang 5500 ternyata bisa sangat berarti bagi seseorang. Waktu rabu minggu lalu, lewatlah seorang ibu penjual yoghurt "Y" didepan kantor saya, dan kebetulan saya sedang duduk-duduk didepan kantor. Saat itu tengah hari yang amat sangat terik, dan terlihat jelas raut kelelahan pada wajah ibu itu. Karena saya memang sedang ingin minum Yoghurt Y itu, maka saya panggil ibu tersebut, dan saya memberikan segelas air padanya. Tidak saya duga, ibu itu memberi respon yang benar-benar menyentuh saya. Respon paling tulus yang pernah saya lihat. Padahal belum pula saya membeli jualannya. Ibu itu mengucapkan syukur didepan saya dan teman-teman. Kemudian tadi siang, ibu itu datang kembali dan menawari saya youghurt Y. Seperti juga minggu lalu, saya memberikan segelas air pada ibu itu. Tentulah ia haus dan lelah berjalan jauh di tengah hari. Ia mengucapkan terimakasih berulang kali. Padahal bagi saya, segelas air tentunya menjadi sangat biasa karena ada bergalon-galon air di kantor saya. Kemudian saya pun membeli jualannya. Kali ini ia mengucapkan lebih banyak kata syukur dan terimakasih. Ia pun mendoakan saya. Bahkan beberapa doa. Mata saya berkaca-kaca karena saya merasakan ketulusan itu. Mata sang ibu menyentuh saya. Caranya bicara dan bergerak benar-benar membuat saya terharu. Kami pun terlibat obrolan singkat, tentang ia. Hanya tentang ia, karena tentang saya menjadi sangat sangat tidak penting jika yang ingin saya tahu hanya tentang ia.

Bu, tahukah ibu ? sesungguhnya uang itu tidak membantu ibu melainkan membantu saya. Uang itu, melalui ibu, telah membantu saya mendapatkan perasaan yang amat sangat tidak dapat dijelaskan, karena pastilah akan jadi sangat dangkal jika saya deskripsikan dengan kata. Pun jika saya deskripsikan dengan gambar. Rupanya hal-hal yang menyangkut ranah spiritualitas memang hanya bisa dirasakan. Saya merasa diperkaya oleh ibu. Maka itu saya sangat bersyukur masih diberikan kesempatan merasakan perasaan itu, yang membuat saya belum berhenti menangis haru bahkan ketika saya menekan tombol titik. Semoga "kekayaan" ini membuat saya jadi lebih baik.

Copyright © 2010 ParadoxParade | Free Blogger Templates by Splashy Templates | Layout by Atomic Website Templates