Ok..saya mungkin akan terbaca sangat sok tua dalam postingan kali ini. Yaa mau gimana lagi hehehe, karena saya memang jauh lebih tua dari golongan yang akan saya omongin kali ini. Kita mulai yuu..
Barusan saya baru pulang dari rumah sahabat saya, nganter hidangan lebaran. Dia anak rantau dan gak pernah mudik, dan dia pengen ketupat. Sambil dia menyantap ketupat bawaan saya, ngobrolah saya dengan dia. Intinya kami berdua ngeri sendiri dengan generasi sekarang. Sangat betul adanya yang dibilang para pengamat sosial dan para da'i, katanya ada krisis nilai saat ini. Saya sendiri sangat khawatir pada adik-adik disekitar saya. Ketika adik-adik dan anak-anak tumbuh dikelilingi berbagai teknologi yang memudahkan segalanya, maka menghilanglah berbagai proses belajar. Ini artinya, menghilang pula proses tempaan (besi kaleee). Mau tak mau, saya mesti membandingkan proses tumbuh kembang anak-anak sekarang dengan saya dulu. Jaman dulu, anak-anak tidak dihadapkan pada banyak pilihan, misalnya tv. Cuma ada tvri pada jaman saya kecil. Yaa untuk yang masa kecilnya ditemani tvri, anda tahu benar betapa baiknya tayangan tvri. Usia emas pertumbuhan saya sangat dipengaruhi oleh tvri. Yaaa secara ya boo, dampak televisi kan kuat banget tuh. Dan saya bersyukur saya besar di era TVRI. Kita masih melihat transfer nilai-nilai positif. Saya ingat, didepan tv setia menonton ACI (Aku Cinta Indonesia), atau jendela rumah kita, atau losmen yang walaupun masuk dalam kategori sinetron tapi saya dan mama saya masih bisa melihat ada bentuk tanggung jawab moral si pembuatnya. Kini? rupanya kapitalisme sudah benar-benar merasuk pada hampir semua program televisi terutama program bagi anak-anak dan remaja. Anda bisa lihat sendiri, apa yang nampak dari tayangan tv saat ini
Saya dan teman saya juga melihat ada perbedaan yang sangat jauh pada kualitas mental anak-anak sekarang. Anak sekarang lemah dan manja. Ini saya rasakan benar karena sejak beberapa tahun lalu, saya terlibat banyak dengan kaum muda. Saya pernah menjadi pembicara untuk sekelompok anak-anak pilihan dari semua sekolah di Bandung. Mereka semua peraih beasiswa dari salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Sebagian besar berasal dari keluarga miskin. Diruangan itu saya bisa bernapas lega, karena masih ada anak-anak yang pada mereka saya bisa berharap. Tapi berapa banyak yang seperti mereka? saya yakin, jika ada sebuah riset yang mengelompokan kecendrungan pada anak muda, yang terbanyak pasti pengikutnya cinta laura dan siapapun itulah aktris-aktor remaja masa kini bentukan dinasti dari India yang memulai pengrusakan mental bangsa dengan semua produk mereka. Rupanya mengikuti trend, menghabiskan uang orangtua, dan berhura-hura lebih menarik bagi kebanyakan kaum muda sekarang. Belajar dari kerasnya hidup sudah tidak menarik lagi.
Saya masih ingat dulu sejak saya kecil sampai remaja, orangtua saya tidak pernah dengan mudah memberikan apapun. Keinginan saya harus saya usahakan sendiri jika ingin dapat. Saya ingat ketika smp, saya harus memutar otak mencari cara untuk dapet uang halal demi bisa fotocopy bahan sekolah lebih banyak. Diumur segitu pun saya udah punya malu karena ngerepotin orangtua terus. Ketika sma, saya harus latihan vokal lebih tekun pada guru seni saya di sekolah karena saya pengen masuk jadi tim inti paduan suara dan vokal grup karena dengan begitu saya dibayar setiap ada job nyanyi dan berhasilah saya. Ini terbawa sampe kuliah, karena pas kuliah saya dapet uang lumayan dari nyanyi sehingga gak full minta uang orangtua. Dan sekarang, saya merasakan benar manfaat tempaan itu. Tempaan ketika kita tidak mendapatkan segalanya dengan mudah, tempaan cara didik orangtua saya yang ketika itu membuat saya manyun-manyun jijik. Karena mereka, saya jadi lebih menghargai uang, menghargai orangtua dan upayanya, dan terlebih lagi, saya jadi lebih menghargai hidup. Saya jadi kuat mental, tidak mudah menyerah, memiliki empati, dan yang pasti, saya lebih sehat karena banyak bergerak hehehe. Kondisi ini jelas sangat berbeda dengan anak-anak sekarang yang mau dapet sesuatu tinggal merengek minta orangtua. Dan sayangnya, pola didik para orangtua sekarang pun sudah berubah. Alih-alih mendidik anak untuk mengusahakan apa yang diinginkannya, orangtua malah dengan mudah memberikan apa yang anak mau. Dimana proses belajarnya? Bagaimana anak mau belajar menahan keinginannya jika ia tahu dengan merengek ia akan mendapatkan apa yang ia mau? Tidak sadarkah orangtua, bahwa pola didik macam itu akan berimplikasi pada perkembangan mental anak.
Saya melihat di sekitar saya, orangtua sekarang lemah. Mereka yang disetir sama anak. Makna "sayang" sudah berubah sekarang. Dalam benak orangtua saya, makna sayang berarti membuat anak jadi mandiri, cerdas, punya daya tahan menghadapi kenyataan. Tapi kini..sayang itu berarti memberikan semua yang diinginkan anak. Termasuk hp berfasilitas canggih padahal isinya cuma dimanfaatkan untuk motret muka sendiri. Ngasih ipod dengan tidak memberitahukan konsekuensi pake ipod saat di kendaraan. Memasang internet dirumah dengan tidak membekali anak dengan mindfilter, daaan lain-lain. Yaa yaa, saya melihat tekanan peergroup itu berat, tapi jika seseorang punya mental yang kuat, sebagaimanapun peergroupnya, ia punya kuasa untuk menolak jika dampak peergroup itu tidak baik.
Beberapa hari lalu, saya melihat beberapa pasang remaja usia smp sedang bercengkerama di daerah gelap depan kantor saya (kantor saya diruko yang kalo malem remang-remang pas buat berasyik masyuk gituu). Saya pun sempat-sempatnya mengintip. Mulai dari ciuman sampai melakukan gerakan lain yang lebih agresif. Waduh! pas saya seumur mereka, paling cuma tuker-tukeran surat cinta. Itupun bahasanya gak aduhai amat. Yaa seaduhai-aduhainya paling "4x4 = 16, sempat gak sempat mohon dibalas". Ketika itu, manalah berani saya ciciuman, petting, boro-boro intercourse. Selain takut sama Aloh, saya juga takut sama orangtua. Nah, ketika sekarang saya cukup dewasa untuk memilih, yaa saya lakukan apapun dengan sadar dan bertanggungjawab. Pake kondom! hahahaha! eee kok jadi kesitu. Aduh posting ini kalo diterusin bakal jadi esai 50 halaman, pokoknya intinya, saya dan sahabat saya sangat ngeri dengan perkembangan anak-anak sekarang, karena mereka besar didunia yang sudah tidak baik lagi. Kemudian saya dan sahabat saya sampai pada satu kesimpulan. Terkutuklah Raam Punjabi!!!!