Masih cerita tentang akhir-akhir ini. Kali ini tentang saya yang kok entah kenapa jadi tulalit
"yah,kalo di singapur itu ada musim dingin gak?"
setting : di tengah obrolan siang hari yang mendung
"Mbak Pop, ada telpon"
"Okeee"
dan sayapun berdiri dari kursi siaran menuju pintu keluar, masih dengan headphone ditelinga, dan masih gak sadar ketika itu headphone tercabut dari mixer
"Laper euuuy. Nasi udah mateng niih kayaknya"
"Bikinin nasi goreng dong yang"
"okeee.Nasi goreng dua!", melipir ke dapur, tak lama kemudian balik ke depan
"eheheheeheh"
"apa cengar cengir?" kata si suami
"tadi aku lupa nyetel magicomnya ke modul cook ehehehehe"
Asyeeem
"Haaai", itu saya yang menyapa penyiar sebelum jam siaran saya
"Hai mbak poop. Tadi kesini pake motor yaa", saya masih belum ngeuh.
"Iya. dianter siih"
Pas akan pake headphone, si headphone ngebentur sesuatu.Ternyata saya masih pake helm kedalem studio
Baiklah sodara-sodara senasib sepenanggungan, saat ini sudah jam setengah 1 pagi, angin dingin sudah meniup mencekam terasa oooh nyeriiii *penggemar zona lapanpuluhan pasti tau lirik ini*, saatnya saya pamiit. Sampai ketemu besok dalam Show hebooh dari Mama Puspaa, terassaaa dangdutnyaaa
Akhir-akhir ini entah kenapa sepertinya semua yang saya pikirkan dan ingin saya tulis tidak menemui ujungnya. Semuanya ngambang. Beberapa draft tulisanpun tidak saya selesaikan. Sepertinya ada salah satu atau mungkin salah dua simpul saraf yang putus atau kusut. Apa mungkin ini karena saya terlalu banyak mendengarkan dangdut?
So long
Acara pembacaan puisi barusan usai. Ia turun panggung dengan sedikit rasa nyeri di dada. Nyeri menjadi-jadi, ia memutuskan pulang. Segenap kesadarannya menginginkan ia berada di tempat itu. Disitulah dua pasang mata itu bertemu. Dua pasang mata milik dua anak manusia yang saling mencintai belasan tahun. Ia tahu itu saatnya. Nyeri di dadanya seperti menariknya makin jauh dari kesadaran. Ia limbung.
Pada pelukan itu ia pulang. Bukan pada istri, anak, bukan pula ibunda, tapi pada cinta sejatinya, tempat ia menitipkan hati.
Selamat jalan Mas Diwan
headshot
The ants go marching in
Udah dua bulanan ini, kami direpotkan sama yang namanya semut. Doooh itu semut segala spesies kok ya ada siiih di rumah saya. Semua berawal dari hujan yang sering turun di Jember ini. Itu semut-semut yang tadinya didalem tanah jadi eksodus kemana-mana. Daan karena rumah saya dikelilingi tanah kebun, rumah sayalah yang jadi sasaran pertama. Mereka dimana-mana! di kamar mandi, diatap, dapur bahkan pintu kulkas pun gak ketinggalan mereka rambatin.Iih bikin naek darrah! Apalagi beberapa spesies itu tergolong bangsanya semut api yang kalo gigit sakit banget, meninggalkan rasa panas dan bentol segede dosa *lebay*, dan saya yang paling sering menjadi korban gigitan *mungkin karena saya manis*.
Gong-nya kekesalan saya adalah ketika suatu hari bayi saya tiba-tiba menjerit lalu menangis padahal dia lagi tidur pules. Setelah diliat, ternyata seekor semut api menggigit pahanya. Ok! enough is enough! Setelah saya telusuri asal muasal si semut bisa nyampe ada di tempat tidur saya, ternyata para semut ini bersarang di dalem instalasi kabel di kamar kami dan di atap, sehingga mereka bisa terjun bebas aja gitu ke tempat tidur. Dooh kalo gini mah kapur semut gak berfungsi atuh euy, dan ngepetnya semut-semut dirumah saya ini, mereka gak mempan pake kapur semut. Saya pun mulai browsing mencari racun semut yang ampuh, eeeeh ketemulah sama page ini . Semua racun bisa anda dapetin disini. Mau ngeracun kecoa, tikus, semut, rayap atau selingkuhan suami? *ihihihih curcol yang ini mah* Membaca testimoninya sih okeeeh, saya pun mulai tanya-tanya ke ownernya, mbah yanuar yang siap sedia menjawab segala pertanyaan. Eh kayaknya ok ini racun semut yang bernama mirip nci-nci penjual sapu merang deket rumah saya. Saya pun beli 10 bungkus. dibawah ini tampang racunnya
gambar diambil dari sini
Racun yang wanginya disukai semut ini tinggal ditaburkan aja di jalur semut, tunggu sampe semut-semut itu bawa racun ke sarang mereka dan woala! semut -semut akan mati dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Canggihnya, racun ini menyerang sistem saraf semut sehingga semut lain yang mereka liat akan dianggap sebagai musuh. Hasilnya, mereka akan saling membunuh didalam sarang sehingga satu koloni mati pun hehehehe *ketawa setan*. Dan ini racun emang ampuh loh ternyata. Sekarang semut-semut gula yang didalem rumah udah gak ada jadi saya aman naro makanan dan minuman, terus semut api yang pada diem di dapur pun sudah menghilang, semut item yang di halaman belakang pun menghilang, tinggal semut api yang di atap kamar mandi yang belum saya racunin. Ok, saudara-saudara, sekianlah laporan saya dari TKP, saya melipir dulu yaa, sedang bersemangat membantai nih!! dadaaahhh
Satu setengah tahun sudah saya tidak bertemu dia. Selama ini komunikasi kami cuma lewat telepon dan facebook adek saya yang suka ia gunakan untuk chatting dengan saya. 3 hari yang lalu, dengan perasaan yang tidak karuan, saya menunggu ia di stasiun. Tak sabar melihat bagaimana ia sekarang. Kuruskah ia? Makin bertambahkah ubannya? Sehatkah ia?
Cuma butuh satu menit sampai pandangan kami bertemu. Dan disanalah ia, inspirasi terbesar dalam hidup saya. Orang yang padanya saya selalu bisa berkeluh kesah dan menangis tentang apa saja. Seorang sahabat, kakak, ayah dan mama yang siap sedia dengan dukungan dan kelembutannya yang selalu membuat saya merasa aman dan tidak merasa dihakimi. Ia disana, kurang dari lima meter untuk saya rengkuh, terlihat sehat, serba matching dan gaya dan ia tidak berubah, dengan Sorot mata yang hangat dan sapaan pertamanya "Uniii!", yang selalu saya rindukan. Ia disana, membuat saya berlinang air mata dengan jantung yang kembang kempis amat cepat.
Dan siang itu, akhirnya saya bisa memeluknya kembali. Merasakan kembali kehangatan ia yang memberikan 9 bulan penuh kasih dan cinta tak lekang waktu. Dan hari ini, ketika saya harus melepas ia kembali pulang, rasa sesak itu muncul lagi. sesak yang sangat berbeda dengan sesak ketika menyambutnya datang. Ini sesak yang menyisakan pilu sepanjang perjalanan pulang.
gambar dari sini
Dia lagi dia lagi
Dulu, saya pernah ngobrol dengan partner in crime saya, mbok darmi mengenai para pasangan muda yang baru menjadi orangtua, mmm lebih tepatnya teman kantor kami yang baru aja jadi orangtua. Langsung beda aja gitu romannya *tsaah romannyaa*. Para ortu baru ini seperti mendadak masuk ke dunia baru yang isinya Cuma obrolan soal anak. Mulai dari perkembangan anak, lucu-lucunya anak, kalo anak sakit, dan bla bla bla, ditambah hobi baru mereka yang masang foto anak mereka dimana-mana. Jujur, saya waktu itu rada mencemooh heheheheh. Ih apa sih, terdengar membosankan. Kita yang single juga jadi males deket-deket.
Sekarang..setelah saya menjadi orangtua, saya ngerti alasannya. Saya mengira proses kehamilan itu ajaib sangaat. Eh ternyata punya anak itu jauh lebih ajaib rasanya. Ketika anak saya, Kei, ditemplokin di perut saya sesaat setelah dia lahir, saat itulah semua dimulai. Melihat dia pertama kali, memegang kulitnya, merasakan kerapuhannya, membuat banyak hal berubah. Dia menyentuh hati saya. Oh tidak, bukan cuma itu, dia menyentuh hidup saya. Sejak itulah segala tentang anak saya menjadi seksi. Dan tidak perlu menunggu lama sampai dia mengambil alih pusat dunia. Dunia saya, dan ayahnya. Setiap detik perkembangannya adalah perjalanan yang tidak ingin kami lewatkan. Berlalu 11 hari dari 27 April, dia makin pintar mengambil alih hati orangtua dan neneknya. Ulahnya udah macem-macem. Ekspresi mukanya pun. Ini dia anak saya yang berumur 11 hari.
Harusnya sih dibikin kolase ini foto-foto, tapi malees hahaahha, jadilah begini apa adanya
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

