Dunia-akhirat

Kamis, 23 Oktober 2008

13 komentar
Haduh haduuuuuh saya berdebar-debar niiih. Mulai minggu depan, saya dan tim akan mulai menggarap project dunia akhirat hahahaha! Ya aloooh, jadikanlah ini penerangku di kubur nanti. Amiiin. Aduh kok jadi pengen ngakak ya baca doa sendiri, tapi ini serius kok aloh.


Tapi sekarang saya harus berkonsentrasi dulu untuk bikin jadwal produksi *cieeeee. Produksi anak kaleeee ahahahaha! *jadi pengen


Dasar manusia suka dramatis si saya ini, dalam kepala saya sudah ada potongan-potongan adegan si saya yang sedang sok gaya mengarahkan si siapa yang didepan kamera hahahaha, terus si saya yang sok serius dalam proses editing, si saya yang mulai manyun karena hari hujan sehingga tak bisa shooting. Edun lah semuanya hahah!


Ah aku deg-degan sekaligus senaaang. Ini seperti fantasy jadi nyata, walaupun dalam skala dan bentuk yang berbeda. Beberapa tahun lalu saya pernah menulis cerpen tentang seorang perempuan yang menjadi sutradara sebuah film indie tentang Semeru. Dan sekarang....ihihihihihih. Gaaak gaak, saya bukan akan membuat film indie kok hehehe. Siap-siap sodara-sodaraaaa, saya akan menyaingi Hanung Bramantyo, dengan film terbaru saya yang berjudul "JIKA SAMSON JADI DELILAH" krik krik krik krik. Garing yaa, emaang! haha untung itu cuma khayalan.

Jadii mohon doanya yaaaa, kalo saya terkenal, saya pasti gak lupa ngasih tanda tangan. Dan siapin aja kamera anda yaa, siapa tau di jalan ketemu saya HAHAHAHAHAHA! yuu mariii

Ia Saminem....

Selasa, 21 Oktober 2008

15 komentar
Suatu hari di tahun 1965...


Ia Saminem. Perempuan jawa, tak bisa baca, rentan jadi janda, punya anak beberapa.


Telah puluhan tahun ia hidup di tiga masa sulit negeri ini. Jaman belanda, jaman jepang dan masa pemberontakan PKI (belum ditambah dengan masa sulit setelah tahun 65). Dulu, saminem pemudi impian pemuda. Tubuhnya yang tinggi sintal, kulit kuning langsat, payudara penuh, pinggul besar, indah pakai kebaya, pastilah membuat ia menjadi incaran para jejaka dan duda, karena saminem punya semua kriteria perempuan cantik pada masanya. Sebutlah berbagai istilah pujangga lama serupa alis bak semut beriring, dagu bak lebah bergayut, dan berbagai idiom lain, semua ada di saminem.


Dari jawa, saminem hijrah ke Bandung, namun tak juga menemukan kehidupan yang lebih baik. Terpisah dari suami, dan harus membesarkan 6 anak, ia tak punya waktu untuk menjadi lemah. Apalagi ketika itu jaman perang. Pernah suatu kali Saminem harus menyeberang sungai membawa semua anaknya, dan berendam disitu sampai keadaan aman. Ketika keluar dari air, beberapa lintah sudah menempel dengan aduhai, semula kurus menjadi gemuk oleh darah.


Ooo ini yang menjadi alasan mengapa di sekujur betis saminem ada beberapa bekas luka yang mengerut. Bayangkan saja suasana ketika itu. Ketika kau bisa mati kapan saja ditebas golok, atau ketika kau kira aman kemudian kau keluar dari persembunyian, namun kau roboh beberapa detik kemudian dengan lobang peluru di kepala dan meninggalkan anak-anakmu yang dalam sekejap jadi yatim. Iya, itulah jaman perang, sodara-sodara. tak sedikitpun bisa terbayang betapa mengerikannya saat itu. Dan saminem menjadi bagiannya. Menjadi satu diantara jutaan perempuan dan anak-anak korban perang.


Suatu hari, saminem habis dapat uang dari temannya, dan ia punya kebiasaan menraktir anak-anaknya makan di warung nasi, ketika ia punya uang lebih. Makanlah mereka di warung nasi pinggir pasar. Saminem dan dua anaknya yang masih kecil, diantaranya si anak rambut merah. Ketika makan, ada segerombolan orang menuju pasar sambil teriak-teriak mengacungkan golok, clurit dan arit. Mimik mereka seperti sedang mencari, orang mana yang akan mereka bantai hari itu. Dengan sigap, saminem menarik kedua anaknya dan menaikkan mereka kedalam beca. Mamang beca yang juga ikut ketakutan mengayuh becak dengan emosional, ingin cepat pergi dari situ, karena hanya ada dua kemungkinan yang terjadi jika ia masih disitu. Mati jadi korban atau menyaksikan pembantaian. Mamang becak, saminem dan kedua anaknya selamat.


Kepedihan akibat perang terus berlanjut. Saminem kembali menjalani harinya. Tidak ada waktu untuk menangis, untuk menjadi lemah. Demi dapat uang untuk hidup, ia berjualan lotek. Pagi buta ia sudah kepasar, membawa puluhan kilo sayuran karena lotek buatannya laku luar biasa. Para serdadu suka loteknya. Para tukang beca ketagihan lotek saminem. Rasa enak, harga murah, ay beli.


Dengan lotek itu pula saminem menghidupi keenam anaknya. Saminem dan enam anaknya selalu berbagi. Hidup pun harus sangat irit, karena memang tak punya apapun untuk dihamburkan. Makan malam dengan segelas beras yang kemudian dibuat bubur amat encer sehingga cukup untuk 7 orang adalah hal biasa. Jika bubur encer jadi makanan utama, jangan tanya soal lauknya. Hanya setahun sekali, anak-anak saminem bisa makan daging.


Diantara 6 anak saminem, ada seorang anak perempuan yang kuatnya sudah terlihat dari kecil. Mungkin karena sudah terbiasa lari menyelamatkan diri dan sembunyi di tempat-tempat yang sulit ditemukan. Anak itu berambut merah tanda kurang gizi, kurus, jarang mandi, baju dekil dan itu-itu saja karena ia hanya punya dua stel, tapi ia super pede dan amat lincah. Suatu hari, tibalah saatnya anak rambut merah bisa sekolah. Itupun bukan dibiayai oleh saminem, melainkan oleh sodara jauh yang ningrat kaya.


Si anak rambut merah ini hanya punya dua seragam yang dicuci dua bulan sekali. Ibunya terlalu sibuk jualan sampai ia tak sempat mencuci. Hari ini pakai seragam A, kemudian pulang sekolah seragam dilempar ke kolong kasur. Besoknya, pakai seragam b. Besoknya lagi, lempar seragam b ke kolong kasur dan ambil seragam A untuk dipakai. Begitu seterusnya. Tidak aneh jika si rambut merah dibilang jorok. Sudah jorok, kelaparan pula. Para tetangga yang keadaannya lebih baik dari saminem dan keluarga, kerap kali mengejek si rambut merah dengan sebuah kalimat yang dinyanyikan "Roti kabakaraaan, si tuti kalaparaaan"*. Nah, anda jadi tau kan siapa nama si rambut merah.


Kini saminem sudah meninggal. Ia meninggal membawa kekuatannya. Ia yang tak pernah sakit parah, tidak punya penyakit jantung, diabetes, ginjal atau kolesterol, menutup mata di usia 93 tahun. Dimakamkan satu liang dengan suaminya yang meninggal puluhan tahun lalu sehingga saminem jadi janda sejak muda. Saminem adalah mbah saya tercinta namun rasis itu, dan si anak rambut merah itu adalah ibu saya :)


Roti kabakaran, si tuti kalaparan"* = Roti kebakaran, si tuti kelaparan

Kepada The Mirath

Kamis, 16 Oktober 2008

12 komentar
Siang tadi saya menghadiri peluncuran buku dan cd Dewi "dee" Lestari, "recto verso". Saya ingat sebuah kalimat dee, yang kurang lebih artinya, ia lebih suka menggambarkan sesuatu dengan bahasa yang bercerita dan tidak klise. Contohnya, ketika dee menunjuk pada seseorang yang terkena flu, ia katakan, orang itu berkali-kali mengambil selembar saputangan dari sakunya dan bla..blaa. Seketika saya berpikir, o iya ya, kok gak kepikiran sih sama saya? oh, alasannya cuma satu, saya belum se"kaya" dee. Kalimat dee sangat membekas di ingatan saya, mengingat menggambarkan sesuatu dengan bahasa yang begitu bertutur dan imajinatif, dengan pilihan kata yang tidak klise adalah kelemahan saya. Masih harus banyak belajar si saya ini. Tapi kemudian saya ingat salah satu blog seorang kawan yang saya pernah satu kali saya temui, dan sisanya, saya kenal ia di dunia maya, dan membaca tulisan-tulisannya. Saya suka. Saya menemui keberbedaan dalam tulisannya. Sebuah sinisme yang segar. Sebuah pusaran multidimensi yang kadangkala pahit, kadangkala manis, kadangkala corny, kadangkala galak, juga kadangkala amat santun. Suatu kali ia pernah bertanya, "lu suka gw nulis kayak gimana?". Keluar sebuah jawaban dari saya yang saya pun sudah lupa. Sebetulnya tidak perlu ia bertanya itu karena saya yakin ia telah menentukan pilihan. Ia yang dengan cerdas bisa menggambarkan ketakutan akan gelap dengan bahasa yang sastrawi, tidak perlu ingin tau ingin bagaimana orang pada tulisannya. Dan siang tadi, dalam hati saya berseru, woi son! iraha maneh nyieun buku?!*


kepada the mirath, saya sangat berharap kebesaran kepalamu itu tidak serius. Yaa yaa, saya tau semua orang butuh apresiasi baik, dan itu akan otomatis kamu dapatkan ketika menghasilkan karya yang bagus. Tak usahlah kau macam Indra Bekti yang gandrung sekali dielu-elukan. Cukuplah kau menulis saja, dan orang akan memujimu. Cukuplah kau buat orang sayang pada "bayi" yang lahir dari jiwamu, dan kau akan tersenyum dengan bahagia kala menemukan tulisan-tulisan seperti yang saya tulis ini, dengan pujian yang tulus karena kami percaya. Percaya pada pikiranmu


*iraha maneh nyieun buku?! = kapan kamu membuat buku?!

Happy & Cheerfull

Selasa, 14 Oktober 2008

16 komentar
Peringatan : kutipan percakapan dibawah disebut vulgar oleh sebagian kalangan. Jadi untuk anda yang suka emosi dengan pembicaraan soal kelamin, mending jangan lanjutin baca deh, nanti situ jadi marah-marah dan mulai bicara soal sensor, etika, moral, dsb. Kalo mau marah-marah, baca blog lain aja ya darleng.

Ini salah satu percakapan dodol saya dengan sahabat saya ami, kemaren sore saat kami sedang sama-sama jenuh dengan pekerjaan. Enjoy...


popi: Nyet, knp sih penis dinamain mr happy? apakah itu berarti mister yg bs bikin happy?
Amingwati: no, karena when your guy is happy, baru dia bisa bangun, haha
popi: eee gak begitu jg nyet. lu kira knp kl laki strees dia mlh pgn ml
Amingwati: bukan happy yg itu
Amingwati: "happy" as in "horny" hauhauuhahua
popi: lalu knp vagina dsbt miss cheerfull?
Amingwati: because intercourse makes you cheerful. "cheerful" as in "horny" hahaha
popi: ooo gituuuu
Amingwati: ketauan deh suka baca cosmopolitan bagian sex and lust.. hihi
popi: ihihihi. gw mah bacanya mangle
Amingwati: hihihi. yang kantornya di deket buah batu
popi: nyet, lu bisa bayangin gak perasaan orang yang lagi having sex trs digerebk?
Amingwati: -krik krik krik
Amingwati: hmmphjhh
popi: krok krok krok
Amingwati: huaaaa. parno nyet. mr happy langsung loyo deh
Amingwati: jamin
popi: mending kalo gitu, kalo gancet gimana nyet?
Amingwati: UHAUHAUHAUHUHAUHAHUAUHHUAUAUAUHUHAUHAUHAHUAUH
Amingwati: popi iiiihhhh
Amingwati: kepikiran, uahuahuauaa
popi: guwe gitu looo, soal mikir yang out of the box mah paling bakat dah. boo, orang gancet itu bisa sampe mati lo
popi: vagina itu emang hebat ya nyet
popi: bisa bikin happy sekaligus bikin mati
popi: anjis itu keren banget kata2 gw
Amingwati: anjis
Amingwati: pol
popi: tuh gw jadiin status ym hahahaha
Amingwati: huahuha
popi: kalo ada yang nanya, gw jawab "vagina"
Amingwati: anjis, uhahuauhauha
popi: hahahahaha, no further answer

emaaak! tolong akyuu

Senin, 13 Oktober 2008

8 komentar
Aduuuh puhlis deeeeh, lagi pengen ngeluh, gak papa kaaan


- Macet ide! kurang produktif bikin storyboard nih

- Dubbernya pada suseeeeeeeeeh kalo disuruh take vokal. Tiga dubber andalan pun susaah! yang satu dateng pagi banget. Yang satu cuma bisa dateng malem (padahal dulu waktu masih punya pacar temen sekantor, mmm semangat banget dianya dateng kapan aja!), buat mantan pacar si dubber andalan gw ini, tanggung jawab lo!! HAHAHAHAHAHAH!!!. Yang satu suka rada bete kalo disuruh take vokal di sela siaran. Ngerti sih, pasti gak nyaman kalo diganggu pas siaran, tapi kamyu salah satu dubber andalankyuu.

pengen bilang...Aduh puhlis deh, masa gw mesti ada di kantor dari jam 6 pagi - 9 malem! kalian pikir gw gak punya kehidupan apa!!! emang segede apa siiih radio ini ngebayar guweeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee?!!


- Penyiar disini makin berkurang aja! yang pas buat narator sama dubber yang bisa menjiwai karakter cuma dikit pula! harusnya semuaaaa, namanya juga penyiar, gak beda sama aktor dan aktris. Masa berakting lewat suara aja gak bisa siiih. Masa saya lagi saya lagi siiih yang ngisi suara, nanti jadi radio saya fm doong. To Riri Riza, pilihlah aku jadi artismu *dinyanyikan dengan irama lagu krisdayanti-pilihlah aku

- Ya aloooh, pertemukan aku dengan calon-calon dubber berbakat dooongs. Pliiisss

Bisakah?

Rabu, 08 Oktober 2008

15 komentar
Jika ditanya, siapa orang yang mentalnya paling kuat? sudah pasti jawabannya orang miskin atau orang yang pernah miskin. Kemiskinan dengan segala spektrumnya memberikan banyak sekali pelajaran hidup. Ada sebuah joke sarkas yang pernah saya dengar di lingkungan para aktivis "ah kalo para aktivisnya sendiri belum pernah ngerasain miskin, jangan harap bisa membela kaum miskin dengan sepenuh hati. Paling cuma retorika aja. Atau mereka dibayar mahal oleh NGO".

Bicara soal kemiskinan memang susah-susah gampang. Untuk mengertinya, kita memang harus merasakan sendiri. Jadi bullshit lah itu yang dibilang Jusuf Kalla bahwa dia mengerti penderitaan rakyat, wong dia born rich. Saya jadi ingat pengalaman masa kecil saya. Dulu saya memang miskin (sekarang pun masih, tapi sudah jauh berkurang hahaha). Ibu, saya dan adik tinggal di sebuah rumah tua dengan satu kamar. Hanya kuasa tuhan saja yang membuat rumah itu belum ambruk. kira-kira sepertiga atap rumah saya waktu itu menganga dengan manisnya.

Bisa dibayangkan, ketika hujan, semua air hujan masuk rumah, alhasil kami bertiga sibuk gila mencari wadah apapun yang bisa menampung air hujan agar rumah kami tidak banjir. Tidak cuma itu, ketika malam menjelang, selain udara malam yang menerpa kami yang ada didalamnya, para binatang malam seperti kelelawar, burung, dan kecoa pun dengan bebasnya masuk rumah. Tapi dasar anak-anak, semua konsekuensi kemiskinan ini jadi hiburan bagi saya dan adik. Saya masih ingat, setiap selasa malam dan kamis malam, itu musim kawinnya kecoa. Ada beberapa kecoa yang terbang dan loncat indah disemua bagian rumah kami. Kecoa satu glebeeerrrr! dilanjutkan kecoa dua glebeeerrr! kecoa tiga pun tak mau kalah. Itu mereka disana kecoa-kecoa hitam panjang dengan libido yang udah nyampe ubun-ubun terbang-terbang memikat sang betina. Sungguh aktivitas yang bikin kami bertiga ketakutan. Kurang ajar! padahal badan kami lebih besar, kok takut ya? Dan kenapa juga rumah kami yang dipilih untuk arena kawin?! tapi...dibalik ketakutan itu, kami punya aktivitas yang menyenangkan. Menghindari templokan kecoa! yippiiii!! Kami lari kesana kemari, berbekal apapun saja yang bisa menepak para kecoa, dan ditengah-tengah pelarian itu, kami tertawa-tawa, karena memang aktivitas itu menyenangkan. Itu membuat kami lebih dekat.

Belum lagi, konsekuensi kemiskinan lainnya, ketika semua hal harus kami bagi. Terutama makanan. Sudah tidak aneh, satu roti dibagi tiga, atau dibagi dua dengan adik saya, dan saya dapat bagian yang lebih sedikit. Kata mama karena saya kakak, jadi harus mengalah. Menjadi miskin bagi saya tidak terlalu buruk. Yaa mungkin karena saya pun berada pada level kemiskinan yang tidak terlalu parah. Walaupun keterbatasan menjadi kawan akrab. Sejak kecil, saya sudah belajar menahan keinginan. Waktu SD, saya harus pulang jalan kaki karena tak punya cukup uang untuk ongkos, atau kalo saya lagi gak enak badan, saya naik angkot tapi saya jadi kriminil juga (maaf pada semua pak sopir korban saya). Saya nyetop angkot yang agak penuh, pas turun saya bilang "Pak! ongkosnya dibelakang!" lalu ngacir sambil nyengir. Keterbatasan itu tidak menyiksa kok asal kita anggap itu menyenangkan. Setiap kali hujan, saya buka sepatu, saya ikatkan kedua sepatu saya lalu saya kalungi. Saya hujan-hujanan dengan telanjang kaki. Berkecipak-kecipak di genangan air, kadangkala sambil berendam hehehehehe. Tidak takut kotor, tidak takut sakit. Hey! saya kan anak miskin, manalah anak miskin punya takut. Mati pun tak takut, karena kami tak punya apa-apa. Hujan-hujanan dan bermain dengan genangan air itu menyenangkan! Membiarkan semua rintik hujan menyentuh wajah dan mendengarkan bunyi rintik jatuh ke tanah itu rasa yang luar biasa. nah, anda semua yang waktu kecilnya kemana-mana naik becak atau naik mobil pasti gak pernah kan ngerasain itu?

Menjadi miskin juga membuat kita "kaya". Menyadari kami tidak punya uang untuk mengursuskan saya bahasa inggris, mama pun menjadi pengajar saya. Beruntung, saat sekolah dulu ia termasuk anak yang suka menyimak pelajaran bahasa inggris. Semua benda-benda yang ada didalam rumah ia ajarkan saya bahasa inggrisnya, pun dengan segala sesuatu diluar rumah saya. Dan di umur 4 tahun, saya sudah menguasai ratusan kosakata bahasa inggris (itu luar biasa untuk anak-anak di jaman saya).

Semua benda adalah objek menarik untuk belajar. Mama saya membuat itu menarik. Mama juga mengajari saya matematika praktis. Dan ini membuat saya lebih pintar dari anak-anak seumur saya. Mama pun melihat saya sudah layak masuk sekolah. Dan ternyata, dengan bantuan mantan guru mama saya waktu sd, mulailah saya masuk sd di usia kurang dari 5 taun dan saya jadi anak termuda di kelas. Semua alat belajar saya, mama buat dari benda-benda sekitar. Jika waktu itu, teman-teman saya pake cipoah, saya pake lidi. Sapu lidi mbah saya abis terus tuh saya pake buat alat hitung hehehe. Cuma saya satu-satunya yang membawa sebundel lidi sebagai gantinya cipoah. Tapi ini justru membuat logika saya terasah.

Menjadi miskin juga membuat kita sangat bertoleransi. Bertoleransi dengan rasa lapar, sekaligus bertoleransi dengan keinginan. Sudah biasa bagi saya makan sup daun kelor yang diambil dari belakang rumah. Atau tumis daun katuk yang dipetik dari kebun sendiri. Saya masih ingat, pagi-pagi saya grasak grusuk diantara pohon waluh yang merambat. Apalagi kalau bukan untuk memetik waluh. Tidak takut ulat, tidak takut ular pohon yang warnanya sama dengan dahan waluh, tidak takut apapun. Saya cuma ingin dapat waluh besar-besar untuk kami makan. Dan aktivitas cari lauk untuk makan ini saya anggap bermain. Yaaa, apalagi yang bisa dilakukan oleh anak miskin selain menganggap hidup ini lahan bermain. Tapi kemudian uang masuk dalam hidup kami. Ketika mama saya mulai mapan, punya pekerjaan dan naik jabatan terus, hidup jadi tidak terlalu menyenangkan. Bukan kami tidak bersyukur karena punya uang dan bukan pula kami ingin kembali miskin, tapi..lama-lama uang jadi hal yang amat penting. Bisa gak ya kita bilang cukup pada uang?

Ahhh

Senin, 06 Oktober 2008

13 komentar


Setahun lalu, ketika saya kebagian jadwal siaran jam 6 pagi, harus berkoar-koar gila kala orang masih tidur, saya ngeluh. Sempat manyun-manyun pula karena saya manusia yang susaaah banget bangun pagi. Ah ini sih karma namanya. Saya pun lebih dari sekedar manyun manakala saya nanya alesan saya ditempati di pagi, ke station manager saya. Katanya "biar kamu terbiasa bangun pagi, kalo nanti jadi ibu rumah tangga". What the fuck?! ih bukan alesan yang mumpuni ih! mulia sih niatnya, tapi kenapa mesti ituuuuuuu! tapi kemudian dia bilang juga "hehehehe, gak deeng, sebenernya karena kamu yang mampu jadi trainer anak baru yang akan ditempatkan jadi pasangan kamu". Sedaaap! alesan gini nih yang saya demen hahaha! Nah setelah setaun ini bangun jam 5 pagi, hari ini saya dipindah lagi ke malem. Tepatnya jam 6 sore sampe jam 9 malem. Dan saya pun kembali manyun. Ih saya doyan manyun ya hehehe. Soalnya nih soalnyaa, waktu kemaren siaran pagi kemudian dilanjutkan dengan kerja produser, saya kan pulang jam 5 sore. Nyampe rumah kurang dari s
etengah 6 dan saya masih punya waktu buat melakukan banyak hal, terutama nonton DVD. Berasa banyak banget waktu santai saya ketika itu. Nah ketika sekarang saya baru nyampe rumah jam setengah 10 malem ya iyalah manyun. Artinya, waktu santai saya dan waktu nonton dvd terancam punah! argh!

Tapi ya tapi..menurut sahabat saya Rhonda Ami Byrne, berpikirlah positif. Oke Ibu Tung Ami, saya akan berpikir positif. Siaran malem dalam beberapa hal emang menyenangkan. Saya bisa muterin lagu-lagu jazzy dan lagu-lagu easy listening yang kejamanan sama saya heheh, mood siaran juga jadi romantis romantis gimanaa gitu mengingat studio siaran itu lampunya remang-remang asik romantis, suara saya juga katanya makin keluar aja auranya hahahahaha soalnya banyak yang bilang suara saya emang suara buat siaran malem (ih berasa jadi Jupe deh gw), dan para penggemar saya juga emang gentayangannya kalo malem. Ha? hahahahaha!. Jadiii sebenernya siaran malem gak jelek-jelek amat siiih. Saya hanya kehilangan waktu
waktu teteleponan sama si cintah, kehilangan waktu nonton dvd saya, kehilangan waktu nonton bioskop saya, kehilangan waktu kumpul saya bersama keluarga, dan yang paling penting, saya kehilangan me-time saya. Damn! oke! berpikir positiif, positiiif, positiiif. Ya! mari kita jalani hidup dengan semangaaat!!!


ada yang mau request lagu? anyone?

Copyright © 2010 ParadoxParade | Free Blogger Templates by Splashy Templates | Layout by Atomic Website Templates